Menatap Peluang Masa Depan Ekspor Kalbar ke China

ILUSTRASI TAMBANG

PONTIANAK – Provinsi Kalimantan Barat memang terus merancang beberapa potensi ekspor dan impor sebagai bentuk kerjasama dengan Republik Rakyat Tiongkok (Cina). Diprediksi ke depannya seiring diresmikannya Pelabuhan Laut Internasional Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat bakalan banyak kerjasama dijalin ke beberapa negara. Tidak hanya dengan Tiongkok dari sektor pertambangan saja.

Dikutip dari situs Humas Pemprov Kalbar bahwa Wakil Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menyebutkan kerja sama yang dijalin dengan Tiongkok ke depan tidak hanya dari sektor pertambangan saja. “Kita harus berupaya sebisanya tidak hanya dari bidang tambang saja. Bidang perikanan misalnya, ikan arwana, sarang walet berpotensi primadona ekspor ke China ditambah lagi dengan pengolahannya yang baik, sehingga harganya pun cukup mahal,” ucapnya.

Menurutnya, saat ini Kalimantan Barat telah melakukan ekspor 10 komoditas ke Tiongkok, di antaranya yaitu, bauksit, CPO, serta bahan tambang lainnya. Bukan hanya bidang pertambangan, sektor pariwisata juga mampu melakukan kerja sama dengan China.

Mantan Bupati Mempawah itu mengungkapkan bahwa terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait kerja sama tersebut, salah satunya mengenai penyebab kendala ekspor impor dari Kalbar. “Makanya kita minta bantu dengan Duta Besar untuk Republik Indonesia yang ada di Beijing, untuk memfasilitasi kita dalam hal regulasi,” ujarnya. Ketua Komisi II DPRD Kalbar, Affandi menyambut baik kerjasama ekspor Kalbar harus terus ditingkatkan ke depan. “Bukan hanya tambang. Barang-barang laiin berpotensi ekpsor harus bisa kita jual ke luar. Tidak hanya ke Cina saja ke beberapa negara juga bisa,” tukas dia.

Sebagai bahan informasi, nilai ekspor Kalbar pada Februari 2021 mengalami peningkatan dibanding Januari 2021 sebesar 17,68 persen. Namun, nilai ekspor ke Tiongkok sejak Januari hingga Februari 2021 mengalami penurunan, yaitu USD 95,19 juta dari nilai ekspor pada periode yang sama di tahun 2020 yang mencapai USD 97,91 juta atau menurun sekitar 2,78 persen.

Sementara itu, Duta Besar RI untuk RRT dan Mongolia, Djauhari Oratmangun menyebutkan, Tiongkok merupakan mitra dagang dan tujuan ekspor terbesar di Indonesia untuk saat ini. Dimana, Indonesia menempati urutan ke 14 sebagai eksportir terbesar ke Tiongkok. “Tahun 2020 Indonesia naik satu peringkat menjadi urutan ke tiga belas sebagai eksportir terbesar ke Tiongkok, walaupun ditengah pandemi saat ini hubungan bilateral Indonesia dan Tiongkok masih terjalin baik,” ujarnya.(den)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!