Menghadapi Stigma Negatif Saat Bekerja

Tak mudah menjadi tenaga medis maupun kesehatan di masa pandemi Covid-19. Selain harus mengatasi rasa cemas terpapar virus, juga harus menguatkan mental menghadapi stigma negatif dari masyarakat. Tak sedikit yang menganggap mereka sebagai pembawa virus. Tak hanya menjaga stamina, kesehatan mental pun harus menjadi perhatian.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Tenaga medis menjadi garda terdepan. Banyak risiko yang dihadapi. Tak hanya dapat terpapar dari sisi kesehatan, tetapi juga dikucilkan dari lingkungan. Pekerjaan terasa makin berat ketika ada masyarakat yang tak mengindahkan instruksi pemerintah untuk memutus rantai penularan Covid-19.

Seperti dihadapi Sari. Perempuan yang bekerja sebagai perawat di Kalbar ini pernah menangani Orang dalam Pemantauan (ODP), Pasien dalam Pengawasan (PDP), dan pasien Covid-19. Ia merasa cemas dan khawatir tertular. Sebab, jika terjadi, Sari berpotensi menularkan virus Covid-19 ini pada kedua orang tuanya dan saudaranya di rumah.

“Tentu ada kekhawatiran saat menangani pasien baik itu ODP, PDP bahkan positif Covid-19. Meskipun sudah menggunakan APD lengkap sesuai standar protab yang telah diberlakukan,” ujarnya.

Kesedihan perempuan berusia 26 tahun ini semakin bertambah karena rantai tidak kunjung putus. “Saya berharap masyarakat bisa kooperatif untuk berada #dirumahsaja. Mari sama-sama kita putus rantai penyebaran agar wabah Covid-19 ini segera berlalu,” pinta Sari.

Psikolog Yulia Ekawati Tasbita, S.Psi mengatakan banyak hal yang menyebabkan kesehatan mental tenaga terganggu saat menangani pasien Covid-19. Mulai dari kekhawatiran menularnya virus ke diri sendiri. Nantinya berpotensi menularkan ke orang sekitar terutama keluarga karena ada penyakit bawaan. Beban tugas semakin besar karena banyaknya pasien yang harus tertangani.

“Selain itu, stigma negatif dari masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan kesehatan mental garda terdepan terganggu,” katanya.

Menurut Yulia, sangat penting untuk menjaga kesehatan mental selama menangani pasien Covid-19. Karena kondisi mental dapat memengaruhi imunitas tubuh, sedangkan para tenaga medis harus berjuang untuk merawat kondisi pasien Covid-19.
“Kondisi mental tenaga medis yang tidak stabil tentunya akan memengaruhi aktivitasnya dalam menangani pasien,” ujar Yulia.

Yulia yang juga merupakan psikolog di Biro Psikologi Persona Consulting Pontianak ini menuturkan imunitas tubuh yang menurun akan membuat kesehatan terganggu. Walaupun dia  tidak dapat dipungkiri bisa saja para tenaga medis dirawat atau mengalami kematian sehingga jumlahnya akan semakin berkurang.

“Tentu hal ini akan menyulitkan dalam membantu penanganan pasien Covid-19 tersebut,” tutur Yulia.

Yulia menjelaskan kesehatan mental dapat terjaga dengan cara saling mendukung dengan rekan sejawat, dukungan dari keluarga, konsumsi informasi positif, dan menghindari berita negatif. Saat ada jeda waktu istirahat, bisa mencoba relaksasi, meditasi, berdoa atau beribadah dengan khusyuk agar tetap tenang, sabar, tabah, dan ikhlas menjalankan aktivitas menangani pasien Covid-19.

Yulia menambahkan tenaga medis bisa juga mendengarkan musik yang menenangkan dan menyenangkan.

“Apabila ada kondisi-kondisi psikologis berkaitan dengan Covid-19 yang sulit dan tidak tertangani, tenaga medis bisa segera menghubungi Layanan Psikologi Sehat Jiwa (Layanan Sejiwa) daring melalui call center 119, ext 8,” pungkasnya. **