Menanti Asap Usai

kabut asap

Asap makin pekat. Jarak pandang kian pendek. Sekolah sudah libur sejak Kamis (12/9). Pemerintah Kota Pontianak memperpanjang masa libur sekolah hingga Selasa (17/9). Aktivitas pemadaman api di lahan terbakar masih terus berlangsung. Orang-orang yang keluar rumah sudah mengenakan masker, kendati sebagian masih abai terhadap itu. Belum ada yang bisa memastikan hingga kapan situasi ini bisa teratasi.

Masyarakat Kalimantan Barat harus dipaksa menghirup asap dengan kualitas mengkhawatirkan sepanjang hari. Itu karena kualitas udara beberapa hari belakangan terus memburuk, seiring hujan turun tak ekstrim dan merata. Dampaknya selain proses belajar mengajar dipaksakan libur, juga dunia usaha seperti penerbangan mulai terganggu.

Sejak kemarin saja, di Bandara Supadio Pontianak banyak jadwal penerbangan terpaksa terganggu. Bahkan sampai hari ini, juga kembali terjadi penundaan penerbangan. ”Jadwal saya berangkat ke Jakarta harus ditunda hari ini (kemarin). Itu karena jarak pandang pendek sekali. Sampai kapan belum tahu nih,” kata Hendri, anggota DPRD Kalbar yang akan bertolak ke Jakarta urusan kedinasan di Bandara Supadio, Senin siang.

Pendeknya visibility (jarak pandang mendatar) di Bandara Supadio Pontianak juga diakui Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Supadio Pontianak. Forecaster Sutikno menjelaskan bahwa jarak pandang minimum di bawah 1000 meter (1 km) sudah terjadi dari tanggal 06, 07, 08, 09, 10, 11, 12, 13, 14, 15 bahkan tanggal 16 September 2019. Penyebabnya yakni hujan lebat dan kabut asap. “Sore hari saja pukul 15.30 masih berkisar di bawah 800 meter,” ucapnya.

Sementara, Sutikno mengakui bahwa kualitas udara dianalisis berdasarkan pantauan alat kualitas udara Particulate Matter (PM10) di Stasiun Klimatologi Mempawah tanggal 15 September 2019 dilakukan pada pukul 00.00 WIB hingga pukul 23.55 secara umum berada dalam kategori sedang – tidak sehat. Konsentrasi PM10 tertinggi sebesar 303.08 µg/m3 terjadi pada pukul 12.00.Itu artinya kualitas udara masuk dalam kategori sangat tidak sehat.

Lebih jauh dikatakan bahwa panas yang melanda wilayah Kalimantan Barat memang membuat jumlah hotspot mengalami perubahan. Jumlahnya terkadang naik terkadang juga turun.. Sebelumnya menyentuh angka 3116 titik panas, menjadi 572 bertambah lagi menjadi 872 hotspot. Sekarang (kemarin) menjadi 519 hot spot. ”Sebarannya pada 11 Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat. Hanya Kota Pontianak, Singkawang dan Kabupaten landak tak terdeteksi hotspot,” ujarnya.

Olahan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Supadio Pontianak dari peta sebaran hotspot dari olahan data Lapan mempergunakan sensor Modis pada satelit Terra dan Aqua memberikan gambaran lokasi wilayah yang mengalami sebaran hotspot dari tanggal 15 September pukul 07.00 sampai dengan 16 September pukul 07.00.

Wilayah penyumbang hotspot terbanyak tetap dipegang Kabupaten Ketapang dengan 324 titik panas/api. Sementara Kabupaten Kubu Raya tempat Bandar Supadio Pontianak terpapar sebanyak 36 hotspot. “Kabupaten Kayong Utara dengan 51 dan Sintang 71 hotspot,” jelasnya.

Untuk kondisi cuaca dan prospek cuaca terkini pukul 09.00 (16/9), bahwa arah angin dominan bergerak dari arah timur-barat daya. Kecepatan angin maksimum tertinggi sebesar 20 km/jam terjadi di Kabupaten Ketapang. Untuk Suhu Udara maksimum tertinggi mencapai 34.8 derajat celcius terjadi di Melawi. Suhu Udara minimum terendah sebesar 19.8 derajat celcius di Kabupaten Sintang.

Meski demikian data curah hujan menunjukkan secara umum kondisi cuaca cerah berawan. Secara umum hari tanpa hujan di wilayah Kalimantan Barat termasuk dalam kriteria sangat pendek yakni 1 sampai 5 hari, terkecuali di Kota Pontianak, Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Sambas masuk kriteria menengah dari 11 sampai 20 hari.(den)

Read Previous

Melawan Hantu Tandang

Read Next

Jangan Lindungi Korporasi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular