Menilik Pembuatan Mi Asin di Pontianak
Simbol Kelanggengan dan Umur Panjang

MIE ASIN : Salah satu pekerja mie asin sedang menjemur mie asin di rumah produksinya di Jalan Diponegoro, Senin (8/2). Menjelang perayaan Imlek mie asin ini menjadi salah satu makanan istimewa bagi warga Tionghoa, karena mie asin ini juga dipercayai sebagian warga Tionghoa bisa memperpanjang umur . MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Mi asin menjadi salah satu hidangan meja makan di setiap perayaan penting, khususnya bagi masyarakat Tionghoa. Mi asin dipercaya sebagai simbol kelanggengan dan panjang umur.

Pontianak Post berkesempatan mengunjungi dan melihat langsung industri rumahan mi asin milik Sunyoto Tejo alias The Ngk Cun di Jalan Diponegoro, Kota Pontianak, Senin (8/2). Saat mengunjungi industri rumahan mi itu, beberapa pekerja, termasuk The Nga Cun alias Acun tengah sibuk membuat adonan tepung, sebagai bahan dasar pembuatan mi asin. Ia dibantu istri dan anak sulungnya, Fenddy.

Alat pembuat adonan cukup sederhana. Yakni, menggunakan alu (kayu berbentuk bulat panjang) sebagai alat penggilas. Pembuatan mi asin ini, sama dengan mi-mi lainnya melalui proses cukup panjang. Pertama, membuat adonan mi yang terdiri dari tiga macam bahan dasar, tepung, air dan garam. Setelah jadi, adonan digilas menggunakan kayu berbentuk bulat panjang menjadi bantalan-bantalan yang kemudian dipotong-potong sesuai ukuran.

Proses selanjutnya, dimasukkan ke dalam mesin penggiling agar mendapatkan hasil yang sama ukuran tipisnya. Adonan kemudian dimasukan ke dalam mesin pengiris. Mesin inilah yang mengubah bentuk adonan yang semula berbentuk gulungan tipis,  menjadi helai-helai mi.

Setelah proses penggilingan, lanjut Fenddy, proses selanjutnya adalah penjemuran di bawah terik matahari selama satu jam. Waktu yang diperlukan pada saat menjemur tergantung pada cuaca. Semakin cerah atau panas, semakin cepat proses penjemuran.

Setelah kering, helai demi helai mi dikukus dalam wadah khusus yang terbuat dari kayu selama kurang lebih satu jam. Kemudian mi-mi itu didinginkan selama beberapa menit, lalu diikat, dimasukkan ke dalam kemasan plastik dan siap dijual. “Mi asin di sini hanya bisa bertahan satu minggu. Karena tidak ada bahan pengawet,” tutur Fenddy.

Menurut Fenddy, rumah produksi mi asin sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Ia merupakan generasi keempat penerus usaha keluarga yang dirintis oleh kakek buyutnya, Bun Heng, perantau dari negeri Tiongkok. Saat ini, Fenddy bersama ayah dan ibunya, Reni Julianti serta beberapa karyawan untuk meneruskan dan menghidupkan usaha warisan leluhur itu.

Secara detail, Acun tidak mengetahui persis, kapan usaha pembuat mi asin itu mulai berjalan. Ia hanya mengetahui cerita dari orangtuanya bahwa usaha ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.  Sejak berdiri, rumah produksi mi asin ini telah tiga kali berpindah tempat. Namun semua lokasi masih berada di Jalan Diponegoro. Saat itu belum sepadat sekarang. Belum ada deretan ruko dan pusat perbelanjaan.

Dalam sehari, mulai pagi hingga menjelang siang, mereka hanya mampu memproduksi rata-rata 2-3 sak tepung terigu. “Setiap hari rata-rata 40-50 kilogram,” kata Fenddy. Mi asin yang juga dikenal dengan sebutan Siu Mi ini memiliki filosofi umur panjang diwakili dengan bentuk mi yang mulur panjang. Biasanya, mi panjang umur dikonsumsi menjelang Imlek, Cap Go Meh atau Tahun baru.

Sebelum menyantap Siu Mi, keluarga yang berkumpul mengucapkan doa dan harapan untuk tahun yang baru.  Siu Mi juga dipercaya sebagai simbol kelanggengan umur manusia. Cara menyantapnya pun tidak sembarangan yaitu dimakan secara utuh tanpa digigit, sebab jika terputus memiliki arti yang tidak baik. Jadi, agar mi tidak terputus cara makannya pun menggunakan sumpit. Ia menambahkan untuk permintaan pasar menjelang tahun baru imlek tahun ini mengalami sedikit penurunan. (arf)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!