Mengatasi Bau Badan di Masa Pubertas

Bau badan bisa terjadi pada siapa saja. Tak hanya orang tua, melainkan juga remaja. Bau badan menjadi salah satu masalah khas masa pubertas.

Pubertas adalah periode yang paling banyak memicu perubahan. Termasuk dalam hal bau badan. Memasuki masa remaja, kelenjar hormon seseorang mulai bekerja aktif. Salah satunya kelenjar apokrin.

“Kelenjar itu memproduksi keringat yang disertai lipid (lemak) dan protein. Berbeda dengan ekrin yang produksinya berupa air dan garam,’’ ungkap dr Renata Mayangsari SpKK.

Dokter spesialis kulit dan kelamin yang berpraktik di RS Katolik St Vincentius a Paulo Surabaya itu

menjelaskan, keringat sebenarnya tidak berbau. Yang jadi masalah adalah ketika keri ngat dari kelenjar apokrin bersentuhan dengan bakteri tertentu.

“Zat tadi diuraikan bak teri, terjadi reaksi kimia. Hasilnya, muncul bau,’’ lanjutnya.

Renata menjelaskan, gangguan bau badan alias bromhidrosis tidak selalu terkait dengan produksi keringat berlebih. “Kalau keringatnya banyak, tapi bersih dari bakteri tadi, tentu tidak muncul bau,” tegasnya.

Meski demikian, dia menyatakan, bau badan tidak hanya perkara bakteri. Ada faktor lain. Misalnya, kebersihan diri hingga pola makan seseorang. Hal itu ditegaskan dr Liana Verawaty MBiomed SpKK. Dia menjelaskan, salah satu masalah yang sering memicu bau badan justru pemilihan bahan pakaian.

“Bahan pakaiannya enggak menyerap keringat. Sehingga keringat nggak sempat menguap. Lalu bereaksi dengan bakteri,’’ ucapnya.

Liana menilai, hal itu juga berlaku untuk pakaian dalam. “Perlu diingat, kelenjar apokrin juga ada di daerah selangkangan. Ganti pakaian dalam tiap hari,” katanya menyarankan.

Spesialis kulit dan kelamin yang berpraktik di RS Adi Husada Undaan Surabaya itu menjelaskan,

masalah bau badan juga berkaitan dengan siklus hormonal. Ketika menstruasi, misalnya, akan ada perubahan bau badan. “Memang enggak kentara sekali, tapi tetap perlu diperhatikan. Ganti pembalut agar tidak bau serta infeksi,’’ jelas Liana.

Untuk memberantas bau badan, Liana maupun Renata menyarankan penggunaan antiper spirant

maupun deodoran. Meski sering dianggap sama, menurut Renata, kerja keduanya berbeda  (selengkapnya lihat grafis). Liana juga menegaskan pentingnya mandi dua kali sehari. “Jangan lupa keringkan area lipatan tubuh agar nggak jadi sarang bakteri,’’ tegasnya.

Pola makan pun perlu diubah. Makanan pedas, yang bisa memicu produksi keringat berlebih, per lu dihindari. Pun makanan yang mengandung rempah kuat yang bisa berpengaruh ke aroma tubuh. Jika langkah-langkah tersebut tidak membuahkan hasil, perlu koreksi yang lebih serius.

“Kita cari ’akarnya’. Kalau ternyata  ada infeksi atau penyakit, harus diobati dulu, lalu kita evaluasi,’’ kata Renata.

Jika masalah sudah amat mengganggu, “kerja” kelenjar apokrin bisa dimodifikasi secara medis. Yakni, lewat suntik botulinum toxin (botox) maupun bedah. “Suntikan botox berfungsi mengerem kelenjar apokrin. Jadi, produksi keringatnya turun,” beber Liana.

Tindakan bedah hanya dipertimbangkan jika seseorang mengalami gangguan bau badan plus hiperhidrosis (produksi keringat berlebih). (*/fam/c5/nda/jp)

loading...