Meneladani Nabi Ibrahim dalam Mendidik Anak

opini pontianak post

ilustrasi opini

Oleh: Dr. Harjani Hefni, Lc, MA

Nabi Ibrahim dan istri adalah contoh orang tua sukses dalam mendidik anak. Kesuksesan mendidik anak berawal dari kesuksesan Nabi Ibrahim mendidik diri dan istrinya. Nabi Ibrahim adalah sosok pribadi yang teguh dalam menegakkan dan memperjuangkan prinsip kebenaran dalam kehidupan. Dalam perjuangannya itu dia banyak mendapatkan cobaan dari Allah, tapi seluruh cobaan dan ujian tersebut dijalani oleh Nabi Ibrahim dengan ketabahan dan keikhlasan. Hasil dari ujian tersebut Nabi Ibrahim mendapat nilai sempurna.

Allah berfirman, “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya, dan dia menyempurnakan ujian tersebut.” (QS. Al Baqarah: 124). Karena semua cobaan dan ujian dijalani dengan nilai sempurna, maka Ibrahim dinobatkan menjadi kholilullah (kekasih Allah). Kapasitas Bapak yang unggul dengan Ibu yang juga terpilih melahirkan generasi unggul selama berabad-abad. Bahkan, seluruh Nabi setelah beliau sampai Nabi Muhammad SAW berasal dari keturunannya. Nama Nabi Ibrahim senantiasa hadir di hati kita. Nabi Muhammad mengajarkan untuk menyebut nama Nabi Ibrahim bersama dengan nama Nabi Muhammad dalam setiap salat yaitu pada tasyahhud akhir sebelum salam.

Pelajaran Mahal dari Nabi Ibrahim

Di antara pelajaran penting dari Nabi Ibrahim adalah keyakinan dengan kekuatan doa. Di antara doa terkenal yang selalu beliau panjatkan adalah, “Robbi ij’alni muqima ash sholata wa min dzurriyyati, Robbana wa taqobbal du’a. (Ya Allah, Jadikanlah daku orang yang selalu mendirikan sholat, dan demikian juga untuk keturunan-keturunanku).” (QS. Ibrahim:40).

Mendoakan anak agar menjadi pendiri salat adalah pilihan yang sangat tepat. Dari salat yang benar, seluruh kebaikan akan terwujud dan kejahatan tertangkal. Nabi Ibrahim mengajarkan agar tidak berhenti dengan doa, tetapi harus disertai ikhtiar dan usaha maksimal untuk merealisasikan doa yang dipanjatkan. Di antara bentuk ikhtiar itu adalah mengajak Ismail untuk membangun Baitullah. Allah memerintahkan untuk selalu mengingat peristiwa ini dalam firman-Nya, “Wa idz yarfa’u Ibrahim al-qawa’ida minal baiti wa Ismail…(Dan ingatlah saat Ibrahim membangun Baitullah beserta Ismail..).”(QS. Al Baqarah:127).

Peristiwa ini mengandung pelajaran yang sangat luar biasa. Keterlibatannya membangun membuat Ismail kecil langsung merasa memiliki dan bertanggungjawab terhadap Baitullah. Dari sini tertanam cinta masjid. Selain membangun masjid, Nabi Ibrahim juga sengaja memilih lingkungan tempat tinggal anak keturunannya di dekat Baitullah agar anak keturunannya mendirikan salat.
Allah berfirman, “Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan sholat…”.(QS. Ibrahim: 37).

Anak Nabi Ibrahim dari istrinya Sarah juga tidak kalah hebatnya. Dari Sarah lahirlah Ishaq dan dari Ishaq lahirlah Ya’qub. Di antara anak Nabi Ya’qub adalah Yusuf as. Nabi Ibrahim berwasiat khusus kepada anak-anaknya agar senantiasa berpegang teguh dengan agama yang telah Allah pilihkan untuk mereka, dan tidak menukar agama sampai akhir hayat.

Berdasarkan uraian di atas, ada enam rahasia sukses Nabi Ibrahim dalam membina generasi unggul. Pertama, menjadi ayah yang saleh dan menjadi kebanggaan anak-anaknya serta memilih ibu yang salehah. Kedua, meyakini kekuatan doa dan banyak mendoakan anak-anaknya. Ketiga, memilih lingkungan yang baik untuk pertumbuhan anak. Keempat, peduli dengan masjid. Kelima, mendidik anak dengan metode partisipatif. Keenam, selalu mengawasi komitmen keberagamaan anak-anaknya hingga menjelang tutup usia.

Bagaimana dengan Kita ?

Enam mutiara dari Ibrahim abadi sepanjang masa. Selaku ayah, mesti berusaha agar menjadi panutan dan kebanggan anak-anaknya. Harus banyak berdoa kepada Allah agar anak-anak dan pasangan hidup senantiasa membahagiakan hati. Bahkan, Allah mengajarkan agar mendoakan anak keturunan bisa menjadi pemimpin masa depan.
Doa harus disertai dengan usaha maksimal sebagai bukti bahwa serius meminta kepada Allah. Pilihkan mereka lingkungan yang kondusif, baik di rumah, di sekolah, maupun lingkungan tempat tinggal dan teman-teman mereka. Lingkungan yang baik sangat mendukung untuk menghadirkan anak yang saleh dan salehah. Agar anak cinta Alquran, pilihlah lingkungan yang mendukung mereka untuk cinta Alquran. Ajak mereka untuk terlibat langsung dengan amal-amal baik yang dikerjakan. Kawal selalu keyakinan mereka hingga akhir hayat. Tanya kepada mereka tentang keyakinan agama. Kita pasti akan tenang berpisah dengan dunia manakala anak-anak kita menjawab pertanyaan dengan mantap bahwa mereka akan mengikuti kita, tidak mati kecuali dalam keadaan menyembah Allah yang Maha Esa. **

Penulis adalah dosen IAIN Pontianak

Read Previous

Komitmen Memberikan Layanan Terbaik, Petugas PLN GI Singkawang Standby 24 Jam Nonstop

Read Next

Moeldoko Sebut Ada OPM di Balik Kerusuhan Papua

Tinggalkan Balasan

Most Popular