Menelisik Praktik Culas Tambang Antimoni

Berton-ton batuan tambang antimoni diselundupkan ke Malaysia. Praktik culas ini, disinyalir melibatkan banyak pihak, mulai dari warga sipil, oknum tentara, pihak asing, hingga perusahaan tambang yang memiliki izin resmi. Bagaimana modus penyelundupan itu dilakukan? Berikut penelusuran wartawan Pontianak Post.

ARIEF NUGROHO, Pontianak

SUASANA ruang besuk Rutan Klas IIB Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu terlihat sesak. Hari itu adalah jadwal berkunjung bagi keluarga warga binaan. Tak terkecuali keluarga Saparudin.

Sejak 17 Januari 2019 lalu, pria yang menjabat sebagai Kepala Dusun Betung, Desa Nanga Betung, Kecamatan Boyan Tanjung itu menyandang status tersangka dalam perkara penyelundupan batuan tambang antimoni ke Malaysia. Ia dituduh sebagai pembeli dan pengumpul antimoni dari pertambangan masyarakat.

Antimoni adalah batu yang kerap digunakan pada teknologi semikonduktor untuk membuat detektor inframerah, dioda dan peralatan hall-effect. Unsur logam dengan rumus kimia Sb ini dapat meningkatkan kekerasan dan kekuatan timbal. Baterai, logam anti friksi, senjata ringan dan tracer bullets (peluru penjejak), pembungkus kabel, dan produk-produk minor lainnya. Kegunaan lain antimoni yakni untuk membuat senyawa tahan api, enamel cat keramik, gelas dan pot. Mineral logam ini banyak ditemukan di Kapuas Hulu.

Menjelang zuhur, lonceng tanda akhir kunjungan pun berbunyi. Para warga binaan harus kembali ke blok masing-masing, berpisah dengan keluarga tercinta. Siang itu, Kamis (27/2), Pontianak Post berkesempatan menemui pria paruh baya yang akrab disapa Udin itu. Kami bertemu di sebuah tempat mirip gazebo di ruang terbuka, yang terletak di antara pagar besi dan tembok tinggi.

Warga Tiongkok bernama Zhou Zhichao atau biasa dipanggil Mr Chao.

“Saya bukan pemilik batu itu (antimoni_Red). Itu milik Mr. Chao. Saya hanya diminta untuk membayar. Duitnya pun bukan duit saya,” kata Udin membela diri atas tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Udin memang bukan satu-satunya orang yang terlibat dalam perkara itu. Penyidik kepabeanan menetapkan dua orang lainnya sebagai tersangka. Seorang sopir dan oknum PNS di lingkungan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Nanga Badau.

Read Previous

Jeno: Empat Pilar Kebangsaan Alat Utama Cegah Konflik

Read Next

Pindah Ibu Kota Untungkan Kalbar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *