Kiprah Kompol Jovan Memanusiakan Manusia (2)
Mengantar ke Bangku Kuliah Hingga Membantu Mesin Penggiling

MENGAJAR: Kompol Jovan mengajar seorang anak penyandang disabilitas belajar. (ADONG EKO/PONTIANAKPOST)

Perhatian Kompol Jovan kepada warga penyandang disabilitas benar-benar tulus. Ia membantu dan mendampingi mereka tanpa memandang latar belakang. Baginya, penyandang disabilitas punya hak yang sama dan harus mendapatkan kesempatan yang sama seperti warga lain.

ADONG EKO, PONTIANAK

KETIKA bertugas di Mempawah, Jovan bertemu dengan gadis penyandang disabilitas atau kelainan pada kaki bernama Siti Nur Maulina. Pertemuan itu bermula ketika Jovan meminta bantuan kepada tim relawan, untuk mendata warga penyandang disabilitas di Kabupaten Mempawah. Data itu penting agar ia memiliki gambaran terhadap kebutuhan alat bantu dan masalah yang dihadapi.

Kala mendata di Desa Nusapati, Kecamatan Sungai Pinyuh, tim relawan menemukan Siti. Saat akan diberi kursi roda, Siti menolak. Baginya bukan itu yang dibutuhkan melainkan pendidikan yang sempat tertunda.

Kepada tim relawan, gadis kelahiran 1999 itu mengaku bercita-cita ingin menjadi dosen. Setelah mendengarkan keterangan itu, relawan pun meninggalkan Siti untuk menemui Jovan dan menyampaikan temuan mereka.

“Dalam hati saya, untuk menjadi dosen tentu harus kuliah. Bagaimana mungkin cita-cita itu dapat terwujud, kalau (Siti) tidak kuliah,” cerita Jovan. Rasa penasaran menghantui Jovan. Bersama tim relawan, ia bergegas menuju Desa Nusapati untuk menemui Siti. Pada pertemuan itu, Jovan dibuat kagum oleh Siti. Meski memiliki keterbatasan, ternyata Siti lulusan IPA dan berada di peringkat delapan saat menyelesaikan sekolahnya. “Siti lulus (SMA) beberapa tahun lalu. Ia tidak melanjutkan kuliah. Sayang kan, anaknya pintar. Di tempatnya tinggal, ia mengabdikan diri mengajar anak-anak membaca dan berhitung,” tutur Jovan.

Dari Mempawah, Jovan kemudian pergi ke Kota Pontianak. Selain untuk menemui istri dan anak-anaknya, ia juga mencari informasi kepada teman-temannya tentang perguruan tinggi yang sesuai dengan cita-cita Siti.

Jovan akhirnya mendapatkan profil kampus Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak. Dari informasi yang didapat Jovan, IAIN Pontianak memiliki Jurusan Pendidikan Agama Islam, yang menempa mahasiswa untuk menjadi guru. Berbekal informasi dan keinginan Siti, Jovan bersama tim relawan menemui Rektor IAIN Pontianak, Syarif.

Kepada sang rektor, ia ceritakan sosok Siti, cita-cita, kekurangan dan kelebihannya. Perbincangan dari hati ke hati itu ternyata membuahkan hasil. Tim relawan diminta untuk segera mengurus syarat administrasi yang dibutuhkan untuk pendaftaran Siti sebagai mahasiswa baru di IAIN Pontianak.

Jovan bahagia. Usahanya bersama relawan tak sia-sia. Dari Pontianak ia kembali ke Mempawah dan langsung menemui Siti di Desa Nusapati untuk mengurus syarat-syarat administrasi pendaftaran mahasiswa baru.

Saat mengumpulkan syarat admistrasi, Siti diketahui tidak memiliki kartu tanda penduduk (KTP). KTP adalah salah satu syarat yang harus dilampirkan untuk pendaftaran kuliah.  Menyikapi kondisi itu, tim bekerja cepat. Keesokan harinya Siti diboyong ke kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Mempawah.

“Proses perekaman selesai dan KTP pun keluar. Setelah syarat terpenuhi, Siti kami daftarkan kuliah. Ia diterima, bahkan oleh rektor diberikan beasiswa bidik misi. Kuliah gratis dari awal sampai selesai,” ungkap Jovan.

Bagi Jovan, kegiatan sosial yang ia lakukan bersama teman-temannya hanyalah bagian kecil dari usaha untuk membantu sesama. Manusia hidup harus memanusiakan manusia yang lain.

“Kepada Siti yang kini kuliah di IAIN Pontianak, saya berharap kelak dapat kembali ke kampung halaman, menjadi motivator bagi teman-temannya untuk menggapai cita-cita,” harapnya.

Menurut Jovan, ada hal yang harus dipahami oleh masyarakat umum. Warga penyandang disabilitas itu cenderung memiliki karakter berbeda. Untuk hadir di tengah mereka butuh pendekatan khusus agar dapat diterima. Mereka butuh perhatian dan pendampingan.

Dukungan dari keluarga adalah hal yang tidak dapat disingkirkan. Kasih sayang keluarga menjadi motivasi berharga bagi penyandang disabilitas untuk terus semangat menata kehidupan. “Di balik kekurangan, saya yakin Tuhan memberi kelebihan,” ujar Jovan.

Perjuangan Siti

Siti Nur Maulina menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 1 Sungai Pinyuh  pada 2018 lalu. Meski memiliki cita-cita ingin menjadi dosen, setelah tamat ia tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Mimpi Siti untuk kuliah sempat kandas bukan karena rasa malu. Bukan pula karena tak punya  keyakinan. Terbukti jenjang 12 tahun wajib belajar mampu dilakoninya, walaupun saat pergi maupun pulang sekolah harus digendong ibunya. Mimpi itu kandas lebih karena faktor biaya. Keterbatasan ekonomi membuat gadis kelahiran 4 Juli 1999 itu harus mengubur keinginannya mengenyam bangku kuliah.

“Selain biaya, masalah lainnya adalah ibu khawatir kalau kuliah tinggal sama siapa, bagaimana nanti ke kampus,” kata Siti, ketika diwawancara melalui telepon genggam. Tapi Siti tak mau patah semangat. Pada September 2019, Siti akhirnya terdaftar sebagai mahasiswa di jurusan Pendidikan Guru Agama, Fakultas Tarbiah, IAIN Pontianak. Semua itu berkat uluran tangan para dermawan.

“Sekarang sudah semester lima. Alhamdulillah, Siti senang sekali dapat meneruskan pendidikan. Untuk Pak Jovan dan tim relawan, terima kasih telah memberikan kesempatan berharga ini,” ucap Siti.

Mesin Penggiling Jahe

Selain Siti, Mikadius Bambang juga merasakan sentuhan hangat dari Kompol Jovan. Mikadius Bambang adalah penyandang disabilitas tunadaksa. Pria kelahiran, Pana, 2 Januari 1993 itu memiliki semangat hidup yang begitu tinggi. Keterbatasan fisik tak membuatnya mengeluh. Usaha menjual susu kambing dan air mineral ia lakoni demi mendapatkan penghasilan.

Usaha itu sebenarnya cukup menjanjikan. Dalam sehari, Mikadius mampu menjual sepuluh hingga belasan kotak susu kambing. Keuntungan yang didapat Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Namun usaha itu akhirnya tak lagi menjanjikan lantaran terdampak pandemi Covid-19.

“Jualan susu kambing dan air mineral sejak 2019. Usaha itu berhenti karena omzet penjualan menurun akibat pembatasan aktivitas masyarakat ketika awal-awal pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu,” kata Mikadius, ketika ditemui di warung kopi, Jalan Kom Yos Sudarso, Pontianak Barat.

Setelah tak lagi menjual susu kambing, Mikadius lalu mencari usaha baru. Ia berjualan kerupuk makaroni. Seperti usaha sebelumnya, makanan ringan itu ia pasarkan dengan menawarkan langsung kepada pengunjung pasar atau ditawarkan melalui media sosial. Sayangnya usaha itu tidak bertahan lama karena untung yang didapat tak begitu besar.

“Untungnya kecil. Sehari hanya bisa dapat Rp15 ribu,” cerita pria yang bergelar Sarjana Ekonomi itu. Pada April 2021, Mikadius akhirnya memutuskan untuk berjualan air jahe merah. Berbekal ilmu yang pernah didapat ketika mengikuti pelatihan di Jawa, ia kemudian membeli keperluan untuk memulai bisnis itu.

Dengan modal Rp100 ribu, ia membeli dua kilogram jahe merah, serai, kayu manis, daun pandan, gula merah, gula aren dan gula pasir. Semua bahan-bahan yang telah dibeli, diolah menjadi minuman. Air jahe merah, dikemas ke dalam botol ukuran Rp250ml, lalu dijual kepada orang-orang di Pasar Flamboyan dan warung kopi di sekitar Jalan Gajah Mada, Pontianak Selatan.

“Satu botol harganya Rp8 ribu. Pertama kali saya jualan bawa 50 sampai dengan 100 botol. Dan itu habis terjual,” tuturnya. Bisnis air jahe merah ternyata benar-benar menjanjikan. Dari hanya dua kilogram, produksinya terus mengalami peningkatan. Dalam sehari, ia terkadang harus membeli tiga sampai empat kilogram jahe merah.

“Singkat cerita, pelanggan-pelanggan ini minta dibuatkan bubuk jahe supaya bisa bertahan lama. Karena kalau air jahe tahannya hanya dua hari disimpan dalam tempat pendingin,” tutur Mikadius.

Melihat adanya permintaan bubuk jahe dari pelanggan, Mikadius pun mencoba berinovasi. Berbekal blender, ia mulai memproduksi bubuk jahe merah. Permintaan di luar perkiraan. Peminatnya semakin banyak hingga ia kewalahan.

“Pak Jovan itu salah satu pelanggan air jahe saya. Dia mendengar dari kawan-kawan kalau bubuk jahe merah saya banyak yang pesan. Tetapi permintaan itu belum mampu dipenuhi, karena alat produksi tidak mendukung,” cerita Mikadius.

Kebutuhan Mikadius akhirnya terpenuhi. Kompol Jovan yang memang selalu berusaha membantu penyandang disabilitas produktif bergerak cepat. Satu unit mesin penggiling ia berikan secara gratis kepada Mikadius.  “Mesin penggiling dari Pak Jovan sangat membantu. Dalam sehari saya bisa memproduksi sepuluh kilogram bubuk jahe,” ungkap Mikadius.

Gerakan sosial berupa pendampingan dan pembinaan kepada warga penyandang disabilitas yang dilakukan Kompol Jovan sangat diapresiasi Ketua PPDI Kalbar, Zamhari Abdul Hakim. Baginya, di tengah keterbatasan yang dirasakan penyandang disabilitas, Kompol Jovan hadir. Bukan hanya memberikan pendampingan dan membina tetapi juga berupaya mencarikan solusi atas masalah yang dihadapi anggotanya.

“Banyak yang sudah dilakukan Pak Jovan terhadap kami penyandang disabilitas. Dalam kurun waktu lima tahun ini, apa yang dilakukannya memperlihatkan keberhasilan memenuhi sebagian hak-hak kami di lima wilayah pendampingan, seperti Pontianak, Bengkayang, Singkawang, Sambas dan Mempawah,” kata Zamhari, ketika ditemui di Jalan Ahmad Dahlan, Pontianak Kota, Rabu (29/9) lalu.

Sebagai contoh beberapa kegiatan sosial yang telah dilakukan Kompol Jovan adalah mengupayakan agar warga penyandang disabilitas yang tergabung di PPDI mendapatkan SIM D, alat bantu kursi roda dan tongkat kruk, serta alat keterampilan agar penyandang dapat terus produktif, berkarya secara mandiri. Kompol Jovan juga mendampingi dalam pengurusan BPJS Mandiri, administrasi kependudukan seperti KTP, kartu keluarga dan akta kelahiran.*

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!