Menghadapi Pasangan yang Introvert 

Dua pribadi dengan sifat berbeda bisa saja berjodoh. Seorang yang ekstrovert mendapatkan pasangan yang introvert. Tak jarang perbedaan ini menimbulkan kebingungan dan berujung masalah.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Introvert dikenal sebagai sosok yang sulit terbuka dengan orang lain. Cenderung memendam sendiri masalah dan enggan berbagi dengan orang lain.Namun, bukan berarti sosok introvert adalah pendiam yang dingin dan tidak supel.

Ada kalanya, dia ceria, semangat, dan mudah diajak berteman dan berdiskusi. Namun, bukan berarti mudah menggali informasi mengenai kehidupan pribadinya.

Begitu pula setelah menikah, belum tentu bisa terbuka dengan pasangannya. Apalagi yang bersikap introvert adalah suami. Beberapa suami yang introvert tetap memberikan batasan yang bisa diceritakan dan tidak kepada istrinya.

Psikolog Rosdaniar, M.Psi mengatakan suami yang introvert bisa saja terpengaruh dari pola asuh yang ditanamkan orang tua sejak kecil. Rerata pola asuh di Indonesia mengharuskan anak laki-laki untuk kuat dan tidak boleh menangis.

Tanpa disadari hal ini membuatnya tidak dibiasakan untuk menceritakan keluh kesah (masalah) yang dihadapinya. Dan, ketika tumbuh dewasa dirinya menjadi sulit untuk mengungkapkan apa yang dirasakan.

“Dia lebih memilih menutupi dan cenderung menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Dia akan beranggapan menjadi sosok lemah ketika mendapatkan bantuan dari orang lain,” ujarnya.

Psikolog di BNN Provinsi Kalimantan Barat ini menuturkan karakter introvert ini tetap melekat dan menjadi tantangan bagi istri. Sulit untung mengubahnya.

Istri tidak bisa memaksa suami untuk bercerita. Menurut Niar, jika terus memaksa, bisa berujung pertengkaran.

“Perlu diingat, suami istri memiliki cara pandang penyelesaian masalah secara berbeda,” ungkap Niar.

Istri harus peka melihat perubahan emosional dari suami. Salah satu cara dengan melakukan pengamatan (observasi), kemudian menanyakan pada suami apa yang sedang terjadi.

“Mintalah pasangan untuk saling berbagi. Katakan bahwa ini adalah rumah tangga bersama, sehingga suka dan duka yang dialami harus dibagi,” ujar Niar.

Apabila perubahan suami terlihat sangat mengkhawatirkan, seperti kerap melamun, berdiam diri tanpa ingin diganggu, hingga menarik diri dari lingkungan yang berakhir pada depresi, istri bisa memaksa suami bercerita.

Jika suami tidak percaya menceritakan pada pasangan, istri bisa mengajak suami untuk berkonsultasi pada ahlinya (psikolog). Tidak perlu merasa tersinggung karena yang terpenting adalah agar beban yang dirasakan suami dapat berkurang.

“Tetapi saya yakin, suami tetap akan memilih bercerita dan terbuka dengan istri,” katanya.**

Read Previous

Sandang Pangkat Brigjen

Read Next

UMP Kalbar Terendah di Kalimantan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *