Menghidupkan Budaya Gotong Royong, Mempererat Kebersamaan dan Menjaga Eksistensi Masyarakat

Awan mendung, menyelimuti sebagian langit di Lingkungan Setompak, Kelurahan Sungai Sengkuang, Jumat (27/11) pagi. Ada sekira dua puluh warga berkumpul di lokasi Masjid Hidayatushalihin yang letaknya tepat dipersimpangan jalan utama wilayah itu. Jemari orang–orang itu sedang asyik merangkai besi. Sebagian lagi membersihkan tempat yang akan dibangun fasilitas di masjid tersebut.

SUGENG ROHADI, SANGGAU

“Alhamdulillah, ada bapak–bapak wartawan datang,” ujar Abang Usman, Lurah Sungai Sengkuang menyambut sejumlah awak media. Pak Usman–begitu dia biasa disapa–adalah salah satu tokoh yang dikenal dekat dan ramah dengan warganya.

Pagi itu, dia didampingi oleh anggota Babinsa dari Koramil Kapuas (Kodim 1204 Sanggau) untuk ikut serta, bersama–sama warga, dalam kegiatan gotong royong pembangunan fasilitas masjid dan juga pembangunan tugu keserasian sosial yang merupakan bagian dari program Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia.

Perlu digaris bawahi, Forum Keserasian Sosial Setompak Permai di Lingkungan Setompak, Kelurahan Sengkuang, Kecamatan Kapuas adalah salah satu penerima bantuan dari Kemensos RI. Sebagaimana diungkapkan Pak Usman.

“Iya mereka ini (FKS Setompak Permai) adalah penerima bantuan dari Kemensos RI. Dananya senilai seratus lima puluh juta rupiah. Ini melalui pengusulan untuk tahun 2020. Alhamdulillah, terimakasih kepada Kemensos RI. Makanya bantuan ini harus dimaksimalkan betul,” ujarnya.

Usai berbincang dengan Pak Usman, harian ini menemui Gusti Syafarani yang dipercaya sebagai Ketua Forum Keserasian Sosial Setompak Permai. Dirinya membenarkan bahwa untuk wilayah Kelurahan Sungai Sengkuang, bantuan Kemensos RI tahun 2020 diberikan di Lingkungan Setompak (ada beberapa tempat diwilayah lain) melalui FKS Setompak Permai.

Dalam pengelolaan bantuan ini, pihaknya mengedepankan gotong royong. Mengingat, dalam pengerjaannya tidak diperkenankan adanya upah. “Tidak boleh ada upah. Makanya, kami melakukannya dengan gotong royong dan melibatkan anak muda serta orangtua yang ada di lingkungan Setompak.

“Memang lebih nyamannya ya gotong royong. Semua bisa dilibatkan. Karena ini juga kan untuk kepentingan bersama. Maka keberhasilan pengelolaan bantuan ini harus dilakukan bersama–sama. Itu juga kan makna dari gotong royong sebagai ciri khas masyarakat Indonesia,” jelasnya.

“Supaya juga ada kedekatan sesama masyarakat. Jadi, ini bukan miliknya FKS sebagai wadah, tapi punya semua masyarakat di sini. Masjid ini, juga milik masyarakat, utamanya umat Islam di sini. Dan manfaatnya bisa dirasakan bersama. Fasilitasnya juga bisa digunakan bersama,” katanya menambahkan.

Mengenai peruntukan dana bantuan tersebut, Syafarani menjelaskan bahwa bantuan tersebut digunakan untuk kegiatan fisik dan nonfisik. Kegiatan fisik fokusnya adalah membangun fasilitas seperi empat unit WC dan tempat wudhu para jamaah serta tugu. Sedangkan kegiatan nonfisiknya berupa sosialisasi berkenaan dengan kegiatan tersebut melalui FKS Setompak Permai.

“Dananya kami bangunkan empat unit WC, lalu tempat berwudhu. Di depan masjid juga kami bangun tugu keserasian sosial. Lalu, ada kegiatan sosialisasi terkait dengan kegiatan ini,” katanya.

“Untuk sosialisasi itu lima puluh juta (rupiah), kegiatan fisik seratus juta (rupiah). Awal pembangunan ini, uang untuk pembelian tanah (Di samping masjid) dengan menggunakan uang masyarakat (uang kas masjid, badan amal kematian dan sisa kegiatan swadaya yang kami dapat (bantuan) tahun 2017 lalu,” tambahnya.

Dirinya berharap fasilitas–fasilitas tersebut dapat memberi manfaat yang besar bagi warga ditempat tersebut. Pihaknya juga berterimakasih kepada pemerintah atas bantuan yang telah diberikan. “Terimakasih atas bantuan ini dan harapan kami bisa bermafaat bagi warga di sini,” ujarnya.

Berkenaan dengan gotong royong dan kebersamaan, Syafarni menjelaskan bahwa sebagai salah satu ciri khas masyarakat Indonesia, budaya ini harus terus dipertahankan. Karena gotong royong merupakan eksistensi masyarakat Indonesia sebagaimana dilakukan dan dibuktikan oleh para pendahulu bangsa.

Sebagai generasi sekarang, lanjut dia, hal–hal baik yang diajarkan oleh nenek moyang harus dipertahankan dan terus dilestarikan sehingga budaya yang baik ini membawa dampak yang baik bagi kehidupan bermasyarakat.

“Inilah eksistensi kita sebagai anak bangsa. Gotong royong melekatkan persaudaraan dengan kebersamaan. Pekerjaan yang berat akan menjadi lebih ringan. Begitu juga dengan aspek yang lain sehingga masalah–masalah yang ada dapat dicarikan solusi bersama. Intinya bagaimana budaya ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam, mulai dari pribadi–pribadi, kesukuan maupun lainnya,” jelasnya. (*)

error: Content is protected !!