Mengangkat Pamor Kopi Gambut

kopi gambut

KOPI GAMBUT: Masyarakat di Desa Sumber Agung, Kecamatan Batu Ampar, Kubu Raya menanam kopi jenis robusta di lahan gambut. HARYADI/PONTIANAKPOST

Tangkal Karhutla hingga Tambah Pendapatan Warga

Warga Desa Sumber Agung, Kecamatan Batu Ampar, Kubu Raya giat berkebun kopi di lahan gambut. Selain meningkatkan pendapatan, perkebunan kopi mampu menangkal kebakaran lahan yang kerap terjadi di desa itu. Bagaimana ceritanya?

HARYADI, Batu Ampar

Siang itu Mamade (55) bersantai di teras rumahnya usai memanen kopi. Letak kebun kopinya tepat di belakang rumahnya. Lahan seluas satu hektare itu ditanami kopi jenis robusta dan liberika. Dua jenis kopi ini tumbuh subur di lahan gambut milik Mamade. Setiap hari, dia rutin mengecek tanaman kopinya untuk memilih biji yang sudah memerah.

“Di pengujung tahun sudah masuk musim selang kopi, jadi buahnya tidak merata bahkan ada pohon yang tidak berbuah,” ungkap Mamade saat ditemui Pontianak Post, dua pekan lalu.

Pohon kopi yang tumbuh hampir dua meter itu ternyata tanaman baru yang dulunya sempat terbakar. Kebakaran lahan yang cukup luas pernah terjadi dua kali di Desa Sumber Agung. Namun yang paling dirasakan secara ekonomi dan kesehatan adalah pada 2015.

Peristiwa itu masih merekat dalam ingatan Mamade. Kesedihan akan peristiwa itu tergambar di wajah pria itu. Wajahnya sempat tertunduk serasa menyembunyikan lembar cerita pahit empat tahun silam. Musibah itu menghanguskan satu hektare tanaman kopi miliknya. Kerja keras menanam pohon kopi sejak 1999 hanya menyisakan polutan asap berbahaya bagi yang menghirupnya.

“Api terus membesar hingga berbulan-bulan lamanya karena terbakar di lahan gambut. Akibatnya kebun kopi saya ikut hangus terbakar,” kenangnya.

Mamade dan warga lain tak bisa berbuat banyak melawan kobaran api. Peristiwa itu  menghilangkan mata pencahariannya. Semangatnya melemah hingga berbuah  putus asa. Namun kepasrahan itu tak berlangsung lama. Sebab dia cepat bangkit pasca kebakaran lahan untuk menanam kopi kembali.

“Empat bulan usai kebakaran, saya harus menyeberang ke Kayong Utara guna menemukan bibit kopi untuk ditanam kembali,” ungkapnya.

Pasca kebakaran lahan di kebun kopi miliknya, Mamade semakin ‘kecanduan’ menanam kopi. Ada sekitar seribu bibit  kopi baru diperolehnya untuk ditanam kembali.

“Saya mencari bibit kopi sendiri kala itu untuk ditanam pada lahan bekas terbakar. Tetapi ada  pula warga yang menerima bantuan dari pemerintah,” jelasnya.

Direktur Sampan Kalimantan, Dede Purwansyah mengatakan, Desa Sumber Agung memiliki potensi bagi pengembangan tanaman kopi. Pasca kebakaran lahan pihaknya melakukan pendampingan dengan melakukan revegetasi lahan yang pernah terbakar.

Pemilihan tanaman yang akan ditanam merupakan hasil musyawarah bersama warga desa. Di mana tanaman yang dipilih merupakan tanaman yang ramah terhadap gambut dan yang terpenting tetap memiliki nilai tambah ekonomi bagi masyarakat desa.

Selain melakukan revegetasi di lahan gambut, Sampan juga membangun sekat kanal dan embung di beberapa titik rawan kebakaran hutan. Sekat kanal dan embung ini berhasil meminimalisir kebakaran lahan di wilayah itu.

“Belum lama ini desa Sumber Agung menjadi salah satu desa yang mendapatkan penghargaan kerena mampu mengendalikan kebakaran agar tidak meluas,” jelasnya.

KOPI GAMBUT
KOPI KERING : Warga menunjukkan kopi kering jenis Robusta yang sudah dijemur | HARYADI – PONTIANAKPOST.CO.ID

Dede menambahkan tanaman yang  dipilih warga adalah kopi, jengkol, petai. Sebab nantinya tanaman itu dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dari pada lahan dibiarkan kosong. Bila dibiarkan menjadi lahan tidur bisa  saja memicu terjadinya kebakaran lahan kembali.

“Sampan juga melakukan optimalisasi produk kopi yang sudah ada, agar kopi yang dihasilkan dari  desa Sumber Agung  bisa maksimal produksinya,” tuturnya.

Warga lain, Abdul Rokim, mengatakan ada hal yang perlu diubah dalam membudidayakan tanaman kopi di desanya. Yakni cara menjaga kualitas produksi tanaman kopi sehingga bisa dilirik oleh pasar penikmat kopi. Pengalamannya selama merawat kopi milik orang tuanya, bahwa kualitas bibit yang selama ini ditanam kurang begitu baik. Sehingga mempengaruhi kuantitas hasil panen.

“Dari sekian banyak pohon kopi yang ditanam oleh orang tua saya, hanya ada beberapa pohon yang  bisa menghasilkan satu kilo biji kopi untuk sekali panen,” ungkap generasi kedua yang masih aktif menggeluti tanaman kopi di Desa Sumber Agung itu.

Rokim yang menjabat kepala dusun mulai mengembangkan jenis kopi yang bervarietas baik. Pohon kopi tua warisan orang tuanya yang kurang produktif  kini dibabat habis.

“Saya mulai menyemai bibit baru jenis robusta dari pohon induk yang buahnya cukup lebat sebagai pengganti tanaman yang lama,” ungkapnya.

Secara produksi Rokim cukup menjaga kualitas produksi kopi miliknya. Perlakukan dari masa panen hingga ke tangan konsumen semua dikerjakannya sendiri, meski kadang dibantu istrinya.

Hal ini dia lakukan agar kualitas kopi miliknya tetap terjaga citarasanya. Kopi robusta yang dia jual sudah dalam bentuk bubuk dibanderol dengan harga 100 ribu per kilogramnya.

Petani kopi di sana juga menjual biji kupas ke pengepul, di mana jenis kopi robusta dihargai sekitar Rp25 ribu per kilogram. Sedangkan kopi liberika hanya Rp17 ribu perkilogram.

Setiap bulannya Rokim mampu memproduksi bubuk kopi sekitar 20 kilogram untuk dijual ke pelanggan tetapnya. Jumlah itu pun masih kurang mencukupi karena masih minimnya biji kopi yang berkualitas baik untuk bisa diproduksi.

“Hingga saat ini permintaan dari luar masih belum tercukupi untuk pasokan kopi bubuk yang saya produksi sendiri,” terangnya.

Iwan Kojal, salah satu pegiat kopi asal Pontianak mengatakan, bila berbicara harga jual, biji kopi yang melalui proses panen yang baik sebenarnya memiliki nilai jual yang tinggi. Namun sayangnya masih banyak petani kopi kurang memperlakukan tanaman kopi secara istimewa. Makanya hingga saat ini produksi kopi petani Kalbar masih memenuhi konsumsi lokal saja. Sedangkan untuk pasar ke luar belum banyak yang mampu menembusnya.

“Masih banyak pekerjaan rumah bagi petani dan komunitas kopi di Pontianak untuk sama-sama memperkenalkan kopi kalbar yang punya ciri khas ditanam di lahan gambut.” tuturnya.

Iwan menambahkan, secara karakteristik kopi di Kalimatan Barat tumbuh subur di lahan gambut atau di dataran rendah.  Ciri khas yang muncul dari kopi dataran rendah adalah aromanya yang  floral atau jenis wangi bunga-bunga. Kopi dataran rendah rasanya cenderung lebih pahit, dibanding kopi yang tumbuh di dataran tinggi.

“Pasar kopi di Kalimantan Barat sebenarnya cukup menjanjikan,sebab kopi disini punya ciri khas yang tidak ditemui di tempat lain,” jelasnya.

Sekretaris Desa Sumber Agung Sarmadi mengatakan, tanaman kopi sudah ada sejak datangnya masyarakat transmigrasi umum pada 1988. Inisiasinya tercetus dari seorang rombongan transmigran asal Jember, Jawa Timur. Sempat menanam komoditas lain, namun tidak ada yang berhasil hidup karena kuatnya asam yang terkandung di lahan garapan.

Akhirnya secara mandiri masyarakat mencari bibit kopi ke beberapa wilayah tetangga seperti  Padang Tikar, Teluk Nibung hingga Teluk Batang. “Saya sempat menjual bibit kopi bagi warga yang membutuhkan dengan harga lima rupiah per batang,” kenangnya.

Panen kopi perdana  di Desa Sumber Agung sekitar tahun 1994 menjadi awal masa kejayaan desa ini dengan komoditi kopinya. Desa Sumber Agung dapat menghasilkan berton-ton kopi dengan jangkauan  pemasarannya cukup luas kala itu. Tak hanya pasar lokal tetapi hingga memasok ke luar Kalbar.

“Masyarakat disini menyebut kopi robusta dengan kopi kecil sedangkan liberika disebut kopi besar,” jelasnya.

Saat ini tanaman kopi di desa memang jumlahnya sedikit menurun. Pasca kebakaran yang melanda  desa. Meski lahan tersebut ditanami kopi kembali, namun banyak tanaman kopi mati akibat rusaknya tanah bekas kebakaran lahan. Sehingga warga beralih ke komoditas lain mengganti tanaman kopi.

KOPI GAMBUT
BIBIT : Petani kopi di desa Sumber Agung Kecamatan Batu Ampar memeriksa daun bibit kopi yang siap tanam | HARYADI – PONTIANAKPOST.CO.ID

Ada pula warga yang melakukan sistem tanam tumpang sari pada kawasan tanaman kopi. Otomatis tanaman kopi yang berada di lahan itu berkurang untuk memberi ruang pada  komoditas lain seperti karet, petai, dan jengkol. “Masyarakat juga mulai banyak bekerja di perusahaan sawit sebagai solusi bila sewaktu-waktu musim panceklik kopi tiba,” terangnya.

Meski begitu masih banyak warga di desa yang tetap mempertahankan dan merawat tanaman kopi sebagai penghasilan tambahan. Sebab hasil kebun kopi juga bisa menyambung perekonomian warga. Bila dihitung rata-rata luasan tanaman kopi di Desa Sumber Agung masih mencapai  sekitar 150 hektare. Dengan perhitungan setiap kepala keluarga masih memiliki tanaman kopi sekitar 0,5 hektare dikali dengan 300 kepala keluarga.

“Tanaman kopi masih menjadi salah satu penopang perekonomian warga selain dari komoditi lain,” terangnya.

Pria yang menjabat sekretaris desa sejak 2002 itu mengungkapkan bahwa pemerintah desa rutin menggelar acara bertajuk sarasehan kopi dan festival kopi. Acara itu sudah berlangsung sejak 2016. Selain dua acara itu kegiatan seperti jalan sehat yang unik karena sambil minum kopi menjadi salah satu rangkaiannya. Tetapi pada 2019 ini acara tidak dilaksanakan, dikarenakan pemerintah desa sedang fokus melaksanakan pemilihan kepala desa.

“Harapannya acara sarasehan kopi akan kembali digelar. Sebab bisa memotivasi warga untuk mengembangkan tanaman kopi lagi, serta mengembalikan kejayaan kopi yang pernah disandang Desa Sumber Agung,” harapnya. (*)

Read Previous

Revitalisasi SMK: SMK Kecil dan ‘Dual-system’

Read Next

Perkantoran Kapuas Raya Mulai Dibangun 2020

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *