Menkes Akui Stok Vaksin Terbatas

BAHAN VAKSIN: Prajurit TNI berjaga di samping kontainer yang membawa bahan baku vaksin Covid-19 Sinovac saat tiba di Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Selasa (27/7). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/aww.

JAKARTA – Laju vaksinasi tersendat. Penyebabnya, ketersediaan vaksin yang terbatas. Padahal, target sasaran vaksinasi malah bertambah.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengakui tidak bisa cepat melakukan imunisasi karena keterbatasan stok. Bulan ini sebenarnya Indonesia kedatangan 30 juta dosis bahan baku vaksin. Lalu, bulan depan ada 45 juta dosis bahan baku vaksin. Namun, kata Budi, dibutuhkan waktu untuk mengolah bahan baku menjadi vaksin siap suntik.

Untuk pendistribusiannya, pemerintah akan memberikan sesuai prioritas. Misalnya, diberikan kepada provinsi dengan kenaikan kasus cukup signifikan. Penyuntikannya pun dilakukan terhadap mereka yang berisiko mengalami perburukan kondisi saat terpapar. Misalnya, lansia.

Dirjen Pelayanan Kesehatan (Yankes) Kemenkes Abdul Kadir menambahkan bahwa target vaksinasi membengkak. Semula target vaksinasi Covid-19 ditetapkan 181,5 juta. “Dengan hitungan untuk masyarakat 18 tahun ke atas sampai usia 59 tahun,” katanya dalam peresmian Sentra Vaksinasi Sinergi Sehat yang digagas Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) kemarin (26/7).

Kemudian, muncul penelitian baru bahwa vaksin Covid-19 dapat diberikan untuk usia 12 tahun ke atas dan 60 tahun ke atas. ’’Karena (sasaran untuk, Red) herd immunity bertambah, jumlah sasaran meningkat. Hitungan (terbaru) 240 juta jiwa targetnya,’’ jelasnya.

Di sisi lain, terkait pemenuhan ketersediaan obat untuk penanganan Covid-19, selain impor, perusahaan farmasi tanah air akan menambah produksi agar tak ada lagi kelangkaan.

Menkes Budi Gunadi menjelaskan, sejak 1 Juni ada lonjakan permintaan obat untuk pasien Covid-19. Pemerintah bersama Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi membuka keran untuk penyediaan obat. Caranya dengan mengimpor obat, bahan baku, maupun memperbesar kapasitas produksi. ’’Namun, tetap dibutuhkan waktu empat sampai enam minggu agar dapat memenuhi kebutuhan obat yang meningkat,” tuturnya.

Menurut data Kemenkes, stok nasional antibiotik azithromycin sebanyak 11,4 juta. Dengan 20 pabrik obat lokal yang memproduksi, kebutuhan seharusnya dapat tercukupi. Namun, ada kendala dengan distribusi.

Lalu, untuk stok antivirus favipiravir ada 6 juta. Untuk meningkatkan jumlahnya, Kemenkes sudah mendapatkan komitmen produsen obat tanah air guna menambah produksi. Misalnya, PT Kimia Farma yang akan memaksimalkan produksi hingga 2 juta. Pada Agustus, pemerintah akan mengimpor 9,2 juta. Kemudian, ada perusahaan farmasi yang akan mengimpor 15 juta. Selain itu, ada pabrik baru yang akan beroperasi untuk memproduksi obat tersebut.

Rencananya, favipiravir menggantikan oseltamivir. Menurut Budi, organisasi kedokteran sudah menganjurkan untuk menghentikan penggunaannya. ’’Ada tiga obat lain yang belum bisa diproduksi dalam negeri,” katanya. Yakni, remdesivir, actemra, dan gamaraas.

Pemerintah telah mengimpor remdesivir 150 ribu tablet. Lalu, pada Agustus akan datang 1,2 juta remdesivir. Untuk actemra, pada Juli ini akan datang 1.000 vial dan Agustus 138.000 vial. ’’Gamaraas akan impor 25.000 pada Juli ini dan impor lagi 27.000 pada Agustus,” ungkapnya. Distribusi obat-obatan itu akan dilakukan GP Farmasi. Rencananya, seluruh obat didistribusikan di 12.000 apotek

RI Kedatangan 21,2 Juta Dosis Vaksin Sinovac

Sementara itu, Indonesia menerima kedatangan vaksin Covid-19 jenis Sinovac sebanyak 21,2 juta dosis dalam bentuk bahan baku, yang tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Selasa (27/7) siang.

“Pada siang ini kita menyaksikan kedatangan vaksin Covid-19 yaitu vaksin Sinovac sebanyak 21,2 juta dosis dalam bentuk bahan baku,” kata Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta.

Menko Airlangga menyatakan pemerintah masih akan berupaya mendatangkan vaksin melalui seluruh jalur yang ada guna memastikan ketersediaan stok vaksin untuk mencapai target sasaran vaksinasi.

Ia menegaskan pemerintah selalu memastikan keamanan atau safety, kualitas, dan khasiat, untuk seluruh jenis vaksin yang diperoleh. Vaksin yang disediakan di Indonesia telah melalui proses evaluasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta rekomendasi dari Indonesia and Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), WHO, dan para ahli.
“Warga, masyarakat tidak perlu ragu atau khawatir untuk menerima vaksin,” ujar Menko Airlangga.

Ia mengatakan Presiden Joko Widodo menekankan vaksinasi Covid-19 adalah game changer yaitu langkah krusial untuk menentukan kesuksesan Indonesia untuk keluar dari pandemi ini. Untuk mencapai kekebalan kelompok dibutuhkan sekitar 208 juta penduduk Indonesia yang perlu divaksin.

Jumlah tersebut meningkat setelah ditambahkan kelompok anak berusia 12 sampai 17 tahun yang sekarang sebanyak 718.000 anak telah mendapatkan vaksinasi dosis pertama. “Semakin cepat tentunya akan semakin baik,” ujar Menko Airlangga.

Ia melanjutkan setelah melakukan vaksinasi pada tenaga kesehatan, petugas publik, dan penduduk lanjut usia, saat ini pemerintah bekerja keras untuk menjangkau masyarakat umum dan rentan.

Per 26 Juli telah dilakukan vaksinasi sejumlah 64,13 juta dosis meliputi suntikan pertama terdiri dari 45,5 juta dosis dan suntikan kedua 18,6 juta dosis.

“Perlu ditekankan bahwa vaksinasi adalah strategi pemerintah untuk penanganan pandemi. Vaksinasi perlu didampingi oleh kedisiplinan masyarakat dan harus dilaksanakan secara bersama,” kata Menko Airlangga.

Ia memastikan pemerintah terus mendorong peningkatan kedisiplinan masyarakat melalui penerapan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.
Tak hanya itu pemerintah juga berkomitmen terus meningkatkan tracing serta mengambil kebijakan untuk memperpanjang PPKM hingga 2 Agustus 2021. (jp/ant)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!