Mengajar Anak Cara Menyikapi Kritik

Fitri Sukmawati // Psikolog

Cara tiap orang menyikapi kritik yang diterimanya tak sama, termasuk anak. Padahal, bagi buah hati, cara menyikapi kritik menjadi salah satu hal yang dapat mendukung kesuksesan dan kelancaran hidupnya di masa depan. Diperlukan peran orang tua untuk membantu si kecil dalam menghadapi semua kritik yang ditujukan padanya.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Sebagian orang tua masih enggan mengenalkan pemahaman dalam menyikapi kritik pada anak sejak dini. Mereka beranggapan pemahaman menyikapi kritik lebih pas diberikan saat anak menginjak usia remaja awal atau akhir. Tanpa disadari saat anak berada di lingkungan dan mendapat kritik, baik dari teman sebaya atau lingkungannya, dia akan menganggap kritik sebagai serangan pribadi yang membuatnya marah, tersinggung, pesimis, dan defensif.

Sebenarnya sejak kapan orang tua dapat mengenalkan dan memberikan pemahaman cara menyikapi kritik? Psikolog Dr. Hj. Fitri Sukmawati, M.Psi mengatakan orang tua dapat mengenalkan pemahaman tersebut sejak buah hati sudah bisa diajak berkomunikasi.

Dimulai dengan memberikan contoh sederhana yang disesuaikan dengan tahapan-tahapan pola pikir buah hati. Misalnya, ketika anak memberikan barang dengan cara melempar, orang tua boleh bertindak memberi masukan dan mengatakan hal itu tak baik.

“Hal ini bentuk nasihat berupa kritikan dengan bahasa yang lembut. Tentu dapat merubah perilaku anak jadi baik,” ucap Fitri.

Orang tua juga bisa lebih dulu memberikan contoh, jika anak masih kesulitan membedakan kritikan. “Terpenting, hindari membenarkan setiap perilaku anak, terlebih jika ia berbuat salah dengan anggapan anak masih kecil,” katanya.

Ketua HIMPSI Wilayah Kalbar ini menuturkan mengenalkan cara menyikapi kritik membuat anak memahami alasan seseorang memberikan kritik padanya. Bisa saja kritik diberikan karena melakukan kesalahan. Jika anak sudah dikenalkan cara menyikapi kritik, ia tentu tak akan marah.

“Anak akan menyadari telah melakukan kesalahan. Anak akan terus belajar agar tak lagi melakukan kesalahan yang sama dan lebih baik kedepannya,” tuturnya.

Fitri tak menampik saat ini masih banyak anak-anak yang merasa tak melalukan kesalahan karena tak ada pengenalan dan pemberian pemahaman cara menyikapi kritik dari orang tuanya. Karena saat anak melakukan kesalahan orang tua tak pernah menegur.

Saat tanpa sengaja anak mendapat kritikan, ia akan beranggapan bahwa itu adalah marah. Padahal, kritik dan marah adalah dua hal berbeda. Perbedaannya terletak pada intonasi dan body languange. Ketika marah mata tak terkontrol dan intonasi suara tinggi

Berbeda dengan kritik. “Apa yang diutarakan karena anak melakukan kesalahan. Akan tapi, tetap saja saat memberikan kritik lebih baik mengajak anak dudik bersebelahan atau memangkunya sambil mengusap kepalanya. Sehingga anak tahu kritik bukanlah marah,” ungkap Fitri.

Dia menambahkan jika orang tua tak memberi pemahaman mengenai kritik dan mengatasinya, anak bisa saja menjadi pribadi ‘liar’. “Tak tahu mana yang baik dan buruk dan itu akan menjadi kebablasan karena ia tak pernah dapat pembelajaran dan selalu merasa benar,” pungkasnya. **

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!