Menghentikan Kebiasaan Buruk

Aswandi

Oleh: Aswandi

KEBIASAAN buruk yang tidak ditangani secara benar dan baik berpotensi besar melahirkan karakter, akhlak dan kepribadian yang buruk (tidak terpuji) pula hingga akhir hidup (wafat) dan kebangkitannya.

Ibnu Katsir dalam tafsir Surat Al-Imran (3) : 102 menyatakan “barang siapa yang hidup di atas sesuatu, maka ia akan mati di atasnya, dan barang siapa mati di atas sesuatu, maka ia akan dibangkitkan di atasnya”. Riset membuktikan, “kebiasaan hidup seseorang dibawa sampai mati. Baik kebiasaannya, maka baik pula akhir dari kehidupannya, demikian sebaliknya. Mahatma Gandhi mengingatkan, “Perhatikan kebiasaanmu karena ia akan menjadi karaktermu”.

Baik sebagai pribadi maupun anggota dari suatu kelompok semua merasakan bahwa menghentikan kebiasaan buruk adalah sulit.

Teman penulis, memiliki kebiasaan buruk, yakni mengisap asap/candu rokok dalam jumlah yang banyak (sedikitnya dua bungkus setiap harinya). Penulis ingin dia menghentikan kebiasaan buruknya itu. Namun apa yang terjadi, dia sangat tersinggung dan marah atas nasihat penulis, hampir saja terjadi benturan fisik diantara kami.

Teman lainnya juga demikian, setiap kali berbicara berhadap-hadapan dengannya penulis merasa tidak kuat mencium aroma busuk candu rokok yang keluar dari mulutnya. Berkali-kali penulis ingatkan agar ia berhenti merokok. Penulis katakan bahwa “kebiasaan buruk merokok merusak kesehatan fisik dan jiwa”. Alhamdulillah, sekarang dia mengatakan kepada penulis,”Sudah Berhenti Merokok”, maknanya kebiasaan buruk bisa dihentikan.

Alan Deutschman (2008) dalam bukunya “Change or Die” mengemukakan fakta-fakta penelitian berikut ini: (1) sebanyak 9 (sembilan) dari sepuluh orang (90%) tidak mau berubah dari kebiasaan buruknya; (2) mereka sakit karena pilihan gaya hidup atau kebiasaan buruk mereka, bukan karena faktor-faktor di luar kontrol mereka.

Orang yang telah menjalani operasi bypass akibat kebiasaan hidup tidak sehat yang dilakukannya, sebayak 90% di antaranya tidak mengubah gaya hidup atau kebiasaan buruk mereka setelah dua tahun pasca operasi; (3) di Amerika Serikat cukup mengejutkan, 30% para residivis ditahan kembali enam bulan kemudian dan 67,5% lainnya ditahan kembali tiga tahun kemudian.

Sebagian besar tahanan ditangkap kembali karena melakukan kejahatan yang serius, artinya penjara tidak mampu merubah kebiasaan buruk mereka; dan (4) sebanyak 90% pasien tidak mau berubah walaupun dokter telah memberinya informasi tentang apa yang harus mereka lakukan untuk memperpanjang hidup mereka, mereka sangat sulit meninggalkan kebiasaan buruknya. Penyakit jantung dan ancaman kematian tidak memotivasi penderitanya untuk mengubah kebiasaan buruk mereka dan ketakutan akan hilangnya pekerjaan juga tidak menggugah para pekerja untuk berhenti dari kebiasaan buruknya.

Banyak pimpinan dari berbagai intitusi menyampaikan keluhannya kepada penulis mengenai sulitnya menghentikan kebiasaan buruk bawahan atau karyawan yang dipimpinnya, misalnya kebiasaan buruk merokok di tempatnya bekerja dan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan. Jika mereka seorang pejabat, pimpinannya mengancamnya untuk membebaskan (mencopot) dari jabatannya. Faktanya, ancaman tersebut tumpul, ompong ibarat singa tidak bergigi, mereka tetap saja merokok. Ancaman pemimpin layaknya dentuman meriam karbit.

Tersiar kabar, baru kali pertama memimpin rapat, Bapak Satono selaku Bupati Sambas marah kepada peserta yang terlambat hadir pada rapat tersebut. Penulis amati, terlambat hadir dalam suatu acara telah menjadi kebiasaan buruk dari sejak lama, ada di mana-mana, bahkan pihak yang mengundang rapat juga terlambat, ibarat “Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari”. Di sana terlihat, seorang pemimpin yang belum menjadi contoh atau teladan.

Sangat berbeda ketika kami (26 tokoh masyarakat Indonesia) mengikuti berbagai pertemuan bertema “Community Police” di Jepang, Kami diundang untuk hadir jam 08.00 sd 11.00 waktu setempat.Takut terlambat, kamipun sudah tiba/hadir di tempat pertemuan 30 menit (07.30) sebelum acara dimulai, namun kami tidak dapat memasuki ruang pertemuan karena pintu masuk masih tertutup. Sekitar 15 menit kemudian (07.45) pintu terbuka dan kami dipersilakan masuk ruang pertemuan. Tokoh masyarakat Jepang yang diundang menghadiri pertemuan tersebut sudah duduk manis menyambut kedatangan kami.

Setelah semua undangan masuk ruangan pertemuan kembali pintu ditutup/dikunci. Pembawa acara dari atas mimbar mengatakan, “Jika bapak ingin ke toilet, silakan diberi waktu 10 menit”. Penulis amati, selama pertemuan berlangsung tidak ada seorang pun yang hadir keluar masuk ruangan kecuali ada dua, tiga orang petugas.

Sejak 5.000 tahun sebelum masehi (7.000 tahun lalu) Law Tsu seorang filosof Cina yang sangat dihormati hingga saat ini telah mengingatkan “Suatu kebiasaan buruk/salah yang tidak dikoreksi, maka kebiasaan buruk tersebut akan menjadi sesuatu yang baik-baik saja/kebenaran”. Mahatma Gandhi seorang pemimpin dunia sejati menambahkan, “Satu kebiasaan buruk ditoleransi, pada waktu bersamaan seribu kebiasaan buruk lainnya minta ditoleransi”. Jika peringatan filosof dan pemimpin itu tidak diindahkan/dipatuhi, maka akan mengakibatkan kepemimpinan berlangsung kurang efektif.

Belajar dari peristiwa di atas, menurut penulis, apa yang dilakukan oleh Bapak Satono selaku Bupati Sambas tidaklah salah atau sudah benar. Barang kali kurang bijak saja, seorang pemimpin mestinya bijak di mana ucapan dan tindakannya tidak membuat orang lain tersinggug dan tidak mempermalukannya. Seseorang yang baru saja disumpah dan dilantik menjadi pemimpin, semangatnya menggebu, terkadang kehilangan kontrol dan tindakannya irrasional adalah hal biasa. Kita berharap semua pihak belajar dari kejadian itu. Mohon dapat dimaklumi.

Baik secara pribadi maupun anggota dari suatu kelompok memiliki kebiasaan buruk yang sulit dihentikan sekalipun mereka tahu akibat dari kebiasaan buruknya. Pertanyaannya adalah. “Mengapa Menghentikan Kebiasaan Buruk itu Sulit”?.

Pertanyaan tersebut sudah lama diketahui oleh banyak orang di dunia ini. Namun mereka berasumsi dan percaya bahwa kebiasaan buruk tersebut dapat dihentikan.

Penelitian dari Duke University pada tahun 2007 dan banyak penelitian lainnya menyimpulkan bahwa manusia sulit menghentikan kebiasaan buruknya karena kebiasaan buruk tersebut telah menguasai pikiran dan sikapnya. Ditemukan lebih dari 40% tindakan yang dilakukan seseorang setiap harinya bukanlah keputusan sungguhan melainkan kebiasaan”, dikutip dari Charles Duhigg (2014) dalam bukunya “The Power of Habit”.

Ibrahim Elfiky seorang pakar psikologi kepribadian menambahkan bahwa 80% setiap harinya manusia berpikir negatif, selebihnya 20% manusia berpikir positif. Maknanya adalah setiap harinya manusia telah tersandra oleh pikiran negatifnya yang kemudian melahirkan sikap negatif pula. Itulah di antara sebab manusia sulit menghentikan kebiasaan buruknya. Jika kita ingin berubah ke arah yang lebih baik, mestinya sejak dini kita “Melawan Pikiran Negatif” tersebut.

Para psikolog berkumpul di Fransisco University membahas satu tema “Mengapa Mengubah Kebiasaan Buruk itu Sulit”. Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah rekomendasi, bahwa mengubah kebiasaan buruk itu ternyata mudah selama menjalankan tiga komponen penting berikut ini: (1) komitmen, janji atau niat suci dan tulus kepada diri sendiri, tidak cukup dalam hati, namun akan lebih baik jika komitmen tersebut dituliskan, setiap waktu diucapkan dan diwujudkan dalam tindakan; (2) modifikasi lingkungan, Kazuo Murakami (2007) dalam bukunya “The Divine Message of DNA” menjelaskan bahwa kita memiliki mekanisme “on-off”, seperti saklar. Perilaku dan kebiasaan dapat berubah atau bermutasi karena ia berinteraksi dengan lingkungan dimana seseorang berada.

Oleh karena itu, lingkungan, baik fisik maupun lingkungan non fisik harus dimodifikasi dengan baik sesuai komitmen yang telah ditanamkan dalam hati. Selain itu, mutasi kebiasaan dipicu oleh sikap mental, perasaan atau emosi dan pikiran positif, antusiasme, kebahagiaan, keceriaan dan keadaan psikologi lainnya; (3) monitoring dan evaluasi (monev) perubahan perilaku yang diinginkan atau direncanakan. Akan lebih efektif, jika monev tersebut dilakukan secara formatif disertai tindak lanjut dan dilakukan secara berkelanjutan.

Semakin cepat monev itu dilakukan, maka akan semakin baik proses dan hasil perubahan perilaku dan kebiasaan seseorang. Orang bijak mengatakan, “setiap kesalahan atau kegagalan dikoreksi atau diperbaiki berarti sebuah kemajuan”. Secara jujur harus diakui jika selama ini kita sulit menghentikan kebiasaan buruk. Silakan para pembaca merefleksi diri. Jawabannya hampir dapat dipastikan bahwa kita telah lalai atau abai memperhatikan tiga komponen (komitmen, modifikasi lingkungan dan monitoring evaluasi) tersebut.

Penjelasan di atas belum cukup. Menghentikan kebiasaan buruk tidak instan melainkan melalui proses atau tahapan yang baik dan benar. Williem Bridge seorang pakar perubahan perilaku membagi tahapan perubahan perilaku sebagai berikut: (1) fase akhir atau fase pertaubatan; (2) fase transisi; dan (3) fase awal baru perubahan.

*Penulis, Dosen FKIP Untan

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!