Menyiapkan Biaya Pendidikan Anak

Setiap orang tua pasti memimpikan anak-anaknya memiliki masa depan yang baik. Pendidikan merupakan salah satu cara dalam mewujudkan mimpi tersebut. Karenanya, penting untuk mempersiapkan pendidikan anak, tak terkecuali soal biaya.

Oleh : Siti Sulbiyah

Tidak ada bekal lain yang lebih berharga selain membekali anak-anak dengan sejumlah pengetahuan, yang disertai kemampuan analisis dan keahlian. Melalui pendidikan, anak-anak mendapatkan sejumlah pengetahuan dan keahlian untuk mendukung dunia kerjanya nanti. Investasi dalam bidang pendidikan merupakan hal mutlak yang harus diberikan kepada anak-anak, dan itulah salah satu tanggung jawab sebagai orang tua.

“Masa depan penuh dengan ketidakpastian, kita tidak tahu persaingan seperti apa yang akan terjadi di dunia kerja 20 hingga 30 tahun mendatang. Masa itu merupakan saat bagi anak-anak kita memasuki dunia kerjanya, yang akan dipenuhi berbagai kompleksitas dan persaingan usaha,” kata Dr. Wendy, M.Sc., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Tanjungpura.

Menurutnya, jika saat ini pendidikan tidak dipersiapkan dengan baik, maka 20 tahun lagi kemungkinan anak-anak akan kesulitan menghadapi tuntutan dunia kerja dan memenangkan persaingan usaha. Perencanaan biaya pendidikan menjadi hal penting, mengingat pendidikan membutuhkan proses yang panjang, bahkan bisa lebih dari 15 tahun jika dihitung dari TK sampai Sarjana.

“Biaya pendidikan yang semakin mahal membutuhkan kalkulasi yang baik bagi orang tua agar anak-anaknya dapat menikmati dunia pendidikan dengan laik,” tutur Wendy.

Dia menilai persiapan biaya pendidikan perlu dipikirkan sedini mungkin, bahkan sejak anak masih balita. Apalagi jenjang pendidikan yang semakin tinggi umumnya membutuhkan biaya pendidikan yang semakin mahal. Di samping itu, saat ini belum ada regulasi yang mengatur tarif pendidikan secara detil, misalnya mengenai uang masuk, SPP, uang buku, dan biaya lainnya yang ditetapkan secara mandiri oleh Yayasan Sekolah. Kondisi ini biasanya terjadi pada sekolah-sekolah swasta.

Persiapan pendidikan anak boleh dibilang mirip dengan perencanaan investasi jangka panjang. Ada banyak hal dan skenario yang perlu dikalkulasi, mulai dari faktor di mana tempat atau lokasi bersekolah (untuk jenjang TK sampai SMP), jurusan dan keahlian untuk pilihan di jenjang SMA/MA atau SMK, hingga program studi dan konsentrasi keilmuan di jenjang Akademi, Sekolah Tinggi atau Universitas. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap biaya pendidikan yang harus dipersiapkan.

“Dengan demikian, lokasi/daerah, institusi pendidikan, dan jenis konsentrasi atau jurusan menjadi faktor utama yang akan membuat biaya pendidikan berbeda-beda,” jelas Wendy.

Lantas dengan cara apa menyiapkan biaya pendidikan tersebut? Bagi orang tua yang ingin menggunakan konsep hitung-hitungan tentang kebutuhan biaya pendidikan anak, perlu merencanakan pilihan sekolah untuk kan anak. Sebab, orangtua perlu mengetahui besaran biaya saat ini yang kemudian diproyeksikan ke depan seiring usia anak.

Sebagai contoh kasusnya, semisal  sekolah swasta A, dengan SPP saat ini sekitar Rp300 ribu perbulan di tingkat SD, dan anak baru tahun depan masuk kelas satu SD. Maka dengan menarik rata-rata kenaikan SPP sekitar 15 persen pertahun, kebutuhan biaya pendidikannya selama di SD dapat dihitung sebagai berikut.

Tahun depan, SPP perbulan untuk kelas satu SD akan naik menjadi Rp345.000 perbulan (atau Rp4,1 jutaan setahun), kelas dua menjadi Rp390-an ribu perbulan (atau Rp4,7 jutaan per tahun), kelas tiga menjadi  Rp456-an ribu per bulan (atau Rp5,4 jutaan per tahun), kelas empat menjadi Rp524-an ribu per bulan (atau Rp6,2 jutaan per tahun), kelas lima menjadi Rp603-an ribu per bulan (atau Rp7,2 jutaan per tahun), dan kelas enam menjadi Rp693-an ribu per bulan (atau Rp8,3 jutaan per tahun). Apabila diakumulasikan, maka total SPP selama 6 tahun di SD sekitar Rp36.240.477.

Angka tersebut masih harus ditambah dengan uang pendaftaran, uang buku, uang seragam, uang ujian/kelulusan (jika ada), dan biaya lain yang dibebankan Yayasan Sekolah (jika ada). Artinya, setidaknya dibutuhkan sekitar Rp40an juta untuk menamatkan anak di jenjang SD pada Sekolah Swasta A tersebut.

“Setelah bapak ibu memiliki estimasi seperti ini, langkah selanjutnya adalah memeriksa kesiapan dana atau rencana investasi untuk mencukupkan kebutuhan dana tersebut,” ungkap dia.

Menurutnya, ada beberapa instrumen yang kerap dipakai dalam konsep keuangan, seperti tabungan dan deposito, obligasi, emas (logam mulia), reksadana, saham, hingga asuransi pendidikan. Paling sederhana adalah dengan tabungan, deposito atau logam mulia

Sedangkan instrumen lain membutuhkan pemahaman dan literasi yang lebih tinggi, bahkan ada yang memiliki risiko cukup besar seperti saham dan reksadana.

“Anggaplah bapak-ibu memilih bunga deposito sebagai perencanaan biaya pendidikan ini. Dengan asumsi mendapatkan bunga bersih 6 persen pertahun, maka setidaknya bapak-ibu harus memiliki saldo tetap deposito sekitar Rp70 juta untuk awal tahun ke-1, Rp80 juta untuk awal tahun ke-2, Rp92 juta untuk awal tahun ke-3, Rp105 juta untuk awal tahun ke-4, Rp121 juta untuk awal tahun ke-5, dan Rp140 juta untuk awal tahun ke-6,” jelas dia.

Pembiayan seperti ini juga dapat dilakukan melalui instrumen lain yang memberikan bunga tetap, seperti obligasi, tetapi tidak semua orang memahami transaksi obligasi. Hal yang lebih mudah adalah mengonversi uang tabungan ke dalam logam mulia. Agaknya ini cukup menguntungkan, mengingat menurut  data dunia menunjukkan logam mulia memiliki stabilitas nilai yang baik dan harganya terus naik dalam 10 tahun terakhir sehingga meminimalisir pengecilan nilai uang.

Namun, cara-cara yang disebutkan tersebut hanya dapat dilakukan oleh orang tua dengan cadangan uang ‘nganggur’ yang cukup besar sehingga dapat disimpan dalam kurun waktu yang lama tanpa perlu diambil. Cara ini tentu tidak cocok bagi orang tua yang tidak memiliki uang nganggur sebanyak itu. Bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan seperti itu, maka dapat dipenuhi dengan menyisihkan tabungan untuk kebutuhan SPP sekitar tiga bulan ke depan.

Dengan konsep ini, setidaknya orang tua harus menyisihkan penghasilan yang diterimanya dalam satu pos khusus untuk pembayaran SPP, dan saldo dalam pos ini diupayakan diisi setiap bulan dari penghasilan bulanan yang disisihkannya. Usahakan saldo dalam pos tersebut selalu berada pada kisaran kebutuhan tiga bulanan SPP.

“Mengambil kasus sekolah swasta A sebelumnya, maka saldo minimal pos SPP setidaknya selalu berada pada kisaran Rp 1 juta selama tahun pertama, dan dinaikkan 15 persen pertahun untuk mengantisipasi kenaikan SPP,” jelas dia.

Angka tiga bulan dipilih karena dalam perencanaan keuangan bisa saja terjadi keadaan darurat yang membuat orang tua kehilangan pekerjaan atau berkurang penghasilannya. Dalam kurun waktu tiga bulan, diharapkan orang tua sudah bisa mendapatkan pekerjaan baru atau tambahan penghasilan lain sehingga selama masa darurat tersebut SPP anak dapat terus dibayar.**

loading...