Mengatasi Si Kecil Tanpa Intonasi Keras

Orang tua pasti merasa kesal saat anak susah dinasehati. Apalagi jika terkesan sulit ‘diatur’. Tanpa disadari, hal itu dapat terjadi akibat gaya bahasa dan intonasi bahasa orang tua yang keras. 

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Saat usia anak tiga tahun orang tua sudah bisa melihat dan memahami karakter buah hatinya. Pada umur tersebut, juga bisa memberi pemahaman untuk mengarahkan sang anak.

Namun, memang tak mudah membuat anak gampang diatur. Psikolog Endah Fitriani, M.Psi menyarankan orang tua memulainya dengan membangun gaya komunikasi dan intonasi bahasa yang baik.

Jika orang tua memilih gaya komunikasi dan intonasi yang keras, anak cenderung tak suka. Lama kelamaan dia tak mau mengikuti aturan yang ada.

Misalnya, ketika meminta anak tak mandi hujan. Ada orang tua yang langsung menutup dan mengunci pintu rumah. Tanpa memberi penjelasan atas larangan tersebut.

“Padahal dengan memberi penjelasan dan melihat respon anak, orang tua justru membantu anak berpikir logis dan terbiasa mendengarkan,” ungkap Endah.

Endah menuturkan orang tua perlu berhati-hati saat berkomunikasi dan berbicara dengan anak. Sebab, berpengaruh besar terhadap bisa tidaknya anak diatur kedepannya.

“Hindari penggunaan intonasi bahasa yang berulang-ulang, karena dapat membuat anak merasa bosan,” ujarnya.

Orang tua yang tak memperhatikan cara komunikasi dan intonasi akan membentuk pribadi anak yang cuek, emosional, dan cenderung tak peduli pada orang tuanya. Nantinya anak akan mencari perhatian dari orang lain.

Jika terus berlanjut, kata Endah, sifat sulit diatur anak akan terus berkembang. Akan berdampak saat dia dewasa.

“Gaya komunikasi dan intonasi bahasa yang terdengar lembut dan baik, anak tidak akan sulit diatur. Anak justru merasa nyaman,” tutur Endah.

Read Previous

Spill The Tea, Bongkar Aib masa Kini

Read Next

Pajak Bertutur untuk Generasi Bangsa Sadar Pajak

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *