Menepis Mitos Menyeramkan Imunisasi

Kendati tinggal tak jauh dari pusat kota, sebagian ibu rumah tangga Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya belum sadar akan pentingnya imunisasi. Mereka enggan mendatangi posyandu untuk mendapatkan imunisasi lengkap bagi anaknya. Target cakupan imunisasi yang dipatok pemerintah daerah pun terancam tidak tercapai. Pemerintah Kabupaten Kubu Raya berupaya keras mengatasi masalah ini.

Ashri Isnaini, SUNGAI RAYA

WAKTU menunjukkan pukul 9.00 WIB pada pertengahan November lalu. Posyandu Mekarsari, Desa Limbung dipadati ibu-ibu. Jumlahnya sekitar seratusan orang. Mereka memboyong anaknya masing-masing untuk mendapatkan pelayanan posyandu, termasuk imunisasi. Dalam kesempatan itu, petugas memang tak sekadar mengukur tinggi dan menimbang berat badan, tetapi juga memberikan vitamin serta vaksin polio dan campak bagi anak-anak.

“Kalau dikalkulasikan, sebenarnya sasaran balita di wilayah kerja kami yang harusnya mendapatkan imunisasi dasar lengkap sekitar 147 anak. Namun belum semuanya rutin datang ke posyandu,” kata Ketua Posyandu Mekarsari, Sri Mawarni kepada Pontianak Post.

Banyak alasan yang membuat masyarakat enggan mendatangi posyandu untuk mengimunisasi anaknya. Rata-rata karena masih berpegang teguh pada kepercayaan nenek moyang yang anti-imunisasi.

Sebagian orang tua menganggap imunisasi bukanlah sebuah kewajiban. Ada pula yang khawatir sang anak menjadi demam atau sakit usai diimunisasi.

Upaya memberikan pemahaman kepada para orang tua sudah sering dilakukan kader posyandu. Sayangnya, masih ada saja orang tua yang enggan memberikan imunisasi lengkap bagi anaknya.

“Ada yang tidak tega melihat anaknya demam atau sakit usai divaksin. Ada juga yang khawatir disalahkan suami atau mertuanya karena membiarkan sang anak diimunisasi dan beberapa alasan lain,” jelasnya.

Ditemui di kediamannya, Warga Desa Limbung, Ana (36) mengaku sempat tidak mau mengimunisasi anaknya. Keengganan itu muncul lantaran Ana melihat cukup banyak efek samping dari imunisasi.

“Belum lama ini ada juga pro kontra soal imunisasi yang katanya mengandung zat atau unsur haramnya, itu juga membuat saya berpikir ulang mau mengimunisasi anak,” jelasnya.

Tak jauh dari rumah Ana, Warga Desa Limbung lainnya, Lisna (32) juga tidak rutin mendatangi posyandu guna memeriksakan tumbuh kembang anak atau untuk imunisasi. Ibu dua anak ini berprofesi sebagai guru PAUD. Terkadang jadwal pelayanan posyandu bersamaan dengan jadwalnya mengajar sehingga ia tidak sempat.

“Kalau pas kebetulan sempat, saya datang ke posyandu. Kalau tidak sempat, ya terpaksalah tidak datang. Pun saya lihat sejauh ini tumbuh kembang anak saya baik-baik saja. Di rumah, saya selalu memberikan asupan makanan dan gizi seimbang bagi anak seperti makan sayur, buah-buahan dan susu,” ujarnya.

Meski begitu, dalam beberapa bulan terakhir, baik Ana maupun Lisna mengaku lebih termotivasi mendatangi posyandu untuk mendapatkan imunisasi dasar lengkap bagi sang anak.

“Sekarang sudah ada sertifikat bagi anak yang sudah mendapatkan imunisasi lengkap. Katanya nanti juga akan menjadi syarat untuk masuk sekolah, makanya saya jadi bersemangat,” kata Ana.

Baginya, selain untuk memenuhi syarat masuk sekolah, ada kebanggaan tersendiri saat anaknya mengantongi sertifikat imunisasi.

“Ada reward-nya juga dari posyandu. Jadi ada kebanggan tersendirilah saat anak saya dapat sertifikat imunisasi dasar lengkap ini,” ujarnya.

Tak hanya di Posyandu Mekarsari, minimnya kesadaran masyarakat untuk mendatangi posyandu sebelumnya juga terjadi di Posyandu Arang Jaya, Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya. Hal ini diakui Sumiati, Ketua Posyandu Arang Jaya.

“Kalau ibu itu pendidikannya rendah, okelah, kami bisa paham. Ini di lapangan ada yang berpendidikan tinggi dan berasal dari kalangan menengah ke atas juga masih ada yang menolak imunisasi. Alasannya keyakinan dan sejenisnya. Inilah yang membuat kami harus berupaya keras untuk sosialisasi mengenai pentingnya imunisasi,” ungkapnya.

Belajar dari pengalaman belasan tahun menjadi kader posyandu, Sumiati berupaya membuat sejumlah terobosan untuk memotivasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Salah satunya dengan memberikan reward atau hadiah bagi anak yang rutin mendatangi posyandu dan mendapatkan imunisasi dasar lengkap.

“Dengan pemberian reward, ada peningkatan jumlah kunjungan meskipun tidak banyak, makanya kami harus kerja keras lagi,” ungkapnya.

Sumiati mengaku terbantu dengan adanya kebijakan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya soal pemberian sertifikat imunisasi dasar lengkap. Sejak kebijakan itu diterapkan, kunjungan ke posyandu terus meningkat.

“Sertifikat ini rencananya akan dijadikan syarat untuk daftar masuk sekolah. Makanya sejak beberapa bulan terakhir, alhamdulillah kunjungan ibu-ibu yang memeriksakan tumbuh kembang dan ingin mengimunisasi anaknya ada penambahan,” papar Sumiati.

Ke depan, ia berharap masyarakat tidak sekadar mengimunisasi anak karena ingin mendapatkan sertifikat tetapi karena kesadaran bahwa imunisasi dasar lengkap itu memang penting untuk mendorong tumbuh kembang anak.

Jurus Jitu Sertifikat Imunisasi
Dinas Kesehatan Kubu Raya mulai memberikan sertifikat bagi anak-anak yang sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap sejak Agustus 2019. Sertifikat yang dinamakan sertifikat IDL (Imunisasi Dasar Lengkap) ini akan dijadikan sebagai salah satu syarat untuk masuk Sekolah Dasar (SD).

Kepala Seksi Imunisasi, Surveilens dan Penanggulangan Dinas Kesehatan Kubu Raya, Dyah Puspitowati menerangkan kebijakan ini diambil karena tingkat kesadaran masyarakat untuk mengimunisasi anaknya masih relatif rendah. Melalui kebijakan tersebut, diharapkan orang tua bisa lebih termotivasi untuk melengkapi imunisasi anaknya sebelum masuk sekolah.

“Kami bersyukur, walaupun sertifikat IDL ini baru sebatas imbauan melalui instruksi bupati, tetapi sejak beberapa bulan terakhir sudah ada peningkatan jumlah ibu yang mendatangi posyandu dan puskesmas untuk mengimunisasi anaknya,” ungkap Dyah.

Sepanjang 2019, sasaran imunisasi di 20 puskesmas di wilayah Kubu Raya tercatat mencapai 10.867 bayi. Namun hingga Oktober 2019, Dinas Kesehatan Kubu Raya baru bisa mengimunisasi sebanyak 7.053 bayi.

“Artinya capaian imunisasi dasar lengkap yang kami lakukan baru sekitar 64,8 persen. Sementara, target capaian minimal secara nasional sekitar 80 persen. Target ini harus bisa dicapai hingga Desember 2019,” katanya.

Apa upaya Dinas Kesehatan Kubu Raya untuk mengejar target tersebut? Menurut Dyah, pada dasarnya adalah bagaimana mengoptimalkan daerah-daerah yang masih banyak ditemukan bayi yang belum mendapat imunisasi lengkap. Selain rutin melakukan sosialisasi, pihaknya juga akan melakukan kunjungan langsung ke lapangan. Dyah berharap capaian minimal 80 persen bisa terpenuhi di pengujung tahun.

“Upaya jemput bola harus terus dilakukan. Dengan pendekatan persuasif secara langsung ini diharapkan bisa meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi bagi anak-anak,” ungkapnya.

Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan menegaskan pemberlakuan sertifikat IDL sebagai syarat untuk masuk SD akan resmi dimulai pada tahun 2020. Ia berharap kebijakan ini nanti bisa membuat semua anak di Kubu Raya memperoleh imunisasi dasar lengkap.

“Jadi nanti kebijakan sertifikat imunisasi dasar lengkap ini akan disinergikan dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di Kubu Raya,” jelasnya.

Jika imunisasinya lengkap, kata Muda, otomatis imunitas atau kekebalan tubuh anak juga semakin baik. Anak akan lebih sehat. Dengan demikian, diharapkan tumbuh kembang anak juga menjadi optimal sehingga menjadi generasi cerdas yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang andal. (*)

Read Previous

Okto: Kita Akan Bertempur Habis-habisan di Sea Games 2019

Read Next

Relawan Sambas Makmur Hadir Setiap Kecamatan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *