Menghormati Orang Tua

Oleh: Aswandi

ORANG tua yang penulis maksud pada opini ini adalah siapa saja yang telah dewasa atau berusia lanjut (lansia), baik mereka orang tua sendiri maupun orang tua lain pada umumnya.

Jika otak dan pikirannya kurang difungsikan dengan baik, maka di usia dewasa dan lansia tersebut, orang tua sering terlihat mudah lupa, merasa kesepian, mudah tersinggung dan mudah marah. Penulis temui tidak sedikit juga orang tua di usia lansia masih tetap segar dan tegar, kritis, tetap bersemangat, patriotik, minat baca dan menulisnya masih sangat tinggi. Sepanjang penulis ketahui, orang tua yang tetap bersemangat, segar dan tegar adalah mereka yang selalu membaca, berpikir tentang persoalan kehidupan ini, dan ingin di masa tuanya hidup lebih bermakna atau bermanfaat buat orang lain.

Norman Peale seorang penulis dan Profesor Haries, mereka adalah ilmuan kelas dunia berhenti menulis dan mengajar ketika ia wafat, dalam keadaan sakit namun tangan dan mulutnya masih mampu bergerak, pen (alat tulis) yang digunakan untuk menulis masih terselip diantara jari jemarinya saat ia wafat, ia tetap menulis dan mengajar. Victor Frankl (2004) seorang guru besar bidang logotrafis, dalam bukunya “Optimisme” menceritakan pengalamannya dipenjara Nazi Hitler, ternyata banyak tahanan di penjara Nazi berusia muda meninggal bukan semata-mata karena penyiksaan oleh sipir penjara, melainkan meninggal akibat atau dampak dari stress yang berkepanjangan, sementara Victor Frankl dan teman-temannya penghuni penjara yang berusia lansia tetap segar bugar dan bersemangat. Beliau lakukan penelitian secara lebih mendalam di penjara Nazi, akhirnya menyimpulkan bahwa, para tahanan yang tetap segar dan bersemangat karena mereka memiliki keinginan yang kuat di akhir hidupnya atau setelah menjalani hukuman penjara ingin menjalani hidup dan kehidupan lebih bermakna atau bermanfaat bagi orang banyak, keinginan mereka untuk berbagi kebahagiaan kepada semua orang tanpa diskriminatif.

Jika panjang umur, insyaallah semua kita akan mengalami suatu masa menjadi orang tua. Almarhum Profesor BJ. Habibie presiden RI ke-3 selama hidupnya, bahkan menjelang wafatnya selalu terlihat segar dan bersemangat, namun di usia lanjut, di saat-saat tertentu beliau sering merasakan kesepian dan kerinduan terhadap isteri tercinta yang sudah lama wafat dan rindu kepada anak dan cucu yang nun jauh di sana, Ilham Habibie putera sulungnya bercerita bahwa ayahnya merasakan belum cukup dengan doa di rumah dan di tempat-tempat lain sebelum berziarah ke pusara ibunya sebagaimana ayahnya lakukan setiap hari Jum’at, tidak sedikit orang tua di saat sudah uzur (lansia), mereka berpisah dengan anak kandung yang dibesarkannya, dan mereka lebih senang hidup dipelihara oleh para pembantunya dan tidak sedikit yang dititipkan di panti jompo. Sayangnya panti Jompo di negeri ini sangat memprihatinkan dan menyedihkan, sebagai perbandingan kebetulan penulis pernah menyaksikan secara langsung betapa baiknya pemeliharaan orang tua berusia lanjut di panti-panti Jompo di negara Jepang, rasanya tidak jauh berbeda dengan hotel-hotel berkelas. Asumsinya terdapat korelasi positif kepedulian mengurus orang tua terhadap kemajuan suatu bangsa.

Opini ini ditulis, terinspirasi seringnya penulis menyaksikan dengan mata sendiri, membaca dan mendengar kisah dan berita tentang kurangnya rasa hormat sebagian masyarakat kita terhadap orang tua.

Pada suatu ketika, seorang sepuh menemui penulis, sambil berlinang air mata beliau menceritakan pengalaman tidak menyenangkan yang diterimanya ketika beliau ditolak mau bersilaturahmi dengan mantan pimpinannya. Pengalaman lain, seorang sepuh, pada saat beliau menjabat semua orang menghormatinya, setelah berusia lanjut dan uzur, dengan bersusah payah beliau datang memenuhi undangan perkawinan, namun sayangnya banyak orang di majelis walimah kurang perduli kepadanya, beliau duduk sendiri, setiap tamu yang lewat di depannya tidak banyak yang menyalamainya, terlihat tidak nyaman dirawut wajahnya, penulis duduk mendampinginya hingga acara selesai dan kami pulang bersama. Sudah menjadi pengetahuan umum, perlakukan kekerasan, baik fisik maupun verbal terhadap orang tua oleh anaknya marak terjadi akhir-akhir ini. Demikian pula, banyak para pendidik dan orang tua menyampaikan keluhannya kepada penulis, bahwa sekarang ini peserta didik dan anak-anak kurang hormat kepada guru, dosen dan orang tuanya. Fakta dan data di atas cukup menjadi bukti bahwa masyarakat kita perlu belajar banyak mengeni hormat kepada orang tua, antara lain berkata benar dan bersikap sabar kepada orang tua.

Umat manusia, apakah mereka beragama maupun tidak beragama memerintahkan untuk menghormati orang tua. Bahkan Allah SWT berjanji akan menyalamatkan umat manusia beriman, baik di dunia maupun di akhirat yang berbakti kepada orang tuanya. Semua kita telah mengetahui perintah tersebut dari sejak kecil, namun faktanya dalam perjalanan sejarah umat manusia tidak atau kurang memiliki rasa hormat kepada orang tua.

Thomas Lickona (2012) dalam bukunya “Educating for Character” dan para pakar pendidikan karakter lainnya sepakat bahwa keberhasilan dalam membentuk karakter atau akhlak mulia tidak ditentukan karena banyaknya nilai (value) karakter yang diajarkan, cukup dimulai dengan menanamkan satu atau dua nilai atau karakter saja, kemudian diikuti oleh strategi pendidikan/pengajaran karakter yang tepat dan monitoring/evaluasi secara konsisten. Satu atau dua nilai (value) karakter yang dimaksud adalah; menanamkan rasa hormat dan tanggung jawab sejak dini.

Malcolm Gladwell (2011) dalam bukunya “Outliers” menceritakan misteri suku Roseto di sebelah tenggara Roma Italia. Penduduk suku Roseto tidak pernah ada kasus bunuh diri, tidak ada penyalahgunaan alkohol dan kecanduan obat terlarang lainnya. Penduduk suku Roseto dikenal mengkonsumsi gula dan daging dalam jumlah yang banyak melebihi konsumsi daging dan gula penduduk dunia pada umumnya, dan  penduduk suku Roseto kurang senang berolahraga. Menurut para medis, memperhatikan gaya hidup dan pola makan penduduk suku Roseto yang demikian itu akan berdampak pada kesehatannya, akhirnya mudah terserang penyakit dan wafat. Faktanya tidak demikian, semua penduduk suku Roseto panjang umurnya, mereka meninggal karena usia yang sudah lanjut atau uzur.

Memperhatikan fenomena paradox tersebut, diturunkan tim peneliti secara komprehensif menghadirkan ilmuan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, akhirnya penelitian secara mendalam menyimpulan bahwa rahasia atau misteri panjang umur suku Roseto bukanlah terdapat pada pola makan, olah raga, dan genetic atau lokasi, melainkan dipengaruhi oleh dua factor, yakni penduduk suku Roseto; (1) memiliki kebiasaan saling berkunjung antara satu sama lain atau senang “Bersilaturrahmi”. Suku Roseto mayoritas penganut nasrani membuktikan bahwa melalui silaturrahmi, panjang umur dan murah rezeki; (2) memiliki rasa hormat yang sangat tinggi kepada orang atau siapa saja yang bersusia lebih tua, terutama rasa hormat kepada para kakek dan nenek.  

Mereka memilih etos egaliter di dalam hidup bermasyarakat yang mendorong orang-orang kaya untuk tidak memamerkan kekayaannya dan mendorong orang-orang yang kurang sukses menguburkan kegagalannya. Struktur sosial masyarakat mampu melindungi penduduknya dari tekanan dunia modern (Penulis, Dosen FKIP UNTAN).   

Read Previous

Ingatkan Petani Waspadai Pupuk Palsu

Read Next

Peringatan HUT TNI ke-74, Lantamal XII Tanam 4.500 Mangrove

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *