Menabung Emas di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 membuat banyak orang sadar pentingnya investasi yang bisa menjadi dana cadangan untuk kondisi darurat. Emas yang punya daya lindung nilai kuat termasuk menjadi primadona. Mereka yang tak punya modal kuat, tabungan emas bisa jadi solusi.

KUPING Hikmia tak sengaja mendengar percakapan rekan kerjanya tahun lalu. Saat pandemi, pembicaraan soal investasi memang sering muncul. Kali ini, dia mendengar soal tabungan emas.

Otaknya berputar. Saat itu, dia sudah punya emas batangan sebagai investasi kecil-kecilan.

Namun, dia tak pernah berniat untuk menambah stok emasnya.

“Punya satu saja saya sudah waswas. Saya kan pekerja rantau yang sering dinas luar kota,’’ ujarnya.

Hikmia tinggal sendiri di sebuah rumah kos. Teman satu kosnya juga pernah kecolongan. Jelas, dia khawatir emas yang disimpan jadi target pencuri selanjutnya. Karena alasan itu, dia terpikat dengan

tabungan emas. Sebab, perempuan yang akrab disapa Mia tersebut tak perlu menyimpan emas secara

fisik. Instrumen investasi itu disimpan baik-baik oleh lembaga keuangan penyedia layanan.

“Saya buat seperti tabungan saja. Kalau ada uang berlebih, saya langsung tabung. Biasanya Rp 1 juta,’’ tuturnya.

Berbeda dengan Mia, Raisa Hapsari punya alasan lain saat membuka tabungan emas pada 2019. Dia mengaku tertarik tabungan emas tak perlu jumlah minimal. Raisa bebas menentukan berapa jumlah yang disisihkan. Mulai angka Rp100 ribu hingga Rp500 ribu. “Saya perlakukan seperti tabungan. Tapi,

tabungan emas keuntungannya bisa lebih tabungan biasa,’’ ujarnya.

Manfaat tersebut pun sudah dirasakan Raisa. Saat akan melahirkan, dia menarik tabungannya. Rupanya, dia untung beberapa juta rupiah karena nilai emas sedang naik. Saat ini, dia kembali

menumpuk pundi-pundinya lagi di tabungan emas tersebut.

Deputi Bisnis PT Pegadaian (Persero) Area Surabaya 2 Nurhayanto mengatakan, investasi emas telah banyak diminati masyarakat. Perusahaan pelat merah itu pun terus berinovasi untuk memberikan bermacam-macam opsi.

“Dari kami sendiri, ada empat cara. Bisa beli tunai, beli angsuran, arisan emas, atau tabungan emas,” tuturnya.

Dia menyebutkan, lonjakan nasabah terbesar adalah produk tabungan emas. Tahun ini, pihaknya menargetkan 2 ribu rekening baru per bulan di wilayahnya. Namun, realisasinya mencapai dua kali lipat. Hal tersebut disebabkan nasabah tidak dibatasi soal jumlah atau waktu. Dia mencontohkan, skema angsuran atau arisan. Biasanya nasabah harus menyetor uang dengan jumlah yang sudah

ditentukan dalam batas waktu tertentu. “Kalau tabungan, masyarakat bisa beli sampai jumlahnya 0,01 gram. Kalau dikaitkan dengan harga, artinya kelipatan Rp 10 ribu sudah bisa investasi,’’ paparnya.

Nurhanyanto menjelaskan, investasi emas memiliki nilai lindung dari asetnya. Apalagi, nilainya bisa mengimbangi, bahkan melebihi pertumbuhan inflasi.

“Contohnya, sekarang dana Rp 1 juta bisa daftar sekolah. Tapi, belum tentu 10 tahun ke depan. Kalau kita belikan uang Rp 1 juta untuk beli emas, nilai emas itu masih bisa untuk daftar sekolah

untuk 10 tahun lagi,’’ jelasnya. (*/bil/c13/dio/jp)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!