Membangun Pendidikan yang Humanis dan Bermartabat

Oleh : Yustina. S. Pd

PENDIDIKAN merupakan jalan utama mencapai kesejahteraan sudah tidak dapat dipungkiri lagi, negara — negara yang memiliki sistem pendidikan yang matang sebagian besar sudah menjadi negara maju,  sejahtera dan mampu hidup berdikari tanpa tergantung dengan negara lain. Ini membuktikan pendidikan akan berperan besar dalam proses kemajuan Negara Indonesia, berbagai konsep, kurikulum dan sistem pendidikan sudah dikembangkan di negara ini.

Dalam dunia pendidikan pembentukan karakter peserta didik sungguh sangat diperlukan. Pendidikan bukan hanya melulu menjadi alat transfer pengetahuan tetapi juga menjadi alat transfer untuk membentuk manusia menjadi lebih manusiawi.

Bila dikaitkan dengan pembangunan karakter bangsa, pendidikan bisa diartikan secara lebih sempit sebagai suatu cara membangun dalam berkehidupan bersama. Dalam skala tataran antarkomunitas, tanpa melihat etnis, suku, agama, ras dan sebagainya, berkehidupan bersama berarti telah sepakat secara sadar untuk melakukan ikatan bagi anggotanya menjadi suatu komunitas yang dilakukan dalam wilayah yang pasti dan sah, serta diakui komunitas masyarakat lainnya (baca: internasional). Dari sudut pandang inilah kemudian timbul berbagai teori tentang bangsa dan negara.

Pendidikan Bermartabat

Pembangunan karakter dalam dunia pendidikan akan mempersiapkan peserta didik mempunyai dasar yang kuat dalam mengambil keputusan dalam pilihan hidupnya sehingga mereka akan menjadi lebih bebas. Pendidikan harus menjadikan manusia semakin bermartabat dan dalam hal ini pendidikan akan membangun karakter anak bangsa menjadikan bangsa mereka menjadi makin bermartabat.

Untuk itu diperlukan pendidikan yang bermartabat. Pendidikan bermartabat adalah pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kehidupan, dengan demikian manusia akan menjadi semakin bernilai dan berharga. Dengan demikian karena manusia dalam hal ini adalah peserta didik merasa berharga akan timbul rasa dicintai. Dan karena merasa dicintai itulah makan peserta didik akan semakin antusias dalam proses belajar mengajar

Pembelajaran yang Menyenangkan

Proses belajar mengajar akan menentukan arah dantujuan pendidikan yang kita lakukan. Bagaimana seni menguasai kelas, menerangkan materi pembelajaran. Dalam dunia pendidikan dikenal dengan istilah yang bernama pedagogik, pedagogik sendiri berasal dari kata Paedagogia yang berarti pergaulan dengan anak, Pedagogik yang merupakan praktek pendidikan anak dan kemudian muncullah istilah Pedagogik yang berarti ilmu mendidik anak.

Lalu apa sih yang menjadi kesalahpahaman istilah Pedagogik?Kadang sebagian orang mengartikan bahwa pedagogik merupakan ilmu pendidikan, pemaknaan ini tidak berarti salah namun juga tidak sepenuhnya benar, mengapa? Karena jika ditinjau dari makna pendidikan secara luas maka Pendidikan adalah hidup. Lebih tepatnya segala pengalaman di berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi perkembangan individu.

Dari pengertian diatas maka bisa dipahami ada beberapa tingkatan dalam pendidikan, sehingga menimbulkan cabang ilmu pendidikan yang dikembangkan para ahli yaitu pendidikan pada anak yang disebut Pedagogik, ilmu pendidikan bagi orang dewasa yang disebut Andragogi serta pendidikan bagi ilmu pendidikan manula yang disebut Gerogogi.

Jelaslah bahwa Pedagogik terbatas pada ilmu pendidikan anak atau ilmu mendidik anak. Maka timbul pertanyaan lain, kapankah seorang anak masuk dalam kawasan pedagogik? Menurut M.J. Langeveld, pendidikan baru terjadi ketika anak telah mengenal kewibawaan, syaratnya yaitu terlihat pada kemampuan anak memahami bahasa, karena sebelum itu dalam pedagogik anak tidak disebut telah dididik yang ada adalah pembiasaan. Sedang batas atasnya yaitu ketika anak telah mencapai kedewasaan atau bisa disebut orang dewasa.

Kemudian, mengapa Pedagogik diperlukan? Padahal pedagogik yang merupakan rangakaian teori kadang berlainan dengan praktek di lapangan? Ada dua alasan yang melandasinya, yaitu bahwa pedagogik sebagai suatu sistem pengetahuan tentang pendidikan anak diperlukan, karena akan menjadi dasar bagi praktek mendidik anak.

Selain itu bahwa pedagogik akan menjadi standar atau kriteria keberhasilan praktek pendidikan anak. Kedua, manusia memiliki motif untuk mempertanggungjawabkan pendidikan bagi anak-anaknya, karena itu agar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, praktek pendidikan anak memerlukan pedagogik sebagai landasannya agar tidak jadi sembarangan.

Dalam dimensi profesionalitas, guru dituntut untuk memotivasi dan melibatkan siswa dalam proses belajar dengan menggunakan gaya, strategi serta teknik pengajaran yang sesuai dengan konteks pembelajaran. Tugas-tugas pembelajaran disusun demi kebutuhan-kebutuhan belajar individu, dan perbedaan-perbedaan latar  belakang siswa serta mengoptimalkan waktu belajar. Perlunya memperhitungkan efek-efek perbedaan kemampuan fisik, intelektual, dan ketersediaan alam selama proses belajar dengan mengingat bahwa siswa mempunyai potensi untuk bertumbuh.

Meskipun untuk kondisi guru Indonesia yang begitu berat, toh guru pun perlu menunjukkan sebuah tingkatan pengetahuan tentang disiplin-disiplin ilmu yang relevan, proses pembelajaran siswa, dan sumber-sumber pembelajaran dengan menggunakan pengetahuan itu dalam penerapan di kelas.

Bacaan-bacaan mutakhir akan menghadirkan sosok guru yang well-inform di depan siswanya. Tidak mesti para guru melanggan Koran atau jurnal ilmiah. Jika lembaga tempat para guru bekerja dapat menyediakannya, pastilah satu persoalan guru untuk mendapatkan informasi mutakhir akan terjawab. Tantangan yang menghadang guru untuk selalu membarui diri adalah sikap cepat puas diri atau seadanya saja.

Ketidaksempatan guru membawa siswa melakukan berbagai eksplorasi atau menuntun kea rah pengalaman-pengalaman manusiawi sangat mungkin disebabkan oleh beban kurikulum dan target-target ulangan umum bersama. Beban kurikulum yang begitu berlebih akan mendorong guru memilih jalan aman dengan menempatkan diri sebagai seorang pengajar tertib, meskipun harus kehilangan kesempatan untuk memberikan kedalaman materi.

Ada dua model pendidikan yang dikembangkan dibanyak negara yakni menekankan less is more. Jumlah materi pengajaran dikurangi supaya siswa mempunyai kesempatan meneliti secara mendalam. Pengurangan jumlah bahan pelajaran dilakukan agar siswa mempunyai banyak waktu luang untuk lebih mendalami bahan tersebut. Siswa tidak diburu waktu serta mempunyai kesempatan untuk berpikir kritis dan berefleksi. Yang dapat dilakukan adalah : menghilangkan substansi pelajaran yang berulang-ulang; menghilangkan pokok bahasan yang tidak esensial yaitu pokok bahasan yang sekadar “kosmetik”; menawarkan ketuntasan belajar; menyediakan materi terapan yang dapat digunakan untuk meningkatakan mutu kehidupannya; menyajikan kurikulum yang sesuai dengan kemampuan sumber daya daerahnya.

Materi penting lain yang mesti diperhatikan dalam pendidikan, menurut Morin adalah mengajarkan kondisi manusiawi. Pendidikan masa depan harus menjadi pendidikan universal, yang pertama-tama mengajarkan tentang kondisi manusiawi. Kondisi manusiawi yang dialami anak-anak kita di sekolah mestinya tersistem, bukan mengandalkan orang per orang yang ada dalam suatu sekolah.

Sekolah bukanlah pabrik dengan aktivitas industri, sehingga interaksi guru dan siswa dibutuhkan dengan intensitas tinggi. Menjadi ironis jika ada sekolah-sekolah yang merasa cukup menampung anak-anak yang pandai dan menyediakan fasilitas fisik, sementara para gurunya semakin jauh dari siswa. Bukan hal yang aneh jika ada guru yang tidak kenal siswanya bahkan sampai lulus, kecuali namanya dan nilai rapor. Hakikat siswa sebagai manusiawi direduksi sekadar nama dan angka nilai rapor.

Upaya banyak sekolah mengurangi jumlah siswa setiap kelas dari 40 an anak menjadi 30 siswa patut didukung sebagai upaya memberikan kesempatan kepada guru dapat berinteraksi dengan siswa di kelas lebih dekat. Upaya demikian sebenarnya dilematis bagi sekolah swasta yang hidup  matinya tergantung financial dari siswa. Satu kursi atau dua kursi di setiap kelas akan sangat berarti untuk mendukung pembiayaan operasional. Sekolah negeri tidak terpengaruh perhitungan finansialnya jika dikaitkan dengan jumlah siswa. Akan tetapi, yang terjadi justru negeri berlomba memadati kelas-kelasnya atau menambah daya tampung kelas.

Sekolah pun mesti mengupayakan layanan konseling yang baik. Konselor yang cakap dan sistem pembimbing yang benar akan sangat menjadi pendukung setiap pribadi siswa. Banyak sekolah yang menempatkan konselor atau instansi bimbingan dan konseling sekadar sebagai “polisi sekolah”. Urusan disipliner siswa mestinya tidak dilekatkan pada konselor. Konselor tetaplah sebagai figur yang netral dalam mendampingi siswa apapun  masalahnya. Layanan konseling yang baik berarti di sekolah tersebut ada perhatian pada kebutuhan emosional anak. Konselor yang baik dapat menjadi perantara dengan guru dan membantu melewati masa-masa sulit anak-anak. Seorang konselor yang baik mampu memberikan dukungan emosional yang dirasakan oleh remaja, yang kadang sulit diperoleh dari orang tua sendiri.

Morin menegaskan bahwa kelas harus menjadi sebuah tempat untuk belajar para siswa tentang aturan-aturan debat dan diskusi yang sportif, kesadaran akan kebutuhan-kebutuhan dan prosedur untuk memahami pikiran orang lain, mendengar dan menghormati suara minorotas dan suara-suara yang berbeda.

Salah satu contoh riil dalam pembelajaran adalah bagaimana menciptakan suasana kelas yang kondusif untuk belajar baik bagi guru maupun siswa dan bagaiman keratifitas guru untuk menyampaikan materi semenarik mungkin. Guru dituntuk mampu mengembangkan teknik mangajar yang mengajak peserta didik tidak hanya sekedar tahu tapi paham. Cara sederhana adalah dengan membuat media balajar yang menarik bagi peserta didik misalnya memanfaatkan teknologi komputer atau membuat permainan-permainan yang mambuat peserta didik menjadi menarik.

*) Penulis adalah Guru SMAN 2 Mandor, Kabupaten Landak

 

loading...