Menelisik Konflik Lewat Musik Satire

SENI adalah media lain untuk bersuara. Lewat karya, banyak seniman yang menyampaikan pesan. Beberapa diantara mereka menyajikannya saecara tersirat. Ada juga yang secara langsung. Nggak jarang, mereka disebut sebagai musisi kritisa dengan karya satire. Siapa aja, sih?

ASK THEM

Z: Dikenal sebagai musisi satire, sebenarnya apa sih yang melandasi ide bermusik sejak awal karir hingga kini?

Bin Idris: “Kadang aku jengah melihat konflik, apalagi karena pilihan politik. Aku pun merespons kegelisahan tersebut lewat lagu Rukun Warga. Karya itu menunjukkan betapa lelahnya melihat konflik hingga hadirnya hoax politik yang mengakibatkan perpecahan.”

Enau: “Keputusan mengangkat isu sosial karena ingin menuangkan apa yang kami lihat dan rasakan di sekitar. Selama hak berekspresinya dilindungi, kami percaya musisi Indonesia berkarya dari hati dan berniat menghibur banyak orang.”

Z: Sejauh ini apa sih dampaknya?

Bin Idris: “Nggak mungkin hanya dengan membuat lagu permasalahan dapat diselesaikan dengan mudah. Seniman atau musisi menerjemahkan isu tersebut dengan iringan musik lewat cara yang menyenangkan untuk dinikmati.”

Enau: “Salah satu lagu kami bertajuk Negara Lucu membawa cerita. Misalnya, seorang pegawai kantoran yang memutuskan untuk berwirausaha setelah mendengarkan lagu tersebut. Ini menunjukkan karya seni bisa membawa banyak dampak positif terhadap orang lain.”

Z: Menurutmu, gimana sih masa depan kebebasan bermusik para musisi?

Bin Idris: “Tentu kita tahu akhir-akhir ini ramai soal RUU Permusikan. Banyak musisi yang bersuara karena ada beberapa pasal yang bisa jadi alat untuk memenjarakan seniman dan musisi. Musik adalah pengalaman yang personal. Interpretasi setiap pendengar akan berbeda satu sama lain.”

Enau: “Industri musik Indonesia punya masa depan yang cerah jika dikelola dengan benar dan tepat sasaran. Yang terpenting, lindungi hak kami untuk berkarya. Kembali lagi ke pernyataan saya di atas, musisi itu buat karya, sedangkan negara yang menjaganya. Benar bukan?” (efn/nen/c14/raf)

Bin Idris
Front man Sigmun, Haikal Azizi, juga dikenal dengan musiknya yang kontemplatif lewat side project-nya, Bin Idris. Dia telah merilis dua album. Yakni, album debutnya yang self-titled pada 2016 dan album kedua, Anjing Tua, yang dirilis pada 2017. Bin Idris mahir mengolah kata-kata lewat lirik lagunya seperti kerinduan pada kampung halaman yang tertuang dalam lagu Jalan Bebas Hambatan atau menyindir kedua kubu politik yang saling berseteru lewat lagu Rukun Warga. Aransemennya sederhana, bernyanyi diiringi petikan gitar, tapi tetap otentik dan berkarakter kuat.

Enau
Kebiasaan masyarakat Indonesia diramu dengan epik dalam album 337 yang dirilis tahun lalu. Album itu terdiri atas enam lagu. Tiga lagu di antaranya bertajuk Pemanasan, Keringat Lucu, dan Krisis Solusi. Karya Eńau pun sarat dengan lirik menggelitik. Ada yang menyinggung hoax, kebiasaan buruk di jalan, hingga perundungan. Thanks to Putra Permana atau Eńau, musisi independen kelahiran Pekanbaru di balik ide genius tersebut. Dia mempunyai gaya musik aliran pop blues dengan lirik-lirik menggelitik dan mengangkat isu-isu sosial. Karya-karyanya terinspirasi dari Iwan Fals serta kakaknya, vokalis Fourtwnty Ari Lesmana. Keep it up!

Read Previous

Bupati Sambas Terima Brevet dari TNI AL

Read Next

Merdeka, Percaya Kekuatan Sendiri

Most Popular