Mengajari Buah Hati untuk Memaafkan

BANTUAN: PT ANTAM Tbk-UBPB Kalbar serahkan bantuan 500 Rapid Test ke Gugus Tugas Sanggau. ISTIMEWA

Anak-anak perlu belajar tentang menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Termasuk salah satunya konsep memafkan sewaktu orang lain berbuat kesalahan sehingga melukai dirinya. Dengan mengajarkan anak konsep memaafkan akan membentuk pribadi penyayang dan peduli terhadap sesama.

Oleh : Siti Sulbiyah

Kemarahan anak kerap kali muncul ketika terlibat perkelahian dengan temannya saat bermain. Kemarahan ini bisa disebabkan karena dipukul teman, berebut mainan, atau jatuh karena didorong saat bermain. Hal ini adalah hal yang biasa dalam pertemanan anak-anak.

Namun kadang kala, si kecil menolak bermain lagi dengan temannya dan memillih bermain sendiri, meskipun temannya sudah menyodorkan tangan untuk minta maaf. Nah, di sinilah peran orangtua dalam mendidik anak mulai diuji. Tugas merekalah membujuk dan mengajari anak untuk memaafkan.

Seperti yang dialami Kiya. Anak dari pasangan Runni dan Yudhi ini biasanya mudah jera. Jika saat bermain ada temannya yang iseng, dia pun enggan untuk bermain bersama kembali. Saat teman meminta maaf, Kiya juga memerlukan waktu untuk memaafkan.
“Saat ada temannya meminta maaf, dia memaafkan. Tapi tetap enggan bermain bersama kembali,” jelas Runni.
Runni pun bersikap tak memaksa anaknya untuk bermain bersama. “Saya biarkan dulu. Sambil saya beri pengertian bahwa memaafkan itu harus ikhlas. Tidak boleh ada embel-embel seperti masih ngomel-ngomel,” kata Runni.

Menurut Isyatul Mardiyati, M.Psi Psikolog, konsep maaf dan memaafkan penting untuk ditanamkan pada diri anak sedini mungkin. Bahkan ketika mereka masih bayi, yang secara nalar mereka belum mengerti.

“Kebiasaan untuk maaf dan memaafkan baik untuk dipupuk sejak masih bayi,” ungkap Isyatul.

Ketika anak beranjak tumbuh dan mulai mengerti apa yang ia rasakan, menurutnya, mereka sudah bisa mengekspresikan perasaannya itu. Termasuk perasaan marah dan kesal ketika ada hal-hal yang membuatnya sakit. Perlu diingat bahwa, marah dan kesal bisa terjadi pada siapa pun, termasuk juga pada seorang anak kecil.

Kunci dari mendidik anak untuk memaafkan ada pada contoh dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang di sekitarnya. Proses memaafkan akan lebih mudah dilakukan buah hati bila dirinya mempunyai contoh langsung dari orangtuanya. Karena itulah, orangtua jangan ragu membiasakan diri meminta maaf bila melakukan hal yang tidak disukai anak.

“Ketika orangtua berbuat salah pada anak, katakanlah minta maaf. Minta maaf ya dek, bunda salah. Begitu misalnya,” tutur dia.

Anak-anak akan mudah memaafkan dan ia akan meniru apa yang dicontohkan orangtua. Itu sebabnya pula, orangtua pun harus bisa memaafkan buah hati ketika ia tidak sengaja berbuat salah.

Namun, jika sikap memaafkan tidak dibiasakan, menurut Dosen Psikologi Islam di IAIN Pontianak ini, dikawatirkan akan memunculkan sikap pendendam anak. Menyimpan kebencian justru tidak baik bagi buah hati. Sikap sayang dan menyayangi sulit ditumbuhkan jika ada ketidaksukaan yang dipendam.

“Karena kalau dibiarkan, maka yang muncul adalah sifat pendendam,” tutur dia

Sifat pendendam yang ada pada diri anak ini dikhawatirkan akan berbuah pada prilaku yang tidak baik. Salah satunya adalah perilaku perundungan, yang kebanyakan diawali dari rasa marah dan dendam yang dipendam. Ketika anak berada pada kondisi tertentu, bisa saja ia melampiaskan kemarahannya itu dengan cara merundung orang lain.**

loading...