Membaca Permulaan Pada Anak Usia Sekolah Dasar

Tuty Awalia

Oleh: Tuty Awalia

MEMBACA untuk pemula bukanlah hal yang gampang dilaksanakan terutama bagi peserta didik yang baru menginjakkan kaki khususnya di kelas satu sekolah dasar. Selama ini mengajarkan membaca untuk anak yang belum sama sekali mengenal huruf dirasakan sangat sulit bagi guru di sekolah seperti halnya yang dirasakan oleh guru yang mengajar di Sekolah Dasar Negeri 66 Pontianak Kota, karena hampir sebagian besar peserta didik di kelas satu tidak mengenyam Pendidikan PAUD ataupun TK. Hal inilah yang menjadi kendala guru dalam mengajarkan peserta didik untuk membaca.

Membaca merupakan hal yang sangat penting karena dengan membaca peserta didik menjadi paham atau mengerti tentang suatu pelajaran. Sehingga sebagai guru perlu teknik atau cara yang dapat membantu peserta didik untuk mengenal huruf dengan cepat dan menyenangkan. Di masa pandemi ini tidak ada tatap muka antara guru dengan peserta didik sehinga mengajarkan membaca menjadi tanggung jawab antara guru dengan orang tua, namun sering kali orang tua kewalahan dalam mengajari anaknya membaca di rumah. Membaca permulaan menurut Abdul Jalil, Zuleha, & Kusnandar (2005: 7) mendefinisikan dengan suatu proses membina peserta didik dimulai dari pengenalan huruf sebagai lambang bahasa, kemudian bila peserta didik paham bisa dilanjutkan dengan pemahaman terhadap isi bacaan.

Dari uraian pendapat ahli di atas bahwa membaca permulaan dapat dimulai dengan langkah-langkah sebagai berikut: pertama, mengenalkan huruf kecil ataupun huruf besar; kedua, mengenalkan huruf secara bertahap misalnya mengenalkan dua huruf vokal dan dua huruf konsonan seperti a – i – m – n; ketiga, susunlah menjadi satu suku kata, contohnya ma – mi – na – ni; keempat, kembangkan lagi menjadi dua suku kata seperti mami, mina, nani, mimi, mama, nana, nini. Setelah peserta didik lancar membaca dua suku kata, kemudian dilanjutkan pada tiga suku kata seperti  se-pe-da, le-ma-ri, je-ma-ri dan seterusnya; keempat, mengenalkan bunyi “ng” seperti : ang – ing – ung – eng – ong,  nga – ngi – nge – ngo, kemudian tahap berikutnya langsung mengajarkan pada tahap suku kata seperti kata pi – sang, pe – dang, nang – ka, bu – nga dan lain sebagainya; kelima, mengenalkan bunyi ‘ny” seperti nya, nyi,nyu, nye, nyo. Dilanjutkan dengan menggabungkan beberapa suku kata seperti pu- nya, pe-nyu, nya-muk. Terakhir, mengenalkan konsonan mati seperti ma – kan , i – kan, cok -lat. Setiap mengenalkan suku kata usahakan menggunakan gambar benda asli untuk membantu siswa lancar membaca. Setelah anak mulai bisa mengenal huruf dan membunyikan dalam beberapa suku kata, anak diajak bermain menggunakan kartu kata.

Menurut pendapat Nurbiana Dhieni, dkk (2005:5.3) mengatakan bahwa membaca merupakan keterampilan bahasa tulis yang bersifat reseptif. Kegiatan membaca permulaan merupakan suatu kegiatan yang terpadu yang mencakup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan kata-kata, menghubungkan dengan bunyi, maknanya serta menarik kesimpulan mengenai maksud bacaan.

Berdasarkan uraian di atas guru hendaknya dalam mengajarkan membaca terutama membaca pemula terlebih dahulu harus mengenalkan huruf besar dan kecil kemudian membaca satu suku kata, dua suku kata, tiga suku kata lalu membunyikan “ng” dan “ny”  setelah itu mengajarkan dengan membunyikan konsonan mati dan alangkah baiknya menyertakan gambar benda aslinya untuk lebih membantu anak memahami apa yang dibacanya. Selain itu peserta didik diajak sambil bermain dengan menggunakan kartu kata agar lebih menyenangkan.**

*Penulis, Guru SDN 66 Pontianak Kota.

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!