Memaknai Kemerdekaan Indonesia ke-75 di Tengah Covid-19

opini pontianak post

Oleh: Harjani Hefni

BulanAgustus 75 tahun yang lalu, setelah melewati perjuangan panjang dan tak kenal lelah, bangsa Indonesia akhirnya berhasil memulai hidup baru; hidup sebagai bangsa merdeka dan menghirup udara kebebasan; lepas dari pengapnya kungkungan kerakusan, keserakahan, kesombongan, dan penindasan penjajah yang telah bercokol dan mengangkangi negeri ini selama tiga abad lebih.
Semangat perlawanan anak bangsa yang didominasi oleh kaum muda saat itu sangat kental dengan nilai-nilai religius. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, peletak dasar konstitusi negeri ini secara eksplisit menyatakan bahwa anugerah kemerdekaan Indonesia adalah berkat rahmat Allah swt. Sadar bahwa kemerdekaan adalah anugerah Allah swt, dengan langkah yang mantap, pada tanggal 22 Juni 1945 tim 9 yang terdiri dari Soekarno, Mohammad Hatta, Achmad Soebardjo, M. Yamin, Wahid Hasyim, Abdoel Kahar Moezakir, Abikusno, Tjokrosoejoso, Haji Agus Salim, dan A.A Maramis menetapkan rumusan dasar Negara Republik Indonesia yang dikenal dengan Piagam Jakarta. Isi piagam tersebut terdiri dari: 1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya; 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab; 3. Persatuan Indonesia; 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rumusan ini menggambarkan betapa tim memiliki kesadaran penuh bahwa hak menjalankan syariat bagi kaum muslimin yang faktanya adalah warga Negara mayoritas harus diakomodir dan dituangkan dalam dasar negara. Rumusan final ini tetap seperti itu sampai diproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Di sore hari tanggal 17 Agustus, utusan dari masyarakat Indonesia Bagian Timur menyampaikan keberatan akan rumusan Piagam Jakarta. Akhirnya pada tanggal 18 Agustus 1945 diadakan rapat untuk menyepakati kemungkinan diubahnya redaksi pasal pertama dari Piagam Jakarta. Hadir dalam pertemuan itu Wahid Hasyim dari Nahdhatul Ulama, Ki Bagus Hadi Kusumo dari Muhammadiyah, Kasman Singodimedjo dari Muhammadiyah, Bung Hatta dari Sumatra, Bagian Barat, danTeuku Muhammad Hasan dari Aceh. Hasilnya,berdasarkan keinginan yang tulus dari utusan Islam untuk hidup bersama di negeri ini, keinginan dari masyarakat Indonesia BagianTimur tersebut dikabulkan. Tetapi kata Ketuhanan ditambah dengan kalimat Yang MahaEsa.
Cita-cita mereka untuk mewujudkan negeri ini agar tampil islami adalah sangat rasional. Pertama, cita-cita mereka adalah amanah para pejuang perintis kemerdekaan yang telah syahid sebelum menghirup udara segar kemerdekaan. Sudah menjadi realitas sejarah yang tidak bisa dipungkiri bahwa mayoritas mereka adalah para ulama. Kedua, momentum pemilihan tanggal 17 Agustus di Bulan Ramadhan sebagai tanggal kemerdekaan oleh Bapak Ir.Soekarno sebagai pendiri bangsa. Bung Karno mengatakan bahwa pemilihan tanggal 17 Agustus 1945 tidak luput dari pertimbangan hati nuraninya sebagai seorang muslim. 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan dengan 8 Ramadhan 1364 H. Beliau memilih tanggal 17 karena tanggal 17 adalah tanggal turunnya Al-Qur-an, Bulan Ramadhan, karena Ramadhan bulan mulia, dan Hari Jumat, karena Jumat adalah hari yang mulia. Jadi, pemilihan hari, tanggal, dan bulan kemerdekaan itu bisa dikatakan sebagai perpaduan manis antara semangat kebangsaan dengan semangat beragama. Ketiga, pemahaman keislaman mereka yang integral mendorong jiwa mereka secara aktif untuk mewujudkan nilai-nilai Islam di seluruh sektor kehidupan, termasuk dalam kehidupan bernegara.
Para ulama tidak saja berjuang pada saat ingin merdeka, tetapi peran mereka dalam mempertahankan kemerdekaan juga sangat luar biasa. Dua bulan setelah proklamasi, tepatnya tanggal 22 Oktober 1945, keluar Resolusi Jihad Nahdhatul Ulama, dengan tujuan untuk mempertahankan kemerdekaan RI yang akan dirampas oleh Pasukan Sekutu. Pekik merdeka dan takbir Bung Tomo sangat terinspirasi oleh Resolusi Jihad tersebut. Berkobarnya jihad mempertahankan kemerdekaan membuahkan hasil. Pasukan sekutu gagal untuk merampas Indonesia.
Apa yang telah dilakukan oleh para pendiri negeri ini sudah sangat bijak. Usaha mereka agar negeri ini menjadi negeri yang diridhai Allah dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai ruh negeri ini mudah-mudahan mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah. Kalaupun ada di antara kaum muslimin yang tidak memperjuangkan hal tersebut karena faktor-faktor tertentu, maka hal itu menjadi tanggung jawab mereka di hadapan Allah swt dan kita berdoa semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan kekhilafan mereka.
Lalu setelah 75 tahun kita menghirup udara segar kemerdekaan, apa kontribusi kita buat mengisi kemerdekaan negeri ini? Pertanyaan ini harus selalu kita ulang-ulang supaya usaha kita hari ini bersambung dengan cita-cita dari para pejuang dan pendiri negeri. Kadang-kadang nikmat yang telah dirasakan terlalu lama bisa menghilangkan rasa kenikmatan. Rakyat Indonesia sangat berbahagia dan gegap gempita menyambut kemerdekaan pada saat diproklamasikan, karena mereka betul-betul menikmati alam bebas setelah sekian lama terkungkung.
Perasaan mereka pada zamannya tidak selalu bisa kita pelihara pada hari ini kalau kita tidak pernah membaca kegigihan perjuangan mereka. Sebagian kita mungkin tidak merasakan lagi kenikmatan itu. Peringatan hari kemerdekaan kita lewatihanya sekadar seremoni dan bahkan hura-hura dan penuh maksiyat. Di banyak tempat acara tujuh belasan terkesan sama sekali tidak mencerminkan rasa syukur akan kemerdekaan. Sebagian masyarakat ada yang mengisinya dengan lomba panjat pinang, lomba makan kerupuk, lomba karaoke, dan bahkan menampilkan hiburan yang mempertontonkan aurat.
Di kalangan pejabat, acara ini diisi dengan berkunjung ke taman makam pahlawan untuk mengheningkan cipta dan merenungkan perjuangan mereka yang telah berjuang buat negeri. Mengunjungi makam dan kuburan dalam Islam akan efektif mana kala niat dari kunjungan mengingatkan kita akan nasib kita yang juga akan menyusul mereka. Tetapi kalau acara itu hanya sekadar seremonial, lalu yang berkunjung tidak memperbaharui janji untuk melanjutkan amanah perjuangan para pahlawan, bahkan diri mereka penuh dengan obsesi dunia dan kepentingan pribadi, maka acara itu tidak akan membuahkan hasil. Menghadirkan kembali dokumen sejarah bangsa dan semangat perjuangan mengisi kemerdekaan adalah sebuah keniscayaan bagi kita.
Peringatan Hari UlangTahun Kenerdekaan Republik Indonesia yang ke 75 tahun 2020 ini masih diliputi oleh suasana pandemi Covid-19. Pandemi ini harus kita baca sebagai pelajaran dari Allah untuk kita agar lebih dekat kepada-Nya. Covid-19 mengingatkan kita agar banyak mempersiapkan amal. Siapapun berpeluang untuk dipanggil oleh-Nya. Kita berharap semoga kita mendapatkan perlindungan dari-Nya,dan diberikan umur yang barokah agar lebih banyak berbuat kebaikan. Negeri ini memberikan kesempatan beramal yang sangat luas buat kita semua.
Mudah-mudahan peringatan kemerdekaan ke-75 tahun ini menghadirkan semangat baru, yaitu semangat kedekatan kepada Allah, untuk melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa ini dengan nilai-nilai ketakwaan.**

*Penulis, Dosen IAIN Pontianak

error: Content is protected !!