Membaca Buku adalah Memperkuat Literasi

Oleh : Sudarmo, S.Pd

Dalam memerangi rasa jenuh selama social distancing, jika membaca buku bisa menjadi obat penghilang rasa bosan. Membaca buku merupakan cara efektif untuk menjadi obat bosan di kala social distancing. Cuma PR kita harus benar-benar menemukan satu buku yang membuat kita suka terhadap buku, agar kita ketagihan dalam membaca buku.

Buku dalam bentuk lain lebih seru selama social distancing minat membaca pada masyarakat perlu  ditingkatkan. Juga, minat baca di daerah, di desa komposisi perpustakaan desa dalam era digital pada masa pandemi, untuk tumbuhnya minat baca dengan cara memfasilitasi mereka dengan penyediaan buku.

Dilansir dari www.kominfo.go.id berdasarkan survei UNESCO, tingkat minat membaca masyarakat Indonesia memang masih berada pada angka 0,001%. Itu berarti perbandingannya adalah satu orang yang rajin membaca berbanding dengan seribu orang yang tidak rajin membaca. Bukan karena tidak ada waktu untuk sekadar menyandarkani lalu membaca buku.

Di saat masa social distancing akibat penyebaran Covid-19 ini.“Di sebuah negara maju, pasti ada perpustakaan yang sangat modern. Kemudian di negara-negara berkembang pasti ada perpustakaan-perpustakaan kecil yang sedang bertumbuh. Peringatan Hari Buku Nasional hanyalah upaya kecil untuk meningkatkan budaya baca dan kecintaan terhadap buku. Karena dengan membaca, kita bisa meningkatkan kualitas kehidupan. “Kualitas hidup masyarakat Indonesia terbatas karena pengetahuan yang terbatas.

Pengetahuan yang terbatas karena bahan bacaan yang terbatas. Bahan bacaan yang terbatas karena kualitas hidup yang terbatas. Inilah lingkaran setan yang harus diwaspadai,” ujar Supriyanto, Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional.

Meningkatkan kegemaran membaca, menurut mantan Pustakawan Utama Supriyanto, dimulai dari menumbuhkan reading interest, reading habbit, reading culture, sampai reading skill.Sehingga pengetahuan yang kita peroleh dari membaca menjadi ‘alat’ bagi kita untuk berdaya dan mencerdaskan kehidupan berbangsa.

Wabah COVID-19 atau biasa disebut virus corona telah menjadi persoalan skala global. Statusnya yang kini menjadi pandemi mengartikan bahwa wabah ini sulit untuk dikendalikan pencegahan dan penularannya antar manusia di suatu tempat. Virus ini merupakan jenis baru yang merupakan keluarga dari SARS-COV dan MERS-COV.

Sehingga proses identifikasi terhadap virus ini masih terus dilakukan oleh seluruh pakar terkait di seluruh dunia guna menemukan vaksin yang cocok diaplikasikan kepada manusia. Persebaran virus ini terus mengalami peningkatan, grafiknya yang bergerak secara eksponensial menunjukkan bahwa masih terjadi penambahan korban positif dan meninggal dunia yang akan terus bertambah tiap harinya.

Meskipun banyak prediksi yang beredar untuk mengukur jangka waktu persebaran wabah ini, tetapi belum ada kepastian waktu kapan wabah ini benar-benar berakhir hingga vaksin ditemukan. Seluruh negara-negara di dunia saat ini fokus pada upaya preventif dan kuratif untuk menekan laju persebaran virus agar angka korban menjadi sedikit. Dampak dari wabah COVID-19 ini bukan saja menyasar pada sektor kesehatan, namun pada banyak sektor seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, serta agama pun merasakan dampaknya.

Implikasi secara langsung yang dirasakan tiap individu adalah timbul rasa takut dan cemas dalam menyikapi situasi pandemi ini, karena mereka merasakan berbagai perubahan yang terjadi secara signifikan di segala sektor dan akan bertahan dalam jangka waktu yang tidak pasti kedepannya. Situasi tersebut menghasilkan gejala psikomatik yang membuat banyak asusmsi dan opini yang tidak disandarkan pada data/fakta, sehingga menambah kegaduhan di ruang publik karena sifatnya menyesatkan dan cenderung bernuansa kebohongan/hoax.

Kegagapan Literasi dan Implikasinya

Situasi pandemi secara global ini dialami oleh hampir seluruh negara di dunia termasuk di Indonesia. Masyarakat Indonesia banyak sekali mengkonsumsi berita dan informasi yang mempunyai kaitan dengan wabah COVID-19 ini. Namun pada kondisi seperti ini, publik kerap kebingungan untuk memilah mana berita yang valid dan bersandarkan pada data/fakta dengan berita bohong atau hoax yang bersifat opini tidak bertanggung jawab.

Bagi sebagian orang yang mempunyai taraf pengetahuan dan literasi memadai, mungkin akan mudah mengklasifikasikan serta mensortir berita yang valid dan tidak valid. Problemnya adalah pada budaya literasi masyarakat indonesia yang masih sangat rendah, hal tersebut mengakibatkan banyak sekali produksi berita kebohongan yang beredar di ruang publik untuk kemudian dikonsumsi secara luas dan mentah-mentah oleh banyak orang.

Menurut hemat penulis, setidaknya ada dua persoalan yang terkait dengan berita COVID-19 dan menjadi diskursus publik dewasa ini. yaitu berita hoax dan teori konspirasi. Kedua isu tersebut menguasai mayoritas linimasa media sosial di indonesia. Berikut ini akan penulis breakdown kedua problem tersebut untuk melihat sebab kemunculannya serta akibat yang ditimbulkannya.

  1. Berita hoax dan disinformasi

Menurut data dari Kominfo (2020) pada april 2020, tercatat sebanyak 1.125 berita hoax terkait COVID-19 yang beredar luas melalui platform Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, Youtube dan berbagai media daring lainnya. Ada sebanyak 77 tersangka yang sedang menjalani proses hukum dan 12 diantaranya telah ditahan. Data tersebut memperlihatkan bahwa amplifikasi produksi berita hoax terus terjadi di ruang publik. Jika kita melihat motif berita hoax dibuat, tentu ada yang sengaja di produksi dan ketidaksengajaan di produksi karena pengetahuan yang minim

Berbagai macam jenis informasi yang tidak benar tersebut juga menjadi hambatan bagi pencegahan penyebaran wabah COVID-19. Yang paling ramai dibicarakan adalah perihal anjuran beribadah dirumah, pemerintah melalui lembaga terkait seperti kementrian agama dan Majelis Ulama Indonesia menyerukan bahwa kegiatan ibadah seperti shalat berjamaah di masjid ditiadakan demi menekan persebaran virus COVID-19.

Sebagai gantinya, ibadah dirumah lebih dianjurkan. Namun pada pelaksanaanya anjuran tersebut tidak begitu mulus, masih banyak masjid yang melaksanakan kegiatan ibadah yang mengundang keramaian. Di DKI Jakarta saja yang menjadi epicentrum penyebaran COVID-19 terdapat 20 masjid yang masih melaksanakan ibadah shalat Jum’at di masjid saat pelaksanaan PSBB berlangsung (Kompas,2020).

Paradigma berpikir masyarakat yang demikian bersumber pada informasi yang tidak utuh, masih banyak informasi yang bersifat kontraproduktif dan berlawanan dengan nilai-nilai masyarakat umum seperti menyerukan untuk tetap menjalankan aktifitas ibadah di masjid seperti biasanya. Mereka memandang bahwa anjuran tersebut bertolak belakang dengan perintah agama. Tentu informasi dan sikap yang demikian menyesatkan karena dapat membuat kerugian dalam rangka pemutusan mata rantai COVID-19.

Disamping itu, banyak juga terdapat informasi tidak valid terkait dengan pencegahan virus COVID-19. Seperti penggunaan cairan desinfektan, seharusnya cairan ini digunakan untuk pembunuhan bakteri/virus pada benda-benda mati. Namun karena konsumsi informasi yang tidak utuh, banyak informasi yang menganjurkan penggunaan cairan desinfektan pada tubuh manusia.

Akibatnya adalah, bukan menjadi rahasia umum lagi pada setiap kegiatan masyarakat ini harus melakukan penyemprotan cairan tersebut pada tubuh. Terdapat bilik desinfektan yang harus dilalui oleh orang pada tiap gedung bahkan di tiap-tiap gerbang perumahan. Padahal menurut WHO penyemprotan cairan desinfektan kepada tubuh manusia sangat berbahaya dampaknya, apalagi sampai menyentuh selaput lendir manusia.

WHO menyebutkan bahwa cairan desinfektan hanya membunuh virus pada permukaan benda-benda mati saja, bukan pada kulit manusia. fungsi desinfeksi tentu berbeda dengan antiseptik. Namun kegiatan tersebut telah menjadi hal yang “benar” menurut pandangan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Kemudian banyak pula informasi yang tersebar di grup-grup media sosial seperti WhatasApp yang berisi tentang obat-obatan untuk mencegah bahkan mengobati virus COVID-19. Meskipun niatnya baik untuk memberikan informasi kesehatan, namun akan menjadi sangat berbahaya jika isi dari informasi tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Yang paling banyak dibicarakan diantaranya; corona akan mati pada cuaca panas di Indonesia, makan bawang putih yang banyak dapat menghindari corona, hingga memakai kalung antivirus yang ramai dipercaya. Pesan-pesan tersebut sebetulnya mempunyai hal yang positif jika diimplementasikan dengan benar. Namun akan menyesatkan bila penggunaannya tidak sesuai konteks COVID-19.

Hal-hal diatas bisa terjadi karena kebiasaan masyarakat memproduksi serta mengkonsumsi informasi tidak utuh. Padahal jika pemahaman literasi telah terinternalisasi dengan baik, ini akan meminimalisir kesalahan-kesalahan dalam menerima informasi yang tidak benar.

Pengetahuan yang terbatas pun menambah problem berita hoax dan disinformasi, karena jika masyarakat memiliki pengetahuan literasi yang baik tentunya proses telaah informasi atau verifikasi berita akan dilakukan sebelum bertindak. Menurut pendapat penulis, jumlah berita hoax akan berbanding terbalik dengan taraf budaya literasi. Artinya jika masyarakat indonesia mempunyai taraf literasi yang baik, berita hoax akan dengan mudah dikikis secara alamiah. Juga berlaku sebaliknya, jika taraf literasi nya rendah tentu produksi berita hoax dengan subur akan tersebar di ruang publik.

  1. Teori Konspirasi

Untuk mengetahui kebenaran di situasi pandemi seperti ini, cara terbaiknya adalah menggunakan diskursus ilmiah yang bersumber dari pengetahuan literasi yang baik. Proses pencarian informasi yang valid bisa bersumber dari pelbagai macam platform baik media daring maupun dalam bentuk fisik seperti buku. Namun problemnya biasanya terletak pada penerimaan informasi, pada orang yang tidak biasa membudayakan literasi seringkali melewatkan tahapan verifikasi atau telaah informasi sehingga mengakibatkan perspektif yang sesat. Hal ini pula yang terjadi dewasa ini, dimana terdapat orang-orang yang menggunakan teori konspirasi dalam memandang wabah COVID-19.

Jika dilihat secara akademis, orang yang menganut teori konspirasi biasanya tidak terbiasa membaca buku secara utuh dan mendogma satu sumber refrensi yang tidak valid. Sehingga mengakibatkan kemalasan berpikir karena ingin menggunakan cara alternatif bernama konspirasi untuk melihat suatu fenomena tanpa melalui proses kajian secara komprehensif. Setidaknya ada 3 poin besar dari sudut pandang ilmu psikologi mengapa teori konspirasi menarik bagi banyak orang.

Pertama Epistemik, merupakan alasan kebutuhan akan pemahaman dan konsistensi. Jika ada orang mendapatkan informasi yang berbeda, orang tersebut akan connecting the dot dan teori konspirasilah yang biasa menyediakan koneksi-koneksi ini meskipun tidak disandarkan pada sumber bacaan yang jelas dan valid. Karena kepercayaan bahwa terdapat hal-hal yang tersembunyi dari pandangan publik, quote and quote jadi merasa ditipu.

Faktor ini juga dapat dihubungkan dengan tingkat pendidikan dan literasi seseorang, dimana orang dengan tingkat liteasi yang rendah cenderung akan mempercayai teori konspirasi. Kedua Eksistensial,  faktor ini menjadi semacam “zona aman” bagi para pemercayanya. Orang yang merasa tidak berdaya secara psikologis, sosiopolitik, dan kecemasan lebih cenderung percaya pada teori konspirasi. Efek jangka panjang dari konspirasi ini adalah dapat membuat orang lebih tidak berdaya dari sebelumnya. Ketiga Sosial, beberapa peneliti berhipotesis jika percaya konspirasi yang mengusir kelompok sebagai oposisi, orang tersebut bisa merasa lebih baik terhadap dirinya dan kelompok sosial mereka sendiri.

Kepercayaan pada konspirasi ini berakar pada apa yang disebut sebagai narsisme kolektif, keyakinan bahwa kelompok sosial sendiri lebih baik, tetapi kurang dihargai oleh orang lain. Teori konspirasi juga menandakan matinya kepakaran karena bagi mereka yang mempercayainya sulit untuk memahami dunia yang rumit dan tidak memiliki kesabaran untuk penjelasan yang tak dramatisir. Mereka lebih percaya pada omong kosong atau hoax daripada menerima bahwa ada hal-hal yang bersumber dari pengetahuannya.

Solusi dan Produktifitas Literasi ditengah Pandemi

Untuk menghindari kegagapan literasi kita seperti penjabaran diatas, maka perlu adaptasi dan langkah konkrit di situasi pandemi seperti ini guna merawat nalar serta budaya membaca kita. Karena segala persoalan diatas merupakan faktor dari rendahnya taraf pendidikan dan literasi masyarakat indonesia pada saat ini. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menjaga produktifitas selama pandemi berlangsung sekaligus mencegah konsumsi informasi dan pengetahuan yang tidak berdasarkan pada fakta.**

*) Penulis adalah Guru SMAN 2 Mandor, Kabupaten Landak

 

loading...