Membangun Daya Saing Daerah

opini pontianak post
Oleh Tommy Priyatna

Oleh: Nana Sartika*

PARA ahli sejak lama berpendapat bahwa terdapat keterkaitan antarwilayah yang sangat erat dalam proses pembangunan ekonomi. Dalam perkembangannya, teori dan konsep pembangunan tersebut terus mengalami perubahan dan penyempurnaan menjadi sub-sub teori seperti pertumbuhan ekonomi, model perencanaan wilayah, hingga investasi dan kerjasama daerah.

Metzler (1950) menyatakan peningkatan pendapatan di suatu wilayah akan meningkatkan pendapatan di wilayah lainnya (interregional income theory). Chenery (1953) mengembangkan model menurut dua asumsi. Pertama, permintaan tidak dipengaruhi dari wilayah mana barang dihasilkan. Kedua, penawaran tidak ditentukan ke wilayah mana barang dipasarkan. Leontief (1963) membuat model matematis terhadap struktur perekonomian yang menerangkan keterkaitan antarsektor dan kegiatan ekonomi melalui analisa input-output.

Di Indonesia sendiri konsep pertumbuhan dan pembangunan ekonomi masih mengacu pada konsep Growth Pole Theory (Perroux, 1955) dimana konsep pembangunan dan kegiatan ekonomi terpusat pada wilayah kutub pertumbuhan. Namun, konsep ini ternyata menimbulkan efek ketimpangan antarwilayah yang terus menerus terakumulasi. Dikarenakan kutub pertumbuhan lebih dominan memberikan efek bakcwash yaitu menjadi penguras sumber daya wilayah-wilayah penyokong (hinterland), ketimbang memberi efek multiplier (spread effect). Akibatnya konsep ini hanya mengalirkan sumber daya dan menguntungkan secara sepihak bagi wilayah yang ditetapkan sebagai kutub pertumbuhan.

Wilayah yang paling nyata memperlihatkan ketimpangan pertumbuhan dan pembangunan, misalnya DKI Jakarta dengan daerah-daerah penyokongnya. Tarikan kutub pertumbuhan terutama tampak jelas pada variabel sumber daya manusia. Hal ini pula yang menyebabkan tingkat kemacetan yang terjadi di jam pergi-pulang kantor sangat tinggi karena tingginya mobilitas manusia dari daerah-daerah sekitar di luar Jakarta.

Aplikasi konsep kutub pertumbuhan lainnya dalam klaster yang sengaja diciptakan  misalnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dibangun di beberapa wilayah. Jika KEK ini tak menerapkan konsep kerjasama kewilayahan yang terintegrasi, bisa jadi pembangunannya hanya akan memicu ketimpangan dan terbentuknya kantong kemiskinan bagi wilayah sekitarnya.

Teori kerjasama antarwilayah menawarkan konsep pembangunan wilayah yang lebih optimal dilakukan, jika terbangun jejaring antar wilayah baik dari sisi penawaran maupun permintaan. Agar dampak kerjasama tidak menimbulkan dominasi pertumbuhan di daerah tertentu saja, keseimbangan kapasitas kepemilikan sumber daya dan kemampuan daerah-daerah sekitar untuk menjadi penyokong sekaligus menerima sokongan sehingga membentuk rantai sistem supply dan demand, menjadi syarat penting untuk dipertimbangkan.

Kesiapan Infrastuktur

Secara geografis, Kalimantan Barat memiliki lima Kabupaten dengan enam border berstatus penanganan berlanjut oleh Pemerintah, yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Kondisi geografis ini sangat menguntungkan karena arus distribusi barang-jasa antar negara menjadi relatif lebih mudah untuk dipetakan.

Dari sisi infrastruktur, distribusi logistik ke luar wilayah Kalimantan Barat didukung oleh lima Bandara dan satu Bandara dalam rencana pembangunan yang dikelola oleh Angkasa Pura dan telah menerapkan Sistem Logistik Terintegrasi. Di jalur laut, Pelabuhan Internasional Pontianak merupakan salah satu jalur strategis Proyek Pendulum Nusantara yang terintegrasi dengan pelabuhan laut di seluruh Indonesia dan ditujukan untuk menurunkan biaya logistik nasional, serta mendorong pemerataan pertumbuhan.

Di sebelah utara, berjarak 80 Km dari Pontianak, dibangun Terminal Kijing yang merupakan salah satu dari 7 hub utama di Indonesia. Dengan kedalaman 16 meter, terminal ini mampu menampung kapal kargo berukuran di atas 10 ribu TEUs dan memiliki 4 terminal yaitu curah kering berkapasitas 15 juta ton per tahun, curah cair hingga 12 juta ton per tahun, peti kemas 2 juta TEUs per tahun dan multi purpose 1 juta ton per tahun.

Terdapat 7 pelabuhan dengan aktivitas bongkar muat yang terdata secara statistik di Kalimantan Barat, yaitu Sintete, Pemangkat, Ketapang, Kendawangan, Telok Melano, Singkawang, dan Pontianak. Data perkembangan transportasi dari November ke Desember 2020 menunjukkan jumlah barang yang dibongkar melalui angkutan laut mencapai 491.762 ton atau naik hingga 68,88 persen, sedangkan jumlah barang yang dimuat sebanyak 256.855 ton atau turun 7,63 persen. Aktivitas bongkar barang terbesar terletak di Pelabuhan Kendawangan sebesar 380.674 ton, sedangkan aktivitas muat barang terbesar terletak di Pelabuhan Telok Melano sebesar 134.045 ton.

Tingginya jumlah bongkar barang tersebut menunjukkan bahwa fungsi utama dari pelabuhan bongkar-muat lebih didominasi oleh pendistribusian barang masuk ke wilayah Kalimantan Barat, dibandingkan dengan aktivitas pengiriman barang ke luar provinsi. Poin ini sangat penting untuk dievaluasi sehingga besarnya kapasitas arus keluar-masuk barang melalui banyaknya infrastuktur dan jalur distribusi yang dibangun, tidak hanya digunakan untuk memperlancar pasokan barang, namun terutama juga mampu meningkatkan nilai pengiriman hasil produksi Kalimantan Barat ke luar wilayah.

Potensi Produksi Sektor 

Syarat utama untuk membentuk rantai sistem distribusi supply-demand adalah adanya arus pertukaran barang dan jasa antar wilayah. Optimalisasi rantai sistem distribusi akan tercapai manakala setiap sub sistem memiliki peran dalam mekanisme permintaan dan penawaran. Sebaliknya, meski infrastuktur saluran distribusi telah dipersiapkan sedemikian rupa, tidak akan berfungsi jika tidak ada output yang bisa dipasarkan. Di Kalimantan Barat hingga tahun 2020, Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan masih menjadi sektor dengan nilai tertinggi, yaitu berkontribusi hingga 24 persen dari total PDRB. Selanjutnya diikuti oleh Industri Pengolahan sebesar 16,04 persen, Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 13,72 persen, dan Konstruksi sebesar 10,18 persen.

Wilayah-wilayah yang menjadi sentra produksi sektor pertanian tertinggi diantaranya Kabupaten Sambas sebagai sentra produksi beras, jeruk, dan perikanan tangkap, Bengkayang sebagai penghasil jagung, Ketapang dengan produk kelapa sawit, serta Kapuas Hulu dengan produksi perikanan dari perairan umum daratan. Untuk hasil-hasil pertanian dan perkebunan yang memerlukan pengolahan dalam jumlah yang besar seperti kelapa sawit, nilai kontribusi sektor industri pengolahan dan peningkatan nilai ekspor produk olahan dapat digunakan sebagai indikator utama untuk menilai optimalisasi pemanfaatan kapasitas infrastruktur yang dibangun serta bagaimana daya ungkitnya terhadap pembentukan rantai sistem supply-demand antar wilayah.

Terdapat pula jenis tanaman endemik semisal tengkawang dan gaharu yang bernilai ekonomis tinggi dan memiliki peluang pasar ekspor cukup besar. Khusus tengkawang yang diolah menjadi mentega tengkawang (illipe butter) digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kosmetik seperti sabun, krim, dan lotion, dipasarkan dalam bentuk mentah (crude) dan sudah diproses (refined). Setidaknya ada 5 jenis produk mentega tengkawang di pasar internasional yaitu crude, decolorised, deodourised, refined deodourised, dan refined decolorised and deodourised atau jenis RBD.

Ada 2 produsen di Kalimantan Barat yang memasarkan produk mentega tengkawang secara online yaitu UMKM Kalbar yang menjual jenis crude dan PT. Forestwise Wild Keepers yang telah memiliki pabrik pengolahan di Sintang sehingga terhitung sejak 23 November 2020 kemarin telah menghasilkan mentega tengkawang refined. Jenis mentega tengkawang yang dipasarkan Forestwise yaitu crude, decolorised dan RBD. Ketiga jenis produk tersebut telah memperoleh sertifikat Fair For Life (FFL) yaitu standar sertifikasi untuk perdagangan yang sehat dan bertanggungjawab atau Certification Standard for Fair Trade and Responsible Supply-Chains.

Sertifikasi ini diberikan oleh satu lembaga internasional kepada produsen yang telah memenuhi kriteria khusus seperti pemenuhan kebijakan fair-trade oleh produsen dan rekanan dalam rantai supply, kebijakan ketenagakerjaan dan serikat buruh, asuransi kesehatan, tanggungjawab sosial (CSR), komitmen terhadap lingkungan serta standar lain yang menjadi semacam pas untuk memasuki pasar global.

Apa dan Bagaimana Mengambil Peran?

Dua kunci utama dalam membangun daya saing daerah melalui interkoneksi rantai sistem permintaan dan penawaran antar wilayah adalah barang dan jasa yang dihasilkan harus kompetitif dan berkualitas, juga dukungan infrastruktur yang memadai sebagai saluran distribusi. Jika jenis barang dan jasa yang dipertukarkan bersifat umum, adalah penting untuk memperhatikan kualitas, kemasan, dan syarat-syarat yang berlaku di pasar nasional-global semisal SNI dan sertifikat halal misalnya.

Untuk jenis barang khusus seperti mentega tengkawang, sangat penting bagi Pemerintah Daerah untuk memfasilitasi pemenuhan standar yang dipersyaratkan pasar global mengingat produsennya sangat terbatas sementara potensi pasar sangat besar. Peran sebagai produsen dapat optimal dimainkan jika barang dan jasa memiliki daya saing yang kuat, sehingga dalam rantai sistem distribusi tidak hanya dominan berperan sebagai konsumen.

Namun, juga terjadi situasi dimana barang dan jasa yang dihasilkan berkualitas standar, tetapi infrastruktur yang sangat baik sudah terlanjur dibangun. Dalam kondisi ini mengambil bagian dalam rantai sistem interkoneksi supply-demand akan sulit untuk dilakukan. Lalu bagaimana mengambil peran? Singapura adalah contoh penyedia jasa infrastruktur yang tidak ikut menjadi pemain sebagai produsen dalam rantai sistem supply-demand, namun justru menjadi leader yang menyediakan jalur distribusinya sehingga memberikan kontribusi terbesar dalam penerimaan negara. Dan pilihan ini menjadi jawaban jika daerah gagal dalam membangun daya saing melalui variabel barang dan jasa : maka bangunlah daya saing melalui saluran distribusi.**

*Penulis adalah Analis Kebijakan Ahli Muda Biro Perekonomian  Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Barat. 

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!