Menyusuri Sejarah Seabad Penerbitan Pers di Kalbar

pontianak post
TEMPO DOELOE: Salah satu terbitan koran Harian Akcaya di masa lalu. DOKUMEN PONTIANAK POST

Gelar Seminar hingga Ziarah ke Makam Tokoh Wartawan

Sejak akhir tahun 1919, di Pontianak sudah terbit sebuah koran yang bernama Borneo Barat Bergerak. Jika dihitung-hitung, sudah hampir 100 tahun yang lalu. Setelah zaman itu, pers di Kalbar terus tumbuh dan berkembang.
—-
ATAS inisiatif PWI Kalbar dan Dewan Harian Daerah (DHD) 45 Kalbar, dibentuk panitia yang diketuai Dr Hendry Jurnawan dan Sekretarisnya Tengku Badaruddin untuk memperingati seabad penerbitan pers di Kalbar. Ada sejumlah kegiatan yang digelar. Pada 1 Oktober 2019, diadakan seminar dan pada Jumat 27 September 2019 dilaksanakan ziarah ke makam tokoh pers Kalbar, H. Ibrahim Saleh. Selain itu, dilaksanakan juga anjangsana ke perjuang kemerdekaan RI dan tokoh pers Kalbar, serta sejumlah kegiatan sosial lainnya.

Menurut keterangan Syafaruddin Oesman, dosen dan peneliti sejarah Kalbar, Ketua DHD 45 Kalbar, H Ibrahim Saleh, putra daerah asli Kalbar adalah pendiri PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Kalbar yang pertama didirikan pada 17 September 1956 sekaligus sebagai ketua pertama. Sukirdi Hartopartono sebagai sekretarisnya dan wakil Bendahara Ya’ Umar Yasin, kebetulan mempunyai mesin cetak “Fin Ming Krij” yang juga mengusahakan kursus Mengetik “Neraca”.

Dialah yang mendengarkan radio pada 15 September 1945 tentang Proklamasi Republik Indonesia maka pada 16 September 1945 di Sanggau diadakan upacara pengibaran sang merah putih. Pemimpin saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya waktu itu adalah seorang guru, yaitu ibunda Gusti Yusri SH, raja Tayan yang juga sebagai Ketua PWI Kalbar sekarang.

Pada 2 Oktober 1956, muncul SPS (Serikat Penerbit Surat kabar) yang didirikan oleh Ali Aswat Saleh merangkap ketua pertama. Selain itu, berdiri juga IKWI (Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia) pada 15 Oktober 1956, yang diketuai Hajijah, putri Gubernur Kalbar pertama, Raden Asikin Judadibrata.

Penerbitan saat itu masih tidak berani terang-terangan menyampaikan tentang kegiatan perjuangan kemerdekaan. Isinya lebih banyak memuat kabar dan berita tentang memajukan bahasa Melayu serta memperkenalkan budaya dan kesenian lokal. Kecuali setelah peristiwa Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928. Sedikit demi sedikit isi berita mulai agak berani memuat kegiatan perjuangan kemerdekaan RI. Semua potensi jiwa raga rakyat pun terpacu dan lebih bersemangat untuk ikut berjuang. Itulah manfaat dan fungsi kehadiran koran saat itu.

Dua tahun setelah Kemerdekaan RI, tepatnya di pertengahan tahun 1947, muncul satu koran Mandarin, bernama Harian Li Ming Poa. Terdapat dua tokoh saat itu yakni Tio Weng Seng dan Ng Su Hau yang memainkan peranan sangat penting. Kemudian pada tahun 50-an muncul koran kedua Harian Seng Pou. Akhirnya kedua koran berhenti terbit sekitar akhir tahun 50-an.

Sungguh tidak mudah saat itu menerbitkan koran. Semua serba manual. Untuk menyusun tata letak (lay out), perlu tenaga dalam menyusun huruf timah satu per satu. Jika ada space kosong, harus disisipi keping timah. Kemudian yang sudah disusun itu diantar menggunakan becak ke tempat percetakan dengan ekstra hati-hati. Jangan sampai oleng atau jatuh, karena semuanya akan hancur berantakan sehingga harus disusun kembali.

Saat itu hanya sedikit koran yang memuat foto. Sampai dengan tahun 70-an, jika ingin memuat foto, penerbit harus mengirim ke Jakarta untuk membuat plat. Perjalanan bolak-balik Pontianak-Jakarta harus menelan waktu hampir seminggu. Tidak seperti sekarang yang hanya sekejap gambar bisa diambil dari internet. Tidak ada masalah jika mau mengambil foto peristiwa yang baru saja terjadi atau foto dokumentasi lama.

Sejak orde baru, muncul sejumlah koran, termasuk koran KAMI/KAPPI, koran mahasiswa pelajar. Sekitar awal tahun 70-an, ada Harian Akcaya, Harian Aneka Karya Post dan Mingguan Partisipasi. Ada pula beberapa koran lain yang terbit tetapi tidak berumur panjang.

Kini di abad 21, sejumlah koran masih berkibar antara lain Pontianak Post, Rakyat Kalbar, Tribun Pontianak, Suara Pemred, Berkat, Kapuas Post dan Kundian Ribao, dan terbitan lainnya. Kini dunia sudah banyak berubah. Koran cetak sudah disaingi media online. Akibat kemajuan teknologi, lewat HP saja sudah bisa baca berita. Tidak usah lewat televisi atau tunggu koran hari esok. Kenyataan di dunia banyak koran yang gulung tikar karena di mana-mana muncul koran online. Tapi kita percaya, satu abad koran cetak tetap eksis dan tidak tersaingi. (*)

Penulis adalah Penasihat PWI Kalbar

loading...