Mengislamisasikan Ilmu Komunikasi

opini pontianak post

Oleh: Harjani Hefni, Lc

Kehadiran Nabi Muhammad di muka bumi ini adalah untuk menebar rahmat bagi semesta. Untuk mencapai visi besar ini Beliau menetapkan satu misi yang sangat jitu, yaitu menyempurnakan akhlak di seluruh aspek. Jika umat Islam berhasil memberikan celupan akhlak islami di seluruh bidang kehidupan, maka alam ini pasti akan merasakan keindahan dan rahmat Islam.

Di antara aktivitas penting dan tidak terpisahkan dari kehidupan manusia adalah berkomunikasi, bahkan ada yang menyatakan 90 persen aktivitas manusia dalam sehari adalah berkomunikasi. Selain prosentase kuantitatif, dilihat dari dampaknya, komunikasi juga memiliki pengaruh sangat besar dalam membentuk kepribadian dan peradaban.

Sebagai agama yang memiliki ajaran yang lengkap, penulis meyakini bahwa Islam tidak mungkin membiarkan umatnya berkomunikasi tanpa panduan. Karena itu, mengkaji ayat-ayat Alquran yang ada hubungannya dengan komunikasi adalah tugas mulia dari para akademisi muslim terutama yang mendalami Ilmu Komunikasi. Selain mengkaji al-Quran, meneliti hadits juga sangat bermanfaat, bahkan hadits adalah panduan aplikatif bagaimana seorang muslim seharusnya berkomunikasi. Upaya untuk meneliti ayat-ayat Alquran dan hadits serta meneladani Nabi dalam berkomunikasi inilah yang disebut dalam tulisan ini dengan islamisasi komunikasi.

Kenapa Perlu Islamisasi?

Kesadaran umat untuk hidup secara islami di negeri ini semakin meningkat. Hal itu bisa dilihat dari menjamurnya berbagai sektor yang berlabel Syariah, seperti Bank Syariah, Asuransi Syariah, Hotel Syariah, Rumah Sakit Syariah, pariwisata Syariah, dan lain-lain. Kesadaran untuk memilih produk makanan halal juga semakin meningkat bahkan sudah menjadi life style. Membaca trend yang berkembang di masyarakat, maka banyak perguruan tinggi yang membuka program studi yang bertujuan untuk menyiapkan SDM yang bisa bekerja di sektor-sektor yang disebutkan di atas. Program Studi Ekonomi Islam dan Perbankan Syariah sekarang menjamur di mana-mana.  Peminatnya di banyak tempat menyamai bahkan mengungguli minat mahasiswa yang masuk ke Program Studi Pendidikan Agama Islam yang selama ini selalu teratas.

Berikut ini beberapa alasan kenapa kita perlu melakukan islamisasi komunikasi.

Pertama, islamisasi komunikasi sebenarnya gerakan natural yang dilakukan oleh muslim karena panggilan nuraninya yang ingin membuktikan kesungguhannya dalam menjalankan nilai-nilai agamanya. Ada beberapa prinsip dalam Islam yang tidak terakomodir oleh Ilmu Komunikasi secara umum. Di antara nilai itu adalah pentingnya niat karena Allah dalam berkomunikasi, analisis dampak komunikasi terhadap komunikator dan komunikan yang tidak hanya dunia, tetapi juga dampak akhirat, keyakinan adanya pengawasan malaikat terhadap setiap lafadz yang diucapkan, adanya  komunikasi muslim dengan Pencipta yang sangat spesifik, dan beberapa prinsip lainnya.

Kedua, besarnya perhatian Islam terhadap lisan. Islam sangat peduli dengan lisan dan menjadikan kemampuan menjaga lisan sebagai salah satu indikator seseorang beriman kepada Allah dan hari akhir. Lisan bisa membunuh karakter seseorang. Gara-gara fitnah yang dilancarkan oleh orang munafik di Madinah bahwa Aisyah sudah berbuat serong dengan seorang sahabat yang bernama Shofwan bin Mu’atthal, Aisyah istri Rasulullah tercemar nama baiknya dan kehabisan air mata untuk mengungkapkan rasa kesedihannya. Gara-gara fitnah itu, hubungan Rasulullah dengannya sempat hambar, sikap sebagian sahabat menjadi sinis, dan pro kontra terjadi di masyarakat.

Dari Abdullah bin ‘Amr berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Akan terjadi fitnah yang membuat Arab mati bergelimpangan. Lisan pada saat itu jauh lebih tajam daripada pedang.” (HR. Tirmidzi).

Ketiga, komunikasi menentukan baik buruknya perilaku. Saat berinteraksi manusia hanya dihadapkan pada dua pilihan, mempengaruhi atau dipengaruhi. Untuk menghindari pengaruh negatif, sebaiknya tidak bermesraan dengan orang-orang yang dapat merusak perilaku kita. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang itu tergantung kepada agama teman dekatnya. Hendaklah seseorang memperhatikan dengan siapa dia berteman.”(HR.Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad).

Kata “khalil” mengandung makna persahabatan dan kasih sayang yang menembus ruang-ruang hati.(Ibrahim Musthafa: 253).  Model persahabatan seperti ini tentunya bersumber dari komunikasi yang telah terbangun lama di antara dua sahabat tersebut, sehingga yang muncul adalah hubungan ‘seia sekata’. Tarde menyebut fenomena seseorang dipengaruhi oleh perilaku orang lain yang berinteraksi sehari-hari dengan teori imitasi.(Onong Uchjana Effendi:248).

Keempat, kepedulian Islam terhadap akhlak komunikasi yang khas Islam. Komunikasi dalam Islam memiliki hubungan erat dengan Allah yang mengajarkan manusia ‘Al Bayan’. Agar ‘bayan’ yang dikeluarkan oleh lisan tidak membuat suasana menjadi runyam, Allah dan Rasul-Nya memberikan kepada kita rambu-rambu berkomunikasi yang disebut dengan akhlak.

Akhlak komunikasi dalam Islam tidak terlepas dari nilai keimanan seseorang. Berkomunikasi yang baik menurut Islam adalah kemampuan memadukan antara kemauan yang ada di dalam hati dengan apa yang diucapkan oleh lisan dan yang dibuktikan oleh anggota tubuh. Jika satu dari tiga komponen ini hilang, maka komunikasi akan kehilangan makna.

Berdasarkan penelusuran ayat-ayat dan hadits-hadits penulis menemukan bahwa Islam sangat menekankan akhlak dalam berkomunikasi. Muara dari akhlak itu ialah membuat suasana yang berkualitas dan harmonis di antara komunikator dan komunikan. Dengan demikian, paradigma komunikasi Islami mengacu kepada kekuatan ilmu pengetahuan dan moral dalam memandu hubungan antara dua pihak.

Sebagai sebuah ilmu, Komunikasi Islam memang masih sangat muda. Perlu kajian yang lebih mendalam tentang paradigma komunikasi dalam Islam. Ilmu komunikasi yang telah berkembang pesat dewasa ini jika tidak dikawal oleh ajaran agama akan kehilangan maknanya. Untuk membangun paradigma yang lebih universal, perlu dikaji beberapa hal-hal. Pertama, melakukan studi perbandingan antara teori-teori komunikasi yang sudah mapan dengan cikal bakal ilmu komunikasi Islami. Kedua, mengkaji Alquran secara serius agar ditemukan mutiara-mutiara ajaran Islam yang masih terpendam. Ketiga, melakukan pengkajian terhadap hadits-hadits yang bisa dijadikan landasan membangun paradigma komunikasi.  Keempat, kajian yang serius terhadap tiga masalah di atas diharapkan dapat memberikan kontribusi baru terhadap perkembangan ilmu komunikasi, baik menemukan teori baru, memapankan teori lama, atau mengoreksi, bahkan membatalkan teori yang telah ada. **

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak

 

error: Content is protected !!