Menanti Kuasa Tuhan

istisqa

SALAT ISTISQA: Seorang ibu berdoa saat salat Istisqa di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Rabu (18/9). Salat Istisqa ini dilakukan untuk memohon turunnya hujan agar kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan segera berakhir. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Warga Serentak Gelar Salat Minta Hujan

PONTIANAK – Berbagai upaya telah dilakukan untuk menangani bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Meski demikian, asap pekat masih saja menyelimuti udara. Hanya bantuan Tuhan melalui hujan-lah yang bisa mengatasi, sekaligus menyempurnakan ikhtiar selama ini.

Ribuan orang dari berbagai komponen masyarakat mengikuti salat sunah istiska (istisqa) di Halaman Kantor Gubernur Kalbar, Rabu (18/9) pagi. Mereka bersimpuh duduk sama rata, berdoa agar Allah SWT segera menurunkan hujan di Bumi Khatulistiwa.

Gubernur Kalbar Sutarmidji mengatakan, semua upaya telah dilakukan untuk menangani karhutla di Kalbar. Hampir sepanjang hari mulai pagi, siang, sore hingga malam para petugas terus berjibaku memadamkan api. Selain itu, sosialisasi maupun penindakan juga telah dilakukan secara maksimal. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya bisa mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Asap pekat masih menyelimuti Bumi Khatulistiwa.

Karena itu, upaya-upaya yang telah dilakukan perlu dilengkapi dengan menggelar salat istiska berjamaah. Sebagai bangsa yang beragama, semua pihak tentu berharap pada tangan tuhan agar menurunkan hujan di daerah ini.

“Insyallah biasanya kalau sudah salat istiska, berarti akan hujan. Karena kita mulai dengan istigfar, artinya kita taubat dari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan selama ini,” ungkap Sutarmidji, usai pelaksanaan salat di Halaman Kantor Gubernur Kalbar, Rabu (18/9).

Orang nomor satu di Kalbar itu mengatakan, jika lahan gambut sudah terbakar maka akan sulit melakukan pemadaman dengan cara-cara manusia. Api yang ada di permukaan bisa saja dipadamkan, namun yang berada di dalam tetap akan menyala.

Jika tidak memiliki air yang cukup untuk memadamkan secara tuntas, justru asap yang ditimbulkan bakal semakin pekat. “Itu saja masalahnya. Makanya perlu ada hujan agar ini bisa selesai dipadamkan,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Kapolda Kalbar Didi Haryono mengatakan, dirinya sependapat dengan pernyataan gubernur. Bahwa melihat kondisi saat ini, memang satu-satunya yang bisa menghilangkan asap adalah hujan.

“Oleh karena itu kami sama-sama. Kemarin Bapak Gubernur menyampaikan agar seluruh Kalbar melaksanakan salat yang sama, serentak di seluruh kabupaten,” ungkapnya kepada awak media.
Semua pihak berharap hujan segera turun agar kabut asap benar-benar hilang. Seperti doa yang dimunajatkan imam sekaligus khatib salat H Usman Rasyid. Ia mengatakan, berkumpulnya berbagai pihak untuk mengikuti salat istiska menunjukkan bahwa manusia tidak ada apa-apanya. Tidak ada kekuatan melainkan perlu kekuatan Allah SWT.

“Dengan penuh kehinaan dan kesalahan semua perlu adanya Allah SWT. Karena sesungguhnya Allah SWT cinta dengan orang-orang yang mau bertaubat,” ucapnya.

Berkumpulnya umat muslim di sana diharapkan bukan semata-mata untuk meminta hujan. Melainkan sama-sama mau mengintrospeksi diri masing-masing. Mengoreksi dan memeriksa diri masing-masing sebelum diperiksa oleh Allah SWT.

“Kemaksiatan apa yang dilakukan, kesalahan apa yang dilakukan selama ini. Apa yang dihajatkan dan apa yang diinginkan, mudah-mudahan Allah SWT menurunkan hujan di negeri kita ini,” doanya.

Seperti diketahui selain dihadiri Gubernur Kalbar beserta para pejabat di lingkungan Pemprov Kalbar, pelaksanaan salat istiska juga dihadiri Kapolda Kalbar Irjen (Pol) Didi Haryono, Pangdam XII Tanjungpura Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad serta unsur Forkopimda lainnya. Selain itu, salat sunah dua rakaat ini juga diikuti para ASN, anggota TNI, Polri, tokoh agama dan masyarakat umum.

Terpisah Kepala BPBD Provinsi Kalbar Lumano menjelaskan, dari informasi BMKG hujan secara merata untuk wilayah Kalbar diprediksi baru akan turun pada 21 September mendatang. Sebelum tanggal tersebut, yakni pada Jumat (20/9) besok kemungkinan sudah terjadi hujan. Akan tetapi, hujan terjadi hanya di sebagian wilayah tertentu. Seperti di Kabupaten Sambas, Bengkayang dan Kota Singkawang.

“Jadi masih dua atau tiga hari lagi (bakal turun hujan), baru merata,” katanya.

Tersangka Karhutla

Sementara itu, Kepolisian Daerah Kalimantan Barat menetapkan manajer PT SAP dan PT SISU sebagai tersangka kebakaran hutan dan lahan. Dua perusahaan kelapa sawit yang berkedudukan di Kabupaten Sanggau itu diduga melakukan kelalaian, sehingga lahannya terbakar.

Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Donny Charles Go mengatakan, pihak penyidik tengah melakukan proses pemeriksaan terhadap saksi ahli dan uji laboratorium sebelum dilakukan tahap 1 ke kejaksaan. “Saat ini masih pemeriksaan saksi ahli dan uji laboratorium di Institut Pertanian Bogor (IPB),” katanya.

Selain itu, lanjut Donny, pihaknya juga tengah mendalami pemeriksaan terhadap sejumlah saksi. “Ada beberapa saksi yang diperiksa. Sementara ini, dugaan sementara karena kelalaian,” sebutnya.

Namun demikian, Donny enggan merinci lebih jauh terkait penetapan tersangka tersebut. Dia hanya memastikan, kedua tersangka di masing-masing perusahaan berstatus sebagai manajer. “Semuanya manajer perusahaan, yang dianggap paling bertanggung jawab. Sementara hanya itu dulu ya,” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, kepolisian telah menangani sebanyak 66 kasus karhutla di Kalbar, dari jumlah kasus itu, 60 orang ditetapkan sebagai tersangka. Selain kasus karhutla perorangan, kepolisian juga menindak kasus karhutla yang melibatkan korporasi. Setidaknya, hingga saat ini, sebanyak 15 perusahaan yang diproses, 2 diantaranya ditingkatkan ke penyidikan.

Kemudiam ada dua pula perusahaan perkebunan kelapa sawit yang disegel kepolisian, yakni PT GMU di Kabupaten Sintang dan PT CKP di Kabupaten Sambas. (bar/arf)

Read Previous

Mobil Oksigen Layani Masyarakat Yang Sesak Napas

Read Next

Menpora Diduga Terima Rp 26,5 M

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular