Menuju Dua Tahun Kepemimpinan Midji-Norsan, Jalan Rusak Jadi PR  

RUSAK PARAH: Kondisi jalan di Kalbar banyak mengalami kerusakan. Bahkan, diperkirakan jalan mulus di provinsi ini hanya 56 persen, sisanya rusak parah. ISTIMEWA

PONTIANAK – Hampir dua tahun masa kepemimpinan Gubernur Sutarmidji dan Wakilnya Ria Norsan (Midji-Norsan), beberapa janji politik saat Pilkada 2018 telah berhasil direalisasikan. Namun yang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) salah satunya adalah mengenai infrastruktur jalan.

Soal infrastruktur jalan, Gubernur Kalbar Sutarmidji mengakui memang sebagian masih dalam kondisi rusak. Meski sudah mulai diperbaiki, namun Pemprov Kalbar lebih mengutamakan pembangunan jembatan-jembatan lebih dulu. Ketika jembatan sudah dalam kondisi baik, ke depan akan lebih mudah dalam perbaikan jalan yang ada. “Jadi setelah jembatannya bagus baru itu, baru perbaiki jalan-jalannya,” ungkapnya belum lama ini.

Orang nomor satu di Kalbar itu meminta maaf kepada masyarakat, karena secara umum mengenai infrastruktur kondisinya belum cukup baik. Namun ia memastikan akan berupaya semaksimal mungkin. Perbaikan akan terus berjalan dengan melihat skala prioritas.

Karena memang dari sisi keuangan daerah, dengan adanya pandemi Covid-19 membuat sebagian anggaran harus dipotong. Anggaran banyak dialihkan untuk penanganan Covid-19 di daerah ini. “Banyak anggaran diarahkan ke Covid-19 dan lain sebagainya. Masyarakat harus bersabar, tapi komitmen saya tetap akan menyelesaikan infrastruktur jalan yang tidak layak,” katanya.

Di lain sisi, selama hampir dua tahun ini sudah cukup banyak pula janji-janji politik yang sudah terlaksana. Seperti di antaranya, menggratiskan biaya pendidikan sekolah negeri untuk SMA/SMK. Untuk bidang pendidikan lainnya, Pemprov juga berupaya terus membangun gedung-gedung sekolah baru.

Midji, sapaan akrabnya, mengatakan, dengan adanya sistem zonasi sekolah, membuat pemerintah harus kembali memikirkan bagaimana membangun gedung sekolah baru di wilayah-wilayah yang memang membutuhkan. “Salah satunya adalah bagaimana membangun SMA-SMA kecil di suatu kecamatan, bisa cuma enam rombel, artinya masing-masing angkatan dua rombel saja, sehingga bisa menampung anak-anak di sekitar itu,” terangnya.

Kemudian dari sisi peningkatan status desa sesuai Indeks Desa Membangun (IDM) menurutnya sudah cukup berhasil. Tahun ini Kalbar telah memiliki sebanyak 214 desa mandiri. Padahal di awal masa jabatannya jumlah desa mandiri baru ada satu.

“Kabupaten/kota tertinggal yang waktu itu ada delapan sekarang sudah tidak ada. Kemudian desa sangat tertinggal awalnya ada 207 desa sekarang tinggal 12 desa. Desa mandiri dari satu menjadi 214. Nah desa maju awalnya cuma 51 sekarang sudah 332. Ini prestasi,” paparnya.

Termasuk komitmen di bidang kesehatan untuk membangun RSUD Soedarso sudah mulai dijalankan. Meski memang prosesnya masih terus berjalan dengan target tahun ini diharapkan gedung baru RSUD Soedarso sudah selesai dibangun. “Sudah dua kali tender (Soedarso) diulang, kami nyatakan sebagai gagal tender dan nanti akan kami tunjuk saja pelaksananya. Saya berharap tahun ini selesai, supaya bantuan peralatan (alkes) dari Kemenkes awal ini Rp80 miliar bisa kita dapatkan,” harapnya.

Untuk meningkatkan perekonomian daerah, Midji berharap pembangunan Pelabuhan Internasional Tanjungpura di Kabupaten Memapwah bisa cepat selesai. Ketika pelabuhan tersebut beroperasi maka akan berdampak besar terhadap perekonomian Kalbar.

Ia berharap beberapa perusahaan tambang yang harusnya sudah membangun smelter bisa segera merealisasikannya. Apalagi perusahaan-perusahaan tersebut sudah memiliki kuota ekspor. “Nanti saya berharap Antam atau Inalum cepat melakukan realisasi dari pabrik mereka. Kalau itu bisa, kemudian ada pelabuhan (Tanjungpura), maka Kabupaten Mempawah tidak kekurangan lapangan kerja lagi,” ucapnya.

Dengan aktivitas ekspor dari perusahaan tambang saja ia memperkirakan bisa menampung empat ribu sampai lima ribu tenaga kerja. Ia juga meminta sepanjang bisa dipenuhi tenaga kerja dari lokal Kalbar maka harus diprioritaskan.

Perkembangan bidang infrastruktur yang lain, ada pada realisasi pembangunan Jembatan Kapuas III. Midji berupaya agar tahun ini Pemprov sudah bisa melaksanakan pembebasan lahannya. Jika terlaksana, tahun depan pembangunan fisiknya sudah bisa dimulai oleh pemerintah pusat.

“Kementerian (PUPR) sudah harus mulai. Kalau Jembatan Sungai Sambas Besar yang kita janjikan, kan sudah disampaikan oleh presiden juga dan saya rasa ini harus sudah dilaksanakan oleh kementerian,” imbuhnya.

Intinya ia merasa sebagain janji-janji politik sudah terlaksana. Selebihnya sudah berproses dan tinggal menunggu penyelesaian. “Kalau saya katakan, sebagian besar janji politik saya sudah direalisasikan kecuali untuk hal-hal lain seperti rumah sakit, tapi kan sudah mulai, tinggal penyelesaian akhir saja,” tutupnya.

Melihat perkembangan pembangunan di Kalbar, Relawan Midji-Norsan saat Pilgub 2018 lalu, Subhan Noviar menilai sebagian janji-janji politik memang sudah mulai terwujud. Seperti pembangunan gedung RSUD Soedarso yang saat ini prosesnya masih berjalan. Sementara janji untuk menggratiskan sekolah tingkat SMA sederajat sudah diwujudkan.

“Bahkan pembangunan sekolah. Dengan sistem zonasi ini perlu banyak sekolah dibangun. Karena adanya zonasi ini banyak spot (wilayah) kosong, sehingga perlu dibangun,” katanya.

Soal infrastruktur jalan, Subhan melihat sampai sekarang memang masih banyak kekurangan. Terutama jalan-jalan provinsi maupun kabupaten kondisinya masih banyak yang rusak. Untuk menyelesaikannya menurut dia, perlu dukungan dari semua pihak. Harus ada sinergitas yang baik antara pemerintah provinsi hingga ke kabupaten/kota.

Sinergitas menurut Subhan penting diwujudkan termasuk untuk menyukseskan program-program lainnya. Sama halnya dalam mewujudkan program desa mandiri. “Misalnya gubernur fokus ke desa mandiri, maka harus seirama dengan kabupaten. Kalau tidak seirama percepatan itu akan susah diwujudakan. Kalau satu ke kanan, satu ke kiri kan susah,” katanya.

Subhan mengatakan program perwujudan desa mandiri di Kalbar sudah cukup sukses. Dalam dua tahun terjadi lompatan yang luar biasa. Dari yang awalnya hanya ada satu desa mandiri, kini Kalbar sudah memiliki 214 desa mandiri. “Hanya kami minta ke relawan di masing-masing daerah ikut mengawal program desa mandiri ini,” ucapnya.

Pada prinsipnya para relawan yang jumlahnya mencapai ribuan se-Kalbar, akan terus mengawal pemerintahan Midji-Norsan. Subhan bersyukur selama dua tahun berjalan pasangan ini tetap kompak. Apalagi sudah terbukti ada perkembangan yang positif terhadap Kalbar. (bar)

 

loading...