Mengelola Stres Bersama Keluarga

Kesibukan dan tanggung jawab terhadap pekerjaan terkadang membuat orang mudah mengalami stres. Emosi pun meningkat dan terbawa-bawa hingga ke rumah. Jika tak bisa mengelola stres dengan baik, bisa mengganggu keharmonisan keluarga. Sehingga penting untuk mengelola stres bersama keluarga.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Setiap orang pasti pernah mengalami stres. Namun, tak semua orang memahami dan mengetahui apa itu stres. Psikolog Sarah, M.Psi mengatakan menurut parah ahli, stres merupakan respon yang diberikan ketika menghadapi suatu kejadian atau peristiwa yang tak sesuai dengan keinginan atau harapan. Turunannya, menjadi murung, emosi tak stabil atau menunjukkan reaksi menghindar.

Seseorang bisa mengalami atau menunjukkan perilaku stres karena disebabkan oleh beberapa faktor. Termasuk faktor internal, apakah memiliki toleransi terhadap stres atau tidak. Bagaimana presepsinya terhadap suatu peristiwa? Siapa pun tak akan bisa menghindari stres, baik yang penyebabnya umum atau khusus pada diri.

“Tetapi, seseorang mampu mengelola stres tersebut. karena orang hidup tanpa stres artinya tak bisa optimal. Karena tak bisa menggunakan inovasi-inovasi yang ada,” ujarnya.

Sarah menjelaskan jika stres tak dikelola dengan baik akan menimbulkan permasalahan dalam diri. Mulai dari relasi sosial hingga kesehatan (berkaitan dengan sistem imunitas tubuh).
Contohnya, ketika pulang ke rumah dengan masih memikul beban stres, perilaku yang terlihat emosi tak stabil. Mudah marah.

“Anak hanya menjatuhkan barang hingga berisik (belum tentu rusak), orang tuanya langsung marah. Atau, pasangan lupa terhadap sesuatu. Diri langsung marah. Hal ini yang menunjukkan bahwa stres dapat berdampak bagi kehidupan keluarga,” ungkap Sarah.

Psikolog di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Prov. Kalbar menuturkan karena berkaitan toleransi terhadap stres dan presepsi terhadap peristiwa, hal pertama yang bisa dilakukan adalah dari pikiran. Kemudian, bisa melakukan kegiatan yang untuk sementara waktu tak melekat dengan peristiwa, situasi dan kondisi yang membuat diri stres.

“Misalnya, dengan mengajukan cuti. Terlebih jika itu menjadi haknya,” tutur Sarah.

Jika kaitannya dengan orang-orang tertentu, Sarah menyarankan agar tak dulu berhubungan dengan yang bersangkutan sampai memiliki presepsi bahwa masalah ini bisa diselesaikan.

Keluarga berperan penting dalam mengelola stres. Karena di dalam keluarga tak hanya dengan satu ranah, baik performance kerja, kognitif atau prestasi.

“Diri bisa menjadi apa adanya. Ketika sudah beranjak dewasa dan menikah, pasangan bisa dijadikan teman curhat. Atau, bermain dengan buah hati tercinta. Secara tak langsung menimbulkan efek relax,” ungkap Sarah.

Sarah menjelaskan interaksi dengan anak dapat menghindarkan dari stres. Misalnya, memilih mengelola stres dengan bermain bersama balita tercinta. Begitu pula, pada anak-anak usia sekolah. Bisa dilakukan dengan membantu mengerjakan tugasnya.

Diri butuh waktu meningkatkan toleransi dan mengubah presepsi terhadap peristiwa itu.

“Toleransi artinya tak sampai menimbulkan perilaku stress. Sedangkan, presepsi adalah mengubahnya. Misalnya, pekerjaan terlalu berat,” tutur Sarah.

Presepsi bisa berubah jika berpikir bahwa kesalahan termasuk dalam sumber belajar agar bisa menunjukkan prestasi yang lebih. Presespi seperti ini bisa diubah supaya stres bisa dikelola. Ketika toleransi naik, presepsi sudah adaktif, artinya stresnya sudah terkelola dengan baik. **

Read Previous

Enggan Langgar Hutan Adat, Atasi Masalah Lewat Kelompok Tani

Read Next

Awasi Kewajiban Wajib Pajak di KPP 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *