Meraih Lailatul Qadar

Syarif

Oleh: Syarif*

Ada satu momen pada bulan ramadhan yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh permukaan bumi ini. Bahkan mungkin lebih ditunggu dari pada bulan ramadhan itu sendiri. Momen itu disebut lailatul qadar. Maka lailatul qadar disebut moment yang sangat penting dan sakral di bulan Ramadhan. Semua kaum muslim yang berpuasa bahkan yang tidak berpuasa pun berharap dapat meraih pertemuan dengan lailatul qadar.

Harapan itu dipicu oleh keterangan ayat bahwa malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan. “Lailatul qadri khairun min alfi syahrin“. Ulama menafsirkan bahwa yang lebih baik daripada seribu bulan itu adalah nilai kebaikannya. Inilah yang dikejar oleh banyak orang. Teriring pula keterangan bahwa pada lailatul qadar itu dikabulkan semua hajat dalam doa. Tentang doa ini sepertinya yang banyak menyedot harapan banyak orang. Apalagi di era seperti sekarang ini di mana banyak persoalan hidup hampir melanda semua orang dan semua sektor kehidupan.

Lalu, benarkah hanya seperti itu tentang lailatul qadar? Dalam kitab Al Qur`ân keterangan terkait malam qadar adalah: “Qur`ân turun pada malam qadar; malam qadar lebih baik daripada seribu bulan; pada malam qadar para malaikat dan ruh (para auliya-anbiya) turun “ (Qs al-Qadar).

Sesungguhnya lailatul qadar itu tidak hanya tersangkut kebaikan atau pahala yang nilainya melebih seribu bulan. Tetapi terkait dengan turunnya  Qur`ân dan para malaikat serta ruhnya para auliyâ`-anbiyâ`. Turun ke mana? Pengalaman auliyâ`-anbiyâ` menuturkan bahwa turunnya di bumi bukan di permukaan bumi.

Beberapa pemaknaan tentang lailatul qadar dapat dipahami karena kita diberi kepahaman tentang hal-hal yang terkait lailatul qadar seperti di atas. Yaitu: lailatul qadar adalah malam mulia karena  Qur`ân yang mulia turun pada malam itu; lailatul qadar adalah malam yang penuh sesak karena para malaikat dan ruh para auliyâ`-anbiyâ` turun di bumi; lailatul qadar adalah malam ketetapan karena pada malam itu sang Subyek al-Qur`ân yaitu Qur`ân meminpin kongres yang dihadiri oleh para malaikat dan para ruh auliyâ`-anbiyâ` untuk menetapkan nasib dunia ini satu tahun ke depan. Itu sebabnya para auliyâ`-anbiyâ` itu tahu hal-hal yang akan terjadi, hanya saja mereka tidak buka cerita.

Jika  Qur`ân yang mulia turun pada lailatul qadar, yang menurut keterangan hadis itu terjadi pada malam-malam ganjil pada sepertiga terakhir bulan Ramadhan, yaitu di mana menurut keterangan Rasul SAW yaitu antara malam 25, 27, 29, bahkan ada yang lebih fokus lagi pada malam 27 Ramadhan, maka kalau begitu apa bedanya dengan yang turun pada tanggal 17 Ramadhan.

Di dalam buku “Wujud di Balik Teks” (Syarif:2018), kepahaman tentang  Qur`ân itu terurai seperti berikut, bahwa ada  Qur`ân yang subyek, ada al- Qur`ân yang berupa perkataan (qaulun) dan ada Kitab al- Qur`ân yang teks dalam tiga puluh juz, seratus empat belas surat, dan enam ribu enam ratus enam puluh enam ayat.  Qur`ân yang subyek ini diterangkan dalam Qs. al-aqarah/ 2:97, bahwa  Qur`ân itu adalah dalam hati Muhammad Saw, itu Kalâm yang qadîm  yang “lâ harfa walâ shaût – tidak huruf dan tidak suara”. Ialah Qur`ân yang Kalam Allah ini yang terhunjam langsung ke dalam hati Muhammad Saw.

Sebenarnya tidak ke dalam hati yang bersifat fisik yaitu liver pada tubuh kenabiannya, melainkan kepada wujud yang merasa pada hati atau liver itu, yang tak lain adalah Muhammad Saw itu sendiri, yang tak lain pula adalah  Dianya yang merupakan wujud Nûr Allâh.

Ketika  Qur`ân yang Subyek pada tubuh kenabiannya itu mengeluarkan perkataannya maka perkaataan itu disebut al-Qur`ân atau  Qur`ân yang subyek menyata dalam bentuk perkataan yang mulia (Qs. Alhâqqah/69:40, Attakwîr/81:19). Perkataan itu disebut qaûl yaitu bunyi dari melalui lisan kenabian yang telah berwujud dalam bentuk “harfun wa shautun – huruf dan suara”. Ketika qaûl yang nyata dan dapat didengar itu dicatat oleh para shahabat atas perintah Rasul Saw, maka hasil catatan yang dibukukan pada zaman Sayyidina Abu Bakar atas inisiasi Sayyidina Umar itu, disebutlah Kitâb al-Qur`ân seperti yang kita baca hari-hari saat ini.

Jadi yang turun pada tanggal 17 ramadhan yang diperingati tiap tahun “perayaan nuzulul quran” itu adalah al-Qur`ânsebagi Qaûl pertama yang disampaikan kepada Siti Khadijah sebagai titik urai pertama dari Kalâm Allâh yang dalam hati Muhammad Rasulullah Saw. Sedangkan  Qur`ân yang turun pada 25/27 Ramadhan itu adalah  Qur`ân yang Subyek yang melekat pada atau sebagai Shifat Allah ialah  Qur`ân yang Qadîm yang tak berjarak

Dia dengan Allah. Dia yang selalu dipuji-puji yakni Muhammad Rasulullah Saw. Yang Subyek inilah yang turun di bumi (bukan di permukaan bumi), memimpin kongres yang dihadiri dan disaksikan oleh para ruh auliyâ`-anbiyâ` untuk menetapkan urusan ummatnya dan sejagat raya satu tahun ke depan. Ini ushul mengapalailatul qadardinamalan Malam Ketetapan.

Jadi meraih lailatul qadar  itu tidak sekedar untuk meraih pahala yang banyak dan untuk dikabulkanhya doa-doa. Sesungguhhnya meraih perjumpaan dengan subyek al-Qur`ân itulah yang nilai kebaikannya lebih baik dari seribu bulan.  Sebab perjumpaan itu artinya sebagai momen diraihnya haqîqat dalam keheidupan ini. Meraih haqîqat meraih meraih tujuan hati, atau sama dengan meraih jalan lurus beragama. Beragama artinya berpendirian hati kepada Allah Swt. Terutama dalam persembahan atau sembahyang.

Orang yang telah meraih haqîqat itulah orang yang telah sampai kepada Tuhannya. Dengan begitu maka seluruh amal dalam hidupnya diterima di sisi Tuhannya. Inilah yang bandingannya lebih baik dari amal seribu bulan. Sebab walau pun beramal seribu bulan, jika haqîqat dalam beramal atau beibadah tidak dicapai, amalan yang seribu bulan itu menjadi sia-sia.

Perhatikan tuntunan ini “al-syarîátu bilâ haqîqatin ‘âthilatun wa al-haqîqatu bilâ syarîátin bâthilatun –syariat dengan tiada haqîqat sia-sia, dan haqîqat dengan tiada syariat batal”. Beginilah carakita memaknai lailatul qadar bahwa bukan malamnya itu yang bernilai seribu bulan. Tetapi perolehan haqîqat pada lailatul qadar itulah yang menyebabkan lebih baik nilainya dari sebu bulan.

Oleh sebab itu, bagi yang berhajat untuk meraih nilai “lebih baik dari sebu bulan” itu harus memahami instrument utamanaya. Yaitu harus memahami siapa subyek yang turun pada lailatul qadar itu. Kemudian harus juga dicari kefahaman bagaimana me-riyâdhah-kan perjumpaan itu dalam kehidupan sehari-hari sebelum datangnya bulan Ramadhan, khususnya lailatul qadar di dalamnya.

Untuk itu harus dimulai dengan memahami wujud yang menjadi turunan subyek lailatul qadar itu sendiri, yang tak lain adalah ruh pada setiap tubuh manusia, yang tak lain pula adalah diri kita sendiri.

Setelah itu harus difahami dan diifálkan cara datang kepada haqîqat itu dalam peraktik ibadah keseharian. Singkatnya harus memahami dan meng-ifál-kan shalat dengan betul dan tepat, dalam arti tidak sekedar mengamalkan rukun  sembahyang yang tigabelas yang terdiri dari bacaan dan gerakan semata. Selamat berjuang meraih lailatu qadar. (*)

Penulis adalah Rektor IAIN Pontianak

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!