Menghadapi PHK di Tengah Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 berdampak luas, termasuk pada perekonomian. Banyak perusahaan terancam bangkrut dan terpaksa ‘merumahkan’, bahkan melakukan pemutusan hubungan kerja pada karyawannya. Pasti tak mudah menghadapi kenyataan kehilangan pekerjaan di tengah sulitnya kondisi keuangan.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) terus membayangi di tengah wabah Covid-19. Tak hanya di Indonesia, melainkan juga negara-negara lainnya.

Tak mudah menghadapi kenyataan di-PHK. Kondisi finansial menjadi kacau. Selain itu, pasti mengacaukan emosi. Apalagi jika selama ini menjadi tulang punggung keluarga.

Psikolog Dewi Widiastuti Lubis mengatakan siapapun tidak bisa menyalahkan kebijakan PHK yang diambil perusahaan. Terlebih melihat situasi dan kondisi yang dinilai sulit untuk melakukan produksi. Kondisi ini tentu membuat perusahaan meminimalisir kegiatan produksi.

“Dampaknya tidak ada pemasukan yang didapatkan baik untuk operasional maupun membayar gaji karyawan. Hingga akhirnya PHK dipilih sebagai jalan terbaik,” katanya.

Dewi mencontohkan pada rumah makan langganannya. Sang pemilik terpaksa merumahkan karyawan karena sepinyai pengunjung. Terlebih saat ini rumah makan hanya diperbolehkan melayani sistem take away (bawa pulang).

“Kini, pemilik hanya bisa mengandalkan bantuan kedua buah hatinya agar rumah makannya tetap berjualan demi bisa bertahan di kondisi ini,” cerita Dewi.

Dewi menuturkan PHK untuk kebanyakan orang adalah suatu akhir. Pasti muncul pergolakan emosi, seperti malu, tidak berdaya, dan kehilangan harga diri. Bahkan, tidak jarang dapat memicu diri menjadi stres.

“Ada rasa tidak percaya pada diri, apalagi bagi kepala keluarga yang memang diandalkan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Belum lagi anggapan lingkungan sekitar ketika melihat diri tidak lagi bekerja,” tutur Dewi.

Menurut Dewi, siap atau tidak, suka atau tidak, tetap harus bersiap menghadapi situasi PHK. Hindari terlalu larut dalam kesedihan. Lebih baik berpikir positif sekaligus meyakinkan diri bahwa tetap mampu kembali produktif.

Psikolog di RSJ Daerah Sungai Bangkong Pontianak ini menyatakan penting untuk menanamkan dalam diri bahwa terkena PHK bukan berarti menjadikan diri sebagai pecundang.

“Keputusan PHK bukan didasarkan pada penilaian bahwa Anda tidak berguna. Tak ada yang salah dengan Anda. Ingat, bukan Anda saja yang mengalami hal ini,” ujarnya.

Dewi menyarankan untuk berbesar hati menerima keadaan dan kembali bangkit. Saat PHK menjadi pilihan perusahaan, terimalah kenyataan pahit ini. Berikan waktu dan perhatian untuk diri sendiri.

“Lanjutkan hidup Anda. PHK yang Anda terima dari perusahaan bisa menjadi momen mengenal kekuatan diri,” ungkapnya.

Dewi menuturkan tetaplah berpikir bahwa ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan. Setiap orang memiliki kemampuan, pengetahuan, dan talenta yang bisa menjadi kekuatan untuk menghasilkan sesuatu bermanfaat bagi orang lain.

“Misalnya, mengasah kemampuan membuat dan menjual masker kain. Atau, bisa merundingkan terlebih dulu usaha apa yang akan dibangun bersama keluarga besar, baik istri, anak, orang tua dan saudara,” kata Dewi.

Psikolog yang praktik di Apotek Pelangi Kasih ini mengatakan bisa juga memanfaatkan uang pesangon yang diterima.

“Bisa membagi dua uang yang ada. Sebagian dijadikan modal awal membangun usaha, sisanya bisa ditabung sebagai dana cadangan sambil menunggu diterima bekerja di perusahaan lain,” pungkasnya. **

error: Content is protected !!