Merapi Keluarkan Awan Panas, Status Masih Level 2

WISATA MERAPI: Dalam foto yang diambil bulan lalu, wisatawan Jeep Lava Tour berfoto di atas jeep sebelum menerobos aliran kali kuning, Umbulharjo, Cangkringan. Saat ini, kegiatan pendakian Gunung Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan.ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA/JPG

JAKARTA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta melaporkan telah terjadi guguran awan panas dari puncak Gunung Merapi Rabu pagi (15/8) pukul 04.52 WIB.

Guguran awan panas meluncur hingga 950 meter ke arah hulu Sungai Gendol. Awan panas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm dan durasi ±95,80 detik.
Meski demikian, Gunung Merapi yang berada di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta ini masih berada pada status level II atau ‘Waspada’. Status yang sudah disandang sejak 21 Mei 2018.

Meskipun mengeluarkan guguran awan panas Kepala Balai PPTKG Yogyakarta Hanik Humaida menyatakan bahwa tidak ada peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Merapi sudah mengeluarkan guguran awan panas dengan interval yang bervariasi dalam 6 bulan terakhir. “Guguran awan panas sudah berlangsung sejak 29 Januari 2019” kata Hanik pada Jawa Pos kemarin (14/8)
Beberapa hari sebelumnya gunung dengan ketinggian 2.968 m dpl ini mengalami erupsi tidak menerus. BPPTKG mencatat melalui rekaman seismograf pada 10 Agustus 2019 terjadi 10 kali gempa guguran, 1 kali gempa hembusan, 1 kali gempa low frequency, 1 kali gempa Hybrid/fase banyak dan 2 kali gempa Tektonik Jauh.

Hingga Rabu pagi, PVMBG melaporkan visual Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut.  Asap kawah utama teramati dengan ketinggian maksimum 100 meter dari atas puncak berwarna putih dan intensitas tipis. CCTV yang dipasang menunjukkan Awan Panas Guguran dengan jarak luncur 950 m dan guguran lava dengan jarak luncur 350 – 700 meter ke hulu kali Gendol.

Melalui rekaman seismograf pada 13 Agustus 2019 tercatat 1 kali gempa awan panas guguran, 24 kali gempa guguran, 4 kali gempa low frekuensi, 2 kali gempa vulkanik dangkal, 1 kali gempa vulkanik dalam, 7 kali gempa hybrid/fase banyak, 2 kali gempa tektonik lokal serta 4 kali gempa tektonik jauh.
PVMBG menetapkan bahwa radius 3 km dari puncak harus dikosongkan dari aktivitas warga. Kegiatan pendakian Gunung Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana. Kewaspadaan juga harus ditingkatkan bagi masyarakat yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Merapi.
Plh. Kapusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengungkapkan, Kawasan Rawan Bencana (KRB) III merupakan kawasan yang sering terlanda awan panas, aliran lava, lontaran bom vulkanik.

Pada kawasan ini, siapa pun tidak direkomendasikan untuk membuat hunian tetap dan memanfaatkan wilayah untuk kepentingan komersial. “Otoritas setempat memiliki kewenangan untuk menindaklanjuti rekomendasi dari pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)-Badan Geologi,” jelasnya.(tau)

Read Previous

Menjaga Kelawasan Sekaligus Menambah Penghasilan

Read Next

Miller Masih Bersama Pramac Ducati

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *