Melindungi Anak Layaknya Helikopter

Setiap orang tua pasti menyayangi, selalu ingin memperhatikan, dan melindungi buah hatinya. Bahkan, terkadang berlebihan dan bersikap seperti helikopter yang selalu melayang-layang di dekat anak. Sikap ini dikenal dengan helicopter parenting.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Istilah helicopter parenting masih terdengar awam di telinga masyarakat. Namun, secara tak disadari banyak dilakukan para orang tua. Psikolog D. Islamiyah, M.Psi menjelaskan helicopter parenting adalah pola pengasuhan orang tua dimana mereka sangat memperhatikan dan melindungi anak.  Bersikap layaknya helikopter yang seakan-akan selalu melayang-layang dekat dengan anak untuk memperhatikannya.

“Pola asuh ini banyak juga diterapkan di Indonesia. Disini, pola asuh helicopter parenting dikenal dengan overprotective parenting,” ujar Islamiyah.

D.Islamiyah // Psikolog

Orang tua khususnya ibu memang terkadang rasa khawatir yang berlebih dalam mengurus si kecil. Akhirnya, tak membiarkan anak belajar melakukan aktivitas sederhana, seperti makan, mandi dan memakai baju sendiri.  Pada usia balita misalnya, ibu selalu mengikuti tiap gerak-gerik anak karena takut ia terjatuh atau mengambil benda di lantai.  Ketika anak salah menjawab soal pada tugas rumah atau PR yang diberikan, ibu akan mengerjakan ulang PR tersebut.

Islamiyah tak menampik banyak orang tua yang memilih menerapkan pola asuh helicopter parenting. Dikarenakan secara umum mereka sangat menyayangi anaknya.

“Orang tua mana yang tak ingin mencurahkan kasih sayang secara maksimal kepada anak,” katanya.

Penerapan pola asuh ini juga membuat jalinan hubungan emosional yang sangat dekat antara anak dan orangtua. Anak merasa disayangi dan diperhatikan dengan baik oleh keluarga.

Namun, bila hal itu dilakukan secara berlebihan tentu akan berdampak negatif terhadap perkembangan kepribadian anak, termasuk ketika ia dewasa.

“Pada akhirnya dampak negatif yang timbul adalah anak jadi sulit untuk mandiri, kurang mampu memecahkan masalah. Rasa percaya diri sulit bekembang serta memiliki ketahanan mentalnya lemah. Karena selama proses perkembangannya selalu dibayangi orang tua,” jelas Islamiyah.

Dia menambahkan anak juga bisa menjadi pribadi yang terlalu bergantung pada orang tua dan sulit mengambil keputusan. Tidak mampu memecahkan masalah dan rasa kepercayaan diri yang tak berkembang secara optimal sesuai dengan usianya.

Islamiyah menuturkan pemberian psikoedukasi pada orang tua (keluarga) sangat penting guna menanamkan pengetahuan tentang pola asuh, serta dampak dari pola asuh yang kurang tepat. Nantinya diharapkan dapat mengubah serta memperbaiki cara pandang orang tua.”Sehingga, sistem dalam keluarga tersebut dapat berjalan dengan baik,” tuturnya.

Dia juga menyarankan orang tua untuk mencari tahu, belajar, dan berkonsultasi sebelum menerapkan pola asuh tertentu pada buah hatinya. “Supaya dapat menerapkan pola asuh yang tepat. Tetap harus melihat baik dan buruk sebelum menerapkannya,” ungkapnya.**

Dampak Negatif Pola Asuh Helikopter                           

Jika dibiarkan terus-menerus, pola asuh orang tua helikopter bisa berdampak negatif untuk anak. Seperti dilansir dari Alodokter berikut ini.

  • Sulit untuk menyelesaikan masalah

Menurut penelitian, anak yang diasuh dengan pola asuh orang tua helikopter cenderung memiliki kesulitan ketika menyelesaikan masalahnya sendiri. Khususnya dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di lingkungan sekolah.

  • Selalu tergantung pada orang lain dan tidak mandiri

Apabila orang tua selalu membangunkan anak di pagi hari untuk sekolah dan menyiapkan semua kebutuhannya, termasuk membereskan tas sekolah, anak tidak akan belajar untuk mandiri. Padahal, ada saatnya nanti anak tidak tinggal dengan orang tua lagi dan mau tidak mau ia harus bisa mengurus dirinya sendiri.

  • Sulit mengendalikan emosi

Pola asuh orang tua helikopter dapat meningkatkan risiko anak sulit untuk mengendalikan emosi. Hal inilah yang kemudian juga membuat anak mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dengan teman-temannya.

  • Tidak percaya diri

Pola asuh helikopter dapat membuat anak menjadi tidak percaya diri. Hal ini disebabkan oleh rasa tidak percaya orang tua terhadap kemampuan anak dalam melakukan suatu hal, sehingga anak juga menjadi tidak percaya akan kemampuannya sendiri. Selain itu, anak yang mengalami pola asuh helikopter memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi. **

Menghindari Sikap Overprotektif

Psikolog D. Islamiyah membagikan beberapa tips yang bisa orang tua lakukan agar terhindar dari pola pengasuhan helicopter parenting atau overprotective parenting.

  • Berikan bantuan secukupnya

Saat anak mengalami kesulitan, orang tua boleh memberikan bantuan secukupnya. Ajak anak untuk berdiskusi dan dorong mereka untuk mencari solusi dari masalah yang sedang dihadapi.

  • Kendalikan rasa khawatir

Coba kendalikan rasa khawatir yang berlebihan. Khawatir pada anak boleh saja dan sangat wajar, tapi jangan sampai terlalu membatasi aktivitasnya. Karena dengan membatasi kegiatan mereka secara berlebihan dapat menghambat kreativitas pada anak.

  • Biarkan anak

Biarkan akan melakukan kegiatan sendiri, namun tetap mengawasi dengan baik. Dengan cara ini, anak bisa lebih mandiri dan mengerti tanggung jawabnya.

  • Hargai keputusan dan usaha

Hargai keputusan dan usaha anak dalam berbagai hal. Jika memang dirasa kurang baik, tak ada salahnya orang tua bantu mengarahkan dengan memberikan alasan-alasan yang masuk akal.(ghe)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!