Memilih Hewan Kurban di Era New Normal

opini pontianak post

Oleh: Duta Setiawan

Pelaksanaan ibadah kurban tahun 2020 ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang tidak mengalami pandemi covid 19. Menjelang Hari Raya Iduladha di era new normal sebaiknya para konsumen membeli dan memilih ternak terbaik untuk dikurbankan dengan mengikuti protokol Covid-19 agar aman dan tetap sehat.

Pemotongan hewan kurban hingga hari ketiga perayaan hari Iduladha tahun 2019  yang dilaksanakan di propinsi Kalimantan Barat mencapai 10.125 ekor. Kepala Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar, M Munsif mengatakan jumlah pemotongan hewan kurban di Kalimantan Barat mengalami peningkatan sebesar 2,67 persen, dibandingkan tahun 2018 mencapai 263 ekor. Untuk total pemotongan hewan kurban di Kalbar, mencapai angka 10.124 ekor yang terdiri dari 5.795 sapi dan 4.311 ekor kambing dan 18 domba.

Ibadah kurban sesungguhnya merupakan bentuk kepasrahan seorang hamba kepada Allah SWT untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Kata kurban berasal dari bahasa Arab, yakni qaraba yang berarti dekat. Selain bentuk pendekatan diri kepada Allah dan syukur atas karunia yang diberikan-Nya, kurban adalah bentuk ketakwaan seorang Muslim dan melaksanakan segala perintah Allah. Seperti yang telah ditulis dalam surat Al-Hajj [22] ayat 34,“Bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Mahaesa. Karena itu, berserah dirilah kamu kepada-Nya dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah.”

Banyak hikmah pandemi Covid-19 terhadap pelaksanaan ibadah kurban pada tahun ini diantaranya adalah melatih keikhlasan pada setiap insan saat situasi yang serba terbatas, mempersiapkan segala hal yang ingin dilakukan dengan lebih matang dan terencana, melatih masyarakat untuk lebih tertib dan menaati peraturan pemerintah (social distancing), higiene personal.

Dalam pelaksanaan teknisnya era new normal sekarang mengikuti protokol kesehatan di tempat penjualan hewan kurban yang disampaikan oleh Direktur Survailans dan Karantina Kemenkes RI  antara lain penjual hewan hanya menjual hewan yang memenuhi syaratSyariah, penjualan hewan kurban secara daring atau dikoordinir oleh panitia kurban atau Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Jika penjualan tetap dilakukan di tempat tempat penjualan hewan kurban harus memenuhi syarat adminitrasi teknis. Pertama, penjual dan pembeli dalam keadaan sehat. Kedua, penyediaan sarana cuci tangan pakai sabun dan air mengalir.  Ketiga, menerapkan personal hygiene dengan sering melakukan cuci tangan terutama setelah menyentuh hewan atau permukaan benda. Keempat, melakukan physical distancing yakni menghindari kontak fisik, mengatur jarak dengan dan antarpembeli. Kelima, penjual dan pembeli hewan kurban menggunakan masker. Keenam, diupayakan transaksi dengan uang elektronik. Ketujuh, pengawasan oleh dinas terkait (Dinas Kesehatan dan Dinas peternakan). Kedelapan, penjual dan pembeli hewan kurban menggunakan masker.  Kesembilan, diupayakan transaksi dengan uang elektronik. Kesepuluh, pengawasan oleh dinas terkait yaitu Dinas Kesehatan dan Dinas peternakan yang di daerah masing-masing.

MUI mengeluarkan fatwa bahwa sifat-sifat hewan yang tidak boleh dijadikan kurban yaitu hewan ternak yang buta sebelah mata dan butanya nampak jelas. Memiliki penyakit yang jelas sakitnya, seperti penyakit kurap yang dengan sebab itu kulitnya tidak dapat dimanfaatkan. Kaki hewan kurban tersebut pincang salah satu kakinya, dimaafkan pincang yang ringan dan tidak mengganggu jalannya untuk mencari makan. Binatang ternak yang kurus kering seperti tidak ada taknya atau sumsum pada tulang kosong, tanda-tandanya malas tidak ada keinginan untuk makan tumbuhan. Ada sebagian dagingnya yang hilang walaupun  sedikit. Makruh tapi memadai seperti ada sebagian yang kurang dari kelengkapan anggota tubuhnya semenjak lahirnya, tapi tidak mengurangi kadar daging seperti tidak punya atau hanya satu biji, tidak bertanduk, atau kupingnya kecil, atau kantung susunya sudah mengecil. Namun, tetap yang terbaik dan lebih afdhal jika semuanya sempurna. Hewan betina sah dan memadai untuk dijadikan kurban selama memenuhi syarat. Tidak memadai kurban atau menjadi sedekah biasa, jika ada yang kurang dari tubuhnya yang sudah ada semenjak lahir seperti terpotong kupingnya, terputus tanduknya atau kukunya atau luka, tetapi dimaafkan jika itu terjadi bukan karena kelalaian atau kurang perhatian. Ada beberapa tips dalam memilih hewan ternak untuk menjadi pengantar kebaikan kurban dan menjadikan kurban penuh dengan limpahan  keberkahan.

Tips memilih hewan kurban pada era new normal tahun ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan. Pertama, hewan kurban  yang akan diberikan pada umumnya di Indonesia adalah hewan ternak seperti kambing, domba, sapi, atau kerbau seperti yang telah menjadi ketentuan. Kedua, memenuhi syarat umur. Karena ketentuan setiap jenis hewan ternak yang akan dikurbankan  berbeda-beda. Untuk kambing atau domba adalah berusia satu tahun, sapi atau kerbau dua tahun, dan untuk unta lima tahun. Ketiga, hewan kurban  sudah mengalami pergantian gigi seri depan dan bawah. Karakter gigi susu kecil dan runcing, sedangkan gigi tetap dari hasil pergantian adalah besar dan rata.

Keempat, hewan kurban harus dalam kondisi sehat tidak dalam kondisi sakit bisa dilihat dari matanya yang bersinar, gerakan hewan lincah, bulu-bulunya halus tidak kusam. Tanda hewan yang sakit bisa dilihat dari  demam, kurang nafsu makan, kudis atau scabies, ada ekskreta (buangan) dari lubang hidung, bulu badannya banyak yang keriting, kusam dan berdiri, mata cekung dan kotor, diare, serta lemas. Kelima, jangan memilih hewan kurban yang  kurus dan cacat (pincang, buta, daun telinga tidak ada). Pilihlah dengan pilihan terbaik gemuk terlihat dari pantatnya yang berisi, perutnya juga tidak terlihat tulang iganya. Dengan memberikan hewan kurban yang terbaik, akan meraih hasil terbaik pula.

Keenam, ini menjadi tambahan saja karena hewan kurban  yang sehat cuping hidungnya basah (bukan karena flu), bulunya bersih dan mengilap, nafas dan detak jantung normal, nafsu makan normal, lubang kumlah bersih dan berwarna merah muda.**

*Penulis adalah Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kalbar.

loading...