Melinting, Fenomena Baru Merokok di Pontianak

TEMBAKAU: Julius Riyanto Hendro berada di tokonya yang menjual aneka jenis tembakau, Senin (3/7). Kini, anak-anak muda pun senang merokok tembakau linting. ARIS MUNANDAR/PONTIANAK POST

Menikmati Tembakau di Tengah Naiknya Harga Rokok

Jari-jari tangan Julius Riyanto Hendro telaten memasukkan tembakau ke alat linting. Tak sampai semenit, sebatang rokok sudah hadir. Menurut pemilik toko tembakau tradisional di Jalan Tani Makmur, Pontianak Selatan ini, rokok hasil lintingan adalah karya seni.

—–

Yus, panggilan karibnya, memang pintar melihat peluang. Rokok linting yang dulu identik dengan orang tua, sekarang juga sudah dikonsumsi anak muda. Ia juga melihat adanya potensi pasar saat perokok merasa keberatan dengan harga rokok konvensional dan beralih mencari harga rokok yang lebih murah.

“Ada yang awalnya mencoba dulu. Sebelum bisa melinting, mereka pakai rokok warung dulu. Tapi kalau sudah bisa melinting, mereka beralih ke tembakau ini,” katanya.

Tentu tak hanya tembakau yang Yus jual. Ada pula alat pelengkap lainnya seperti alat linting, baik yang kecil atau besar, kertas rokok, filter, lem, cangklok, sampai kaleng seng tempat menyimpan tembakau.

Ia bercerita tentang tokonya yang baru jalan dua bulan. Serta alasannya mendirikan toko yang menjual tembakau. “Awalnya ditawari teman. Di Jawa juga katanya lagi tren,” katanya, Senin (3/8)

Ia mencoba membandingkan rasa rokok linting dengan rokok konvensional. Ia berakhir di satu kesimpulan. “Rasa sih. Tembakau di tiap daerah berbeda, begitu juga cita rasanya. Jadi rokok lintingan ini masih ada ciri khasnya,” ujarnya.

Menyikapi stigma negatif bagi para penikmat rokok linting yang selalu disangka mengisap ganja, Yus pun menjawab. “Tembakau yang kita ambil dari daerah selalu melewati lab untuk dicek kandungannya. Begitu lolos uji lab, dikarantina lagi oleh Dinas Pertanian biasanya. Baru setelah itu sampai ke tangan kami,” jelasnya.

Yus suka mengamati pilihan jenis tembakau oleh pelanggannya. Hingga ia membaginya menjadi dua golongan. Kalangan tua dan kalangan muda. Katanya, orang tua lebih suka tembakau yang sudah dicampur cengkeh. Sedangkan yang muda lebih suka tembakau yang memiliki cita rasa buah. “Kadang ada juga yang mencari tembakau murni. Ada juga yang mencari kemenyan untuk menambah aroma di rokok lintingnya,” tambahnya.

Ia mencoba mengenalkan tembakau murni dari berbagai daerah. Ia menyebutkan beragam jenis tembakau tradisional yang ingin ia kenalkan, sepertibantarujeg, darmawangi, virginia, gayo dan paiton.

Ivan Gian (27) adalah pelanggan Yus. Ivan terbilang pendatang baru penikmat rokok linting. Tepatnya baru tiga minggu. Meskipun rokok linting sekarang menjadi pilihan utamanya, namun tetap perlu momen khusus untuk menikmati rokok ini.

“Kadang kalau di warung kopi, agak susah melinting. Bukan hanya karena sulit karena tembakaunya berjatuhan. Tetapi juga kadang orang ngeliat kite seakan-akan sedang melinting ganja,” ucapnya sambil tertawa, Senin (3/8).

Ia mengaku menyenangi rokok linting lantaran cita rasanya yang bisa diatur sendiri. Ivan sering bereksperimen mencampurkan tembakau dari berbagai jenis untuk menemukan cita rasa yang cocok dengan seleranya.

Setali tiga uang dengan Ivan, Ari Kusnadi (26) juga mengaku beralih dari rokok konvensional ke rokok linting sebulan belakangan. Konsumsi rokok hariannya bisa sampai dua bungkus. “Pernah mencoba beralih ke vape biar konsumsi rokok gak terlalu banyak. Rokok sekarang mahal. Cuma pakai vape gak betah,” katanya (3/8).

Namun ia tak benar-benar meninggalkan rokok konvensional. Saat sibuk, ia kembali ke rokok konvensional karena alasan kepraktisan. Padahal, menurutnya rokok linting lebih ramah di kantong. “Kalau rokok linting yang perbungkusnya 20 ribu, bisa empat hari saya ngisapnya,” aku pria yang bekerja sebagai sales di bidang industri makanan ringan ini. (Aris Munandar)

 

error: Content is protected !!