Berawal dari Sulitnya Menjadi Tukang Bangunan
Mengenal Egha Rodhu Hansyah, Pembuat Aplikasi IniTukang

INOVATIF: Egha menunjukkan tampilan depan aplikasi IniTukang yang dia buat untuk mewadahi para tukang dan teknisi. (Adi Wijaya/Jawa Pos)

Kebuntuan yang dialami Egha Rodhu Hansyah justru menjadi inspirasinya. Dari pengalaman kesulitan dalam mencari tukang, tebersit ide untuk membuat aplikasi yang memudahkan orang mendapatkan jasa teknisi atau tukang bangunan. Kini dia memiliki 500 tukang yang bermitra dengan dirinya di aplikasi IniTukang.

ARIF ADI WIJAYA, Surabaya

SECANGKIR kopi panas menemani Egha saat mengutak-atik aplikasi IniTukang di salah satu kafe di Jalan Nias, Sabtu (15/5). Dia sedang membuat timeline pesanan renovasi rumah. Hanya lewat gadget, puluhan order bisa diselesaikan dalam waktu satu hari.

Egha memang bukan orang baru dalam hal renovasi bangunan. Pria 35 tahun yang juga konsultan ISO itu justru baru belajar menjadi pengembang aplikasi. Meski baru satu tahun berjalan, user aplikasi yang dirilis pada 1 Juli 2020 tersebut sudah diinstal atau digunakan 3.300 orang. Dalam sehari, kata Egha, order yang masuk bisa mencapai 80 pesanan. ’’Sampai kewalahan,’’ katanya.

Ayah dua anak itu menceritakan awal mula tebersit ide untuk membuat aplikasi IniTukang. Pada 2018, dia mendapat proyek renovasi di salah satu pabrik makanan di Mojokerto. Karena hanya konsultan ISO, Egha pun memakai jasa pihak ketiga untuk mengerjakannya. Nah, pada 2019, dia membuat sendiri usaha jasa konstruksi.

Dari situlah Egha merasakan betapa sulitnya mencari tukang. Bukan hanya tukang bangunan. Teknisi untuk instalasi listrik maupun air pun tidak mudah didapatkan. ’’Ternyata, masalah ini dialami oleh banyak orang. Khususnya, yang membutuhkan jasa tukang atau teknisi yang profesional,’’ katanya.

Dari pengalaman tersebut, Egha mulai memikirkan cara agar orang lebih mudah mendapatkan jasa pertukangan atau teknisi. Dia pun berdiskusi dengan beberapa teman. Akhirnya, muncul ide untuk membuat aplikasi. Sebab, pada era digital saat ini, kebanyakan orang menginginkan hal yang serbapraktis.

Pada pertengahan Agustus 2019, dia mulai membuat perencanaan. Juga, melakukan survei untuk mengumpulkan data. Mulai survei kepada para tukang dan teknisi sampai ke masyarakat terkait kebutuhan jasa tukang atau teknisi. Tarif jasa tukang atau teknisi termasuk yang disurvei. ’’Itu menjadi bahan untuk membuat fitur di dalam aplikasinya,’’ terangnya.

Akhir 2019, dia mulai memiliki jaringan tukang dan teknisi. Tota ada 70 tukang dan teknisi yang berminat menjadi mitra. Motivasi mereka rata-rata memang ingin memiliki usaha jasa secara mandiri. Tidak lagi ikut mandor atau kontraktor. ’’Setelah dapat tukang dan teknisi, kita bekerja sama dengan BLK (balai latihan kerja, Red) untuk memberikan pelatihan,’’ terangnya.

Memang, para tukang dan teknisi tersebut sudah memiliki pengalaman. Namun, Egha menginginkan adanya standardisasi pelayanan bagi calon pelanggannya. Akhirnya, para tukang dan teknisi itu diberi pelatihan sesuai keahlian mereka. Ada yang ahli di bidang bangunan, ada yang ahli di bidang homecare, instalasi air, servis kendaraan, hingga penataan pekarangan atau renovasi rumah.

Jenis-jenis keahlian itulah yang menjadi fitur di dalam aplikasi IniTukang. Menurut Egha, hal tersebut bertujuan untuk memudahkan para calon customer dalam mendapatkan jasa pelayanan tukang dan teknisi sesuai kebutuhan mereka. ’’Kalau dulu, referensi tukang atau teknisi rata-rata dari tetangga. Ini kita modernisasi menjadi lebih sederhana, tapi berstandar jelas,’’ paparnya.

Di dalam aplikasi tersebut, pengguna jasa tukang atau teknisi bisa memberikan penilaian. Tukang atau teknisi yang mendapat nilai baik akan sering dipakai. ’’Dari situlah repeat order terjadi. Jadi, pengguna aplikasi bisa memberikan skor seperti yang di aplikasi ojek online itu. Ngasih bintang istilahnya,’’ terangnya.

Awal diluncurkan pada Juli 2020, peminat aplikasi IniTukang memang belum banyak. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah pengguna terus bertambah. Kini pengguna aplikasi IniTukang mencapai 3.300 orang. ’’Setiap hari selalu ada order yang masuk. Entah itu layanan homecare, renovasi, atau servis kendaraan,’’ katanya.

Bagaimana pembagian hasilnya? Egha mengaku hanya mengambil fee Rp 15 ribu dari setiap jasa yang dipakai. Jadi, misal biaya servis atau renovasi Rp 150 ribu, di aplikasi munculnya Rp 165 ribu. Yang Rp 15 ribu untuk pengembangan aplikasi dan yang Rp 150 ribu menjadi hak mitra.

Untuk saat ini, jumlah tukang yang bergabung baru 500 orang. Menurut Egha, jumlah tersebut masih sangat kurang. Sebab, order yang masuk setiap hari hampir tidak pernah sepi. Mulai wilayah Surabaya hingga Sidoarjo. Kendalanya sama. Yakni, sulit mencari tukang.

Dia berharap dengan adanya aplikasi tersebut, para tukang bisa terbantu karena mendapatkan pekerjaan tanpa harus menunggu mandor atau kontraktor. Sebab, tukang atau teknisi rata-rata bekerja serabutan. Yakni, bekerja ketika ada proyek saja. ’’Alhamdulillah dengan aplikasi ini, mereka bisa mendapat order setiap hari,’’ jelasnya. (*)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!