Menjadi Umat yang Tengah

Samsul Hidayat

Oleh: Samsul Hidayat

TUHAN, manusia dan alam sejatinya tak terpisahkan dan terhubung satu dengan yang lain. Bagi manusia, kita mewarisi sifatnya makhluk atau ciptaan. Pada alam juga mewarisi sifat makhluk yang banyak kesamaan dengan manusia. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa unsur pada alam, yaitu angin, air, tanah dan api. Bentuknya sangat empirik dan dapat diraba atau dilihat.

Sementara pada diri manusia juga memiliki beberapa elemen alam sebagaimana diatas, seperti unsur (anasir) angin, air, tanah dan api. Terdapat beberapa pendapat mengenai sifat dari elemen-elemen tadi. Seperti (Musbiki, 2010:104) yang menyatakan bahwa unsur tanah mencerminkan nafsu lawwamah, warnanya hitam, sifat pada diri manusia seperti loba dan tamak.

Elemen api mencerminkan nafsu ammarah, warnanya merah, menyifat pada diri manusia suka marah, berani dan mendorong. Elemen air mewakili sifat sufiyah, warnanya kuning, mencerminkan sifat keinginan manusia yang terus menerus. Sementara elemen angina atau udara, merupakan sifat muthmainnah, berwarna putih yang mencerminkan sifat tenang dan damai.

Di dalam ayat Alquran, elemen udara atau angin terdapat dalam Surat Shaad (38:72).  “Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.”

Sementara elemen air terdapat dalam Surat al-Furqan (25:54), “Dan Dia yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (mempunyai) keturunan dan mushaharah dan Tuhanmu adalah Maha Kuasa.”

Elemen api dalam diri manusia terdapat dalam Surat al-Baqarah (2:24), “Jika kami tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang ingkar.”

Adapun unsur Tanah pada diri manusia terdapat dalam surat as-Shaad (38:71), “(ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.”

Keempat elemen dalam diri manusia, jika tidak berada dalam keseimbangan, maka akan melahirkan malapetaka pada dirinya dan sekitarnya. Malapetaka muncul karena setiap ketidakseimbangan akan melahirkan sifat yang terlalu lemah atau apatis pada satu sisi, atau sebaliknya sifat yang terlalu berlebihan. Sifat lemah atau apatis, melahirkan manusia dengan sifat sinis, pesimis, mudah menyerah, ragu, khawatir, takut, cemas, plin plan, berbohong, dan banyak lagi sifat negative lainnya. Pada diri yang terlalu berlebihan ke empat unsur tadi, akan menghadirkan insan yang suka menguasai dan mengalahkan, suka merendahkan, sombong, ujub, takabur, pemarah dan lekat dengan kebutuhan dan urusan dunia.

Untuk itulah agama mengajarkan bersikap tengah (ummatan wasatho).

Dalam surat Al-Baqarah (2:143), “Dan demikian Kami telah menjadikan kamu “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas perbuatanmu, dan agar Rasul menjadi saksi atas perbuatan kamu. Pertanyaannya, siapakah umat yang tengah itu? Ternyata umat yang tengah itu adalah mukmin yang memberdayakan rohani nya pada jalan yang lurus. Rohani yang berdaya adalah sejatinya nikmat pada diri kita yang harus disyukuri, agar bertambah-tambah kesadaran dan kedekatan kita pada Allah SWT.(QS. 14:7).

Pada rohani kita terdapat dua sifat yang saling berlawanan dan sering bertukar peran, yaitu sifat ingkar (kafir) dan sifat mukmin (QS 64:2). Kedua jalan ini (fujur dan taqwa) (QS as Syams 8-10) akan selalu bertarung sepanjang hidup manusia, kadang berakhir menang, atau sebaliknya berakhir kalah. Ikhtiar untuk memenangkan sifat mukmin atau taqwa dalam diri manusia tidak akan pernah bisa dilakukan sendiri, tanpa pertolongan (taufik dan hidayah) Allah swt.

Untuk itulah kenapa rohani harus diurus Allah SWT, (QS al Isra ayat 85), “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, maka katakanlah “Ruh itu urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberikan ilmu hanya sedikit.”

Rohani yang memakai sifat kafirnya, akan memakai seluruh elemen yang bersifat negatif dalam niat, kata, dan perbuatannya. Inilah yang biasa disebut dengan penyakit hati. Penyakit hati ini yang membuat kita “dijauhi” oleh Tuhan, bukan karena Allah tidak mencintai kita, tapi karena penyakit hati ini yang menjadikan kita melupakan peran tuhan, bahkan kita seperti menjadi lebih hebat dari tuhan.

Untuk itulah rohani yang sakit karena menggunakan sifat ingkarnya, harus diurus Allah SWT, caranya kita harus memohon pertolongan ditunjukkan jalan yang lurus (QS 1:6) agar penyakit hati kita diangkat (QS al-Araf 43), “Dan kami mencabut penyakit hati dari dalam dada mereka, yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. “segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke tempat ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami.”

Jika penyakit hati ini mencengkeram rohani, maka tidak mungkin seorang hamba dapat berjumpa Tuhannya. Karena sifa-sifat ingkar adalah saat kita memakai pakaian hawa dan nafsu yang melambangkan pengingkaran kita pada Allah SWT karena sama saja dengan menyekutukan-Nya.

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada tuhannya.” (QS al-Kahfi: 110)

Menyekutukan Allah SWT akan menjauhkan kita pada-Nya karena telah memakai sifat-sifat ingkar, dengan lebih mengutamakan pakaian nafsu daripada pakaian taqwa. “Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, semoga mereka selalu ingat (QS al-Araf :27). Jika kita jauh dengan Allah SWT, maka seluruh rahmat-Nya akan menguap karena semakin jauh juga frekuensi kasih sayang Allah kepada kita.

Untuk itu senantiasa kita memohon petunjuk dan rahmat Allah swt, meskipun sungguh hidayah itu adalah hak prerogatif-Nya. “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat), dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya (QS al Kahfi:17).

Ikhtiar untuk mendapatkan hidayahnya Allah SWT adalah dengan sering-sering mengingat-Nya, baik saat berdiri, duduk, bahkan pada saat berbaring. (QS an Nisa 103), dan itulah sumber ketenangan sempurna dan kesadaran murni kita. Ketentraman hati hanya didapatkan melalui senantiasa ingat Allah swt, (QS 29:45). Semoga kita senantiasa mendapat bimbingan dan pentunjuk-Nya agar senantiasa menjadi umat yang tengah.**

*Penulis adalah Wakil Ketua PW Muhammadiyah Kalbar.

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!