Merasa Gagal karena Diabaikan

Kesibukan membuat orang tua tanpa sengaja terkesan mengabaikan buah hatinya. Padahal, anak tak hanya membutuhkan uang, tapi juga kasih sayang. Saat usia memasuki senja, mereka merasa gagal. Sebab, sang anak hanya memberi finansial sebagai bentuk perhatian.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Titiek begitu sedih menceritakan pengalamannya. Dia merasa gagal sebagai orang tua. Ibu dua orang anak yang berusia 55 tahun ini mengatakan buah hatinya terkesan cuek dan mengabaikan dirinya. Kedua anaknya sudah berkeluarga dan jarang mengunjunginya. Mereka hanya berkunjung saat Idulfitri dan Iduladha.

Pensiunan salah satu instansi pemerintahan ini menegaskan tak pernah meminta tolong dalam hal finansial. Sebab, uang pensiunnya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dia pun tak mau merepotkan anak-anaknya.

Menurut Titiek, sebagai orang yang sepuh, ada kalanya membutuhkan bantuan si buah hati.

“Mengirim kabar saja jarang. Keduanya seolah hilang seakan ditelan bumi dan hanya muncul sesekali,” curhatnya.

Psikolog Patricia Elfira Vinny, M.Psi mengatakan sikap abai yang dilakukan buah hati kepada orang tuanya dapat disebabkan oleh dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berkaitan dengan pengasuhan saat masa kanak-kanak. Sedangkan faktor eksternal disebabkan oleh kesibukan orang tua dalam menjalani aktivitas sehari-hari di luar rumah.

Meski sebagian besar masalah disebabkan oleh orang tua, Patricia tak membenarkan perilaku anak yang mengabaikan orang tua. Bahkan, Patricia menilai perilaku ini tergolong tak wajar dan tak pantas dilakukan.

“Karena bagaimana pun sikap orang tua di masa kecil anak, bukan menjadi patokan anak untuk membalas hal yang sama kepada orang tua disaat sudah dewasa,” kata Patricia.

Banyak yang beranggapan pengabaian anak kepada orang tuanya adalah bentuk hukuman karena tak mendapat cinta dan kasih sayang sedari kecil. Patricia tak menampik hal ini.

“Namun, bergantung kembali kepada pribadi masing-masing yang melakukan sikap abai tersebut. Dan, tentu saja antara orang yang satu dan lainnya memiliki alasan berbeda melakukan hal tersebut,” ungkap Patricia.

Psikolog di RSJ Daerah Sungai Bangkong Pontianak ini menyatakan sikap abai ini bisa saja memengaruhi perkembangan psikis, baik anak maupun orang tua yang merasakan sikap abai dari anaknya. Dia menyarankan anak memaafkan masa lalu yang pernah terjadi. Dan, tak terlalu menuruti (keinginan) diri untuk membalaskan emosi di masa lalu yang pernah ia terima.

“Belajar untuk tak menjadikan perlakuan orang tua di masa lalu sebagai syarat membalaskan emosi yang terpendam,” ujarnya.

Jika anak terlalu menuruti diri untuk membalaskan emosi di masa lalu, berdampak buruk bagi keduanya. Tak hanya memberi jarak hubungan antara anak dan orang tua. Orang tua akan merasa dirinya tak berharga. Keinginannya untuk hidup menjadi berkurang karena merasa tak mendapatkan perhatian dari buah hati yang dilahirkan dan dibesarkannya. **

Read Previous

Praveen Jordan Bisa Dicoret dari Skuad SEA Games

Read Next

Demi Pelayanan, Medan Berat Ditempuh 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *