Mentalitas Pendaki

Aswandi

Oleh: Aswandi

ATLET panjat tebing Indonesia asal Kalimantan Barat Veddriq Leonardo sukses menjuarai nomor speed pada Piala Dunia Panjat Tebing IFSC 2021 di Salt Lake City Amerika Serikat. Selain membawa pulang medali emas, Veddriq Leonardo juga memecahkan rekor dunia nomor speed. Semoga kesuksesan ini berlanjut di Olimpiade Paris yang akan datang dan kesuksesan dalam hidup dan kehidupannya di kemudian hari.

Kesuksesan dapat dirumuskan sebagai tingkat dimana seseorang bergerak ke depan dan ke atas, terus maju dalam menjalani hidupnya, kendati terdapat berbagai rintangan atau bentuk-bentuk kesengsaraan lainnya, dikutip dari Paul G. Stoltz (2000) dalam bukunya Adversity Quotient”.

Dalam kehidupan ini, ditemukan banyak orang pintar dan memiliki talenta atau bakat, namun tidak berhasil mencapai puncak kesuksesan, prestasinya dalam hidup dan kehidupan ini biasa-biasa saja sebagaimana prestasi yang dicapai oleh kebanyakan orang di sekitarnya. Sebaliknya, banyak pula mereka yang sukses dalam kehidupan ini dan tercatat menjadi pemenang, kemampuan intelektual dan akademiknya biasa-biasa saja (rendah), bahkan tidak memiliki bakat.

Fakta membuktikan, ditemukan kesuksesan berteman akrab dengan kesengsaraan, mereka mekar di jalan yang sukar. Demikian sebaliknya banyak pula mereka mengalami kegagalan karena sulit keluar dari banyak masalah yang dihadapinya.

Fakta-fakta tersebut di atas menjelaskan bahwa untuk mencapai kesuksesan tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan intelektual, bakat dan kemudahan dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, melainkan lebih ditentukan oleh mentalitas pendakian dan kecerdasan menghadapi kesulitan (adversity quotient).

Manusia dilahirkan dengan satu dorongan inti yang manusiawi untuk terus mendaki, yakni menggerakkan tujuan hidup ke depan, apapun tujuan itu.

Seandainya kita sama-sama memiliki dorongan inti yang manusiawi untuk mendaki, lantas mengapa kita tidak melihat puncak gunung penuh dijejali oleh mereka yang berhasil mencapai puncaknya, dan kaki gunungnya tidak dihuni oleh manusia? Mengapa justru sebaliknya yang terjadi?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita memeriksa orang yang kita jumpai sepanjang perjalanan pendakian gunung itu. Hasilnya kita temukan terdapat tiga jenis manusia pendaki gunung tersebut; (1) quitters, yakni orang yang berhenti, mereka menghentikan pendakian, mereka menolak kesempatan yang diberikan oleh gunung dan banyak hal yang ditawarkan oleh kehidupan untuknya; (2) campers, yakni orang yang berkemah, mereka mendaki tak seberapa jauh, sedikit saja rintangan, mereka berhenti dan mencari tempat datar yang nyaman untuk memasang tendanya, menghabiskan waktu untuk membakar apa saja yang bisa dibakar kemudian dimakan sambil duduk santai mendengarkan musik dan bermain gitar, setelah itu mereka turun dari gunung itu; dan (3) climbers, yakni orang yang seumur hidupnya membaktikan diri pada pendakian, selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan atau melalui berpikir alternatif.

Mentalitas pendaki (climbers) sangat berbeda dengan quitters dan campers.

Para pendaki (climber) bekerja dengan visi dan misi yang jelas bertekad untuk mendaki seumur hidup. Para pendaki selalu memikirkan segala kemungkinan atau alternatif, cendrung membuat sesuatu terwujud atau terjadi, membaktikan dirinya untuk selalu tumbuh, berkembang, dan belajar terus menerus, tidak senang berdalih, inspiratif, gigih, ulet, tabah, dan berdisiplin.  Sistem operasinya menggerakkan semangat yang tidak pernah surut dan membuat mereka selalu mampu menghadapi setiap kesulitan. Mereka suka tantangan, sesuatu untuk dibuktikan. Pendaki sangat menyadari dan menyakini bahwa “orang dapat berjalan melintasi gunung yang tertinggi dengan satu langkah demi satu langkah, dan baginya sebatang anak tangga bukanlah sebagai tempat istirahat sebelah kaki sipemanjat, tetapi sekedar tempat berpijak sejenak, cukup untuk meletakkan kaki sebelah pada tempat yang lebih tinggi.

Para pendaki sadar dan yakin bahwa ”peristiwa sulit berdampak atau berpengaruh besar terhadap otak manusia, karena kita memberikan tanggapan yang lebih kuat atau lebih serius pada peristiwa negatif ketimbang positif, terlebih lagi di masa awal kehidupan kita”, demikian Paul G. Stoltz (2003). Apakah kesulitan akan menjadi batu loncatan atau batu penghalang, tergantung bagaimana kita memandangnya. Dikatakan bahwa di tengah-tengah kesulitan tersebut terdapat peluang, serta tidak ada orang yang menghargai keberhasilan sebelum ia merasakan kesulitannya, orang yang selalu memberikan tanggapan paling efektif terhadap setiap kesulitan yang dihadapainya, maka ia akan berhasil dalam pekerjaan dan dalam hidupnya.

Orang bijak mengatakan, ”Jangan pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum Anda mencapai puncaknya. Karena Anda kemudian akan melihat betapa rendahnya gunung itu”, demikian Dag Hammarskjold.

Paul J. Meyer, yakni; “Sembilan puluh persen dari mereka yang gagal sebenarnya belum kalah. Mereka hanya menyerah saja”. Dan upah atas segala upaya kita hanya akan kita peroleh jika kita tidak menyerah, lagi pula manusia itu bukan kalah oleh lawannya, melainkan oleh dirinya sendiri”, demikian Napoleon Hill dan Jan Christiaan Smuts.

Mentalitas pendaki menyadari bahwa, ”Kehidupan bukanlah jalan yang lurus dan mudah dilalui dimana kita bisa bepergian bebas tanpa halangan, namun berupa jalan-jalan sempit yang menyesatkan, dimana kita harus melewati jalan tersesat dan membingungkan dan sekali lagi kita sampai pada jalan yang tak berujung. Namun jika kita punya keyakinan, pintu pasti akan dibukakan untuk kita, mungkin bukanlah pintu yang selalu kita inginkan, namun pintu yang akhirnya akan terbukti untuk kita”, demikian AJ. Cronin.

Dalam kehidupan ini banyak pintu menuju sukses, kalau satu pintu tertutup, lainnya terbuka, tetapi kita sering memandang terlalu lama dan terlalu penuh penyesalan kepada pintu yang tertutup itu, sehingga kita tidak melihat pintu yang terbuka bagi kita, demikian pesan optimisme Alexander Graham Bell.

Seorang pemimpin yang memiliki mentalitas pendaki memiliki pengaruh tidak terbatas (unlimeted power) atau tidak berhenti pengaruhinya sekalipun ia sudah tidak memiliki kekuasaan, misalnya ia seorang presiden, gubernur atau bupati, pengaruhnya selalu ada, bahkan pengaruhnya lebih besar setelah jabatan telah diserahkan kepada orang lain, contoh kasus adalah mantan presiden Jimmy Carter memiliki pengaruh lebih besar dari pada ketika ia menjadi pemimpin bangsa yang paling berkuasa di dunia (Amerika Serikat).

Mahatma Gandhi seorang pemimpin India juga demikian, dedikasinya tak pernah surut membela keadilan dan kebebasan, melawan kekerasan tanpa kekerasan menjadikannya pemimpin bagi seluruh bangsa di dunia. Dedikasinya pada mentalitas pendakian, belajar dan tumbuh secara terus menerus menginspirasi ke seantero dunia ini. (*)

Penulis, Dosen FKIP Untan

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!