Mengenal Surah Al-An’am

opini pontianak post
Oleh Tommy Priyatna

Oleh: Harjani Hefni, Lc

“Binatang ternak,  al An’am diartikan

Jadi nama Surah keenam dalam al Quran

Manfaatkan, untuk manusia mereka ditundukkan

Seratus enam puluh lima (165) ayatnya harus jadi perhatian.”

Al an’am adalah jamak dari kata na’am,  nama untuk kelompok hewan yang terdiri dari unta, sapi dan kambing. Na’am artinya nikmat, Al an’am artinya nikmat-nikmat. Kelompok hewan yang disebut di atas dinamakan Al-an’am karena dari hewan ternak ini nikmat dari Allah terang benderang terlihat oleh manusia. Tiga jenis hewan di atas memiliki keistimewaan yang banyak buat manusia.  Tiga jenis hewan itu paling dekat dengan manusia dan mudah dikuasai. Allah berfirman, “Fahum laha mὰlikὺn’, artinya lalu mereka menguasainya.” (QS. Yasin: 71). Hewan yang lain secara umum adalah liar, tidak mudah dikuasai kecuali dengan cara diburu atau cara yang lain. Hewan-hewan di atas juga paling banyak manfaatnya bagi kehidupan manusia.

Jadi nama surah keenam dalam Alquran

Nama surah biasanya dipilih dari salah satu kata yang terdapat di dalam surah tersebut. Tetapi, terpilihnya satu kata dari sekian banyak kata yang terdapat dalam surah tersebut pasti menunjukkan bahwa kata itu sangat penting dalam surah tersebut dan harus mendapatkan perhatian serius dari kita. Jadi, kata al-an’am dalam Surah Al-An’am adalah penting dan harus jadi perhatian kita.

Surah al An’am termasuk golongan Surah Makkiyyah. Dinamai al-An’am (hewan ternak) karena surah ini banyak menerangkan hukum-hukum yang berhubungan dengan hewan ternak, terutama tentang kepercayaan orang-orang musyrik terhadap binatang ternak. Disebutkan di ayat ke 136: “Dan mereka menyediakan sebagian hasil tanaman dan hewan (bagian) untuk Allah sambil berkata menurut persangkaan mereka, “Ini untuk Allah dan yang ini untuk berhala-berhala kami.” Bagian yang untuk berhala-berhala mereka tidak akan sampai kepada Allah, dan bagian yang untuk Allah akan sampai kepada berhala-berhala mereka. Sangat buruk ketetapan mereka itu.” Ayat di atas menjelaskan tentang aturan yang dibuat oleh kaum musyrikin Quraisy tentang hewan ternak dan hasil tanaman. Sebagiannya mereka sisihkan buat Allah dan Sebagian lagi untuk berhala-berhala mereka. Tetapi aturannya dibuat sekehendak hati mereka, bukan bersumber dari Allah. Di ayat 138 Allah berfirman, “Dan mereka berkata (menurut anggapan mereka): Inilah hewan ternak dan hasil bumi yang dilarang, tidak boleh dimakan, kecuali oleh orang yang kami kehendaki.”

Dan ada pula hewan yang diharamkan (tidak boleh) ditunggangi, dan ada hewan ternak yang (ketika disembelih) boleh tidak menyebut nama Allah, itu sebagai kebohongan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas semua yang mereka ada-adakan. Ayat 138 menjelaskan tentang halal dan haram dalam masalah hewan ternak dan hasil tanaman yang dibuat aturannya oleh kaum musyrikin, ada yang dilarang untuk dimakan, ada yang dilarang untuk ditunggangi, dan ada yang boleh disembelih tanpa menyebut nama Allah. Dilanjutkan di ayat 139, Allah berfirman, “Dan mereka berkata (pula), “Apa yang ada di dalam perut hewan ternak ini khusus untuk kaum laki-laki kami, haram bagi istri-istri kami.” Dan jika yang dalam perut itu (dilahirkan) mati, maka semua boleh (memakannya). Kelak Allah akan membalas atas ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Mahabijaksana, Maha Mengetahui. Ayat 139 menjelaskan tentang aturan hewan yang khusus diberikan kepada laki-laki dan diharamkan untuk perempuan, dan ada hewan yang boleh dimakan Bersama, laki dan perempuan. Semua aturan itu dibuat-buat oleh mereka.

Sedangkan  dalam ayat 142 Allah menyebut kembali al an’am, tetapi dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang aturan sebenarnya tentang hewan ternak yang bersumber dari yang menciptakannya.  “…dan di antara hewan-hewan ternak itu ada yang dijadikan pengangkut beban dan ada (pula) yang untuk disembelih. Makanlah rezeki yang diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu,”

Manfaatkan, untuk manusia mereka ditundukkan

Di dalam ayat 142 Surah Al-An’am Allah menyebutkan beberapa manfaat  Al an’am: “…dan di antara hewan-hewan ternak itu ada yang dijadikan pengangkut beban dan ada (pula) yang untuk disembelih. Makanlah rezeki yang diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” Dalam Surah Yasin Allah, ayat 72 dan 73 Allah berfirman, “Dan Kami menundukkannya (hewan-hewan itu) untuk mereka; lalu sebagiannya untuk menjadi tunggangan mereka dan sebagian untuk mereka makan. Dan mereka memperoleh berbagai manfaat dan minuman darinya. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?”

Diantara manfaat hewan ternak yang disebutkan di dalam ayat-ayat di atas adalah: pertama, sebagai alat transportasi (hamulatan); kedua, pemasok sumber protein hewani (farsyan); ketiga, untuk diminum susunya (masyarib) ; dan berbagai manfaat lain (lahum fiiha manafi’), seperti untuk membajak sawah, bulunya untuk menghangatkan tubuh, dan lain-lain.

Memanfaatkan hewan ternak sesuai dengan tujuan penciptaannya adalah salah satu langkah untuk mensyukuri nikmat Allah. Inilah pesan utama surah ini…memanfaatkan makhluk Allah sesuai dengan tujuannya diciptakan sebagaimana tercantum dalam Surah Al-An’am dan Surah Yasin di atas. Kalau fungsi sebagai alat transportasi sudah mulai tergantikan oleh kendaraan lain pada hari ini, tapi fungsi transportasi tetap tidak bisa dihilangkan sama sekali, masih sangat banyak orang menggunakan hewan ternak untuk alat transportasi. Adapun fungsi protein hewani dan minuman sangat dibutuhkan oleh seluruh manusia. Dan Allah membuka kesempatan kepada manusia untuk menemukan manfaat lain pada hewan ternak sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi.

Adapun tidak memanfaatkannya adalah kufur nikmat, dan memanfaatkannya tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya adalah kedzaliman. Jika hewan ternak ini tidak dipelihara dengan baik dan tidak dimanfaatkan dengan tujuan yang sebenarnya, maka suatu waktu kufur nikmat ini akan berujung kepaa azab dari Allah. Sangat mungkin akan terjadi kelangkaan  hewan ternak. Jika terjadi kelangkaan pada hewan-hewan di atas maka akan terjadi dampak buruk bagi alam secara keseluruhan, tidak hanya manusia.Setiap spesies memiliki peran penting dalam ekosistem, seperti dalam rantai makanan. Kelangkaan dan kepunahan satu spesies dapat menyebabkan rusaknya keseimbangan ekosistem yang mempengaruhi spesies yang lain. Misalnya, punahnya hewan pemangsa seperti serigala dan singa menyebabkan meledaknya populasi hewan pemakan tumbuhan, dan dapat mengancam kelestarian tumbuhan di wilayah tersebut.

Seratus enam puluh lima (165) ayatnya harus jadi perhatian

Seratus enam puluh lima ayat ini tidak semua membicarakan tentang al-An’am. Tentang Al- An’am sendiri sudah disebutkan  pada saat membahas bait ke 2 dari syair ini yaitu ayat 136, 138, 139, dan 142.

Kandungan utama Surah Al-Anam adalah tentang tauhid. Allah mulai Surah ini dengan alhamdulillah, pernyataan dari-Nya untuk mensyukuri nikmat -Nya yang telah menciptakan gelap dan cahaya. Sebagaimana kita menerima kenyataan adanya siang dan malam tanpa bisa merubahnya, hanya tunduk dengan sistem yang sudah ada, maka seluruh ciptaan Allah selayaknya disikapi seperti itu….jangan merubah aturan Allah tentang ciptaan-Nya…tetapi ikuti. Manfaatkan hewan dan ikuti aturan Allah dalam memanfaatkannya, manfaatkan tanaman dan ikuti aturan Allah dalam memanfaatkannya..

Sistem dari Allah adalah Tauhid…dari-Nya penciptaan, dari-Nya system, aturan, dari-Nya perintah, (lahul kholqu wal amr) kepada-Nya ketundukan (kullun lahu qonitun). Karena satu sistem ini maka semua harus terintegrasi, dan semuanya teratur (lau kana fihima alihatun illallah lafasatada…).

Di penghujung Surah al-An’am, terutama di ayat 162, Allah perintahkan Nabi Muhammad untuk mengikrarkan : Qul inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mmati lillhi Robb al ‘alamin (Katakanlah: sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah karena Allah…).

Aturan Allah adalah nikmat terbesar dari Allah yang harus disyukuri dengan cara melaksanakannya dengan ketundukan total kepaa-Nya. Dengan ketundukan inilah insya Allah hidup kita akan berada dijalur shiroth mustaqim (Al-An’am: 161).**

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!