Mengenang Setahun Hilangnya Taruna Asal Singkawang di Kapal MV Nur Allya

Banyak Kejanggalan, Sang Ayah Tak Yakin Kapal Itu Benar-Benar Tenggelam

Hari ini tepat setahun hilangnya kapal kargo MV Nur Allya di perairan Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Kapal pengangkut 50 ribu ton nikel itu berangkat dari Pelabuhan Sagea, Halmahera Tengah, menuju Pulau Morosi, Sulawesi Tenggara, pada 20 Agustus 2019. Namun, dalam perjalanannya, kapal yang di dalamnya ada seorang taruna asal Singkawang Rizky Fallah itu hilang secara misterius. Tanpa jejak.

—-

SANG ayah, Yossi Yoswar, meyakini kapal MV Nur Allya tidak benar-benar tenggelam. Ia mengaggap hingga saat ini belum ada bukti autentik.  “Jika memang kapal itu tenggelam, saya minta buktinya,” kata Yossi Yoswar kepada Pontianak Post, kemarin.

Yossi mengatakan, hilangnya kapal kargo sepanjang 189 meter dan lebar 33 meter itu ditemukan banyak kejanggalan.  Yossi mengaku dirinya pernah mendapat surat dari KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) maupun pihak perusahaan (PT. Gurita Lintas Samudera) dan meminta dirinya mengakui tenggelamnya kapal MV Nur Allya, serta  menandatangani pemberian dana talangan asuransi dan penggantian barang milik pribadi. Totalnya mencapai Rp 150 juta.

“Saya sendiri masih menolak. Karena yang kami minta adalah kejelasan. Apakah kapal itu benar-benar tenggelam atau tidak,” bebernya. Selanjutnya, ada fakta lain yang diduga juga dilanggar oleh kapal itu. Di mana, kata Yossi, data manifest tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

“Kru kapal bukan 25 sesuai manifest tapi 27 orang termasuk anak saya dari Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta yang magang di situ,” katanya.

Atas semua kejanggalan itu, kata Yossi, dia bersama beberapa pihak keluarga korban lainnya terus berupaya mencari jawaban pasti. Mereka menemui Komnas HAM, Ombudsman hingga Komisi V DPR RI.

“Kalau kapal tenggelam, tentu ada bekasnya. Sampah pasti banyak. Tapi sampah tidak ada, kemudian liferaft yang bentuknya seperti tabung tidak ada yang ditemukan. Mustahil kapal sepanjang 189 meter dan lebar 33 meter itu tidak meninggalkan jejak,” kata Yossi.

“Hari ini saya di Ombudsman RI. Untuk mengupdate laporan saya sebelumnya. Karena berdasarkan informasi, ada perbedaan pendapat antara KNKT dan Bakamla soal hilangnya kapal itu. Setelah ini saya akan ke KontraS,” lanjutnya.

Seperti diberitakan, Kapal kargo MV Nur Allya dinyatakan hilang sejak 22 Agustus 2019 lalu. Kapal tersebut berangkat dari pelabuhan Sagea, Halmahera Tengah, menuju Pulau Morosi, Sulawesi Tenggara, pada 20 Agustus 2019 dengan memuat sekitar 50 ribu ton nikel. Kapal MV Nur Allya sempat mengirimkan sinyal marabahaya pada 23 Agustus 2019 dari perairan Obi, Halmahera.

Pencarian sempat dilakukan Basarnas Ternate termasuk melibatkan KNKT dan unsur TNI Polri selama 18 hari, sebelum akhirnya ditutup pada 10 Oktober 2019. Selama pencarian, sempat ditemukan sebuah life boat atau sekoci yang diduga kuat milik kapal kargo MV. Nur Allya, kemudian life buoy serta tumpahan minyak.

Pihak keluarga juga sempat diundang ke Ternate, bahkan ada menabur bunga di lokasi yang diduga tenggelamnya kapal Nur Allya. Hanya saja sebagian dari mereka enggan melakukan tabur bunga dan memilih pulang lebih awal.

Yossi Yoswar hanya bisa pasrah menunggu kabar berita putranya, Rizki Fallah, Taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta yang menjadi korban hilangnya MV Nur Allya di Perairan Halmahera, Maluku itu.

Rizki Fallah merupakan warga Kota Singkawang, Kalbar. Rizki mengambil pendidikan jurusan Nautica di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. Saat peristiwa ini terjadi, Rizki tengah mengikuti praktik lapangan (prala) di kapal MV Nur Allya milik PT Gurita Lintas Samudra sejak setahun yang lalu.

Kapal pengangkut nikel, tempat Rizki Fallah melaksanakan praktik lapangan, hilang kontak saat berlayar dari pelabuhan Sagea, Halmahera tujuan Morosi. Saat ini sang ayah, Yossi Yoswar hanya bisa berharap tim penyelamat secepatnya bisa menemukan keberadaan putranya.

Yossi kembali menceritakan terakhir kali ia berkomunikasi dengan anaknya, yakni pada 20 Agustus 2019 sekitar pukul 15.30wib. Melalui Short Message Service (SMS), Rizky mengirim pesan bahwa kapal yang ditumpanginya segera berangkat. “Pa, kapal jalan,” tulis Rizki kepada Yossi melalui SMS.

“Itu SMS dari anak saya. Kapal sudah jalan. Saat itu kapal tempatnya praktik akan berangkat menuju Morosi, setelah bongkar muat di pelabuhan Sagea, Halmahera,” kata Yossi.

Sejak itu, ia tidak lagi terhubung dengan anaknya. Menurut Yossi, selang tiga hari kemudian, ia kembali mendapat kabar dari pihak kampus tempat anaknya menempuh pendidikan, yang menyatakan jika kapal tempat anaknya melakukan praktik lapangan hilang kontak sejak tanggal 20 Agustus 2019.

“Saya pertama kali mendapat informasi dari kampusnya. Katanya kapal tempat anak saya praktik hilang kontak sejak 20 Agustus lalu,” ujarnya. (arf)

 

error: Content is protected !!