Merawat Ritual Adat Warisan Leluhur Balala’

SEPI: Kawasan Kota Ngabang terlihat sepi saat digelarnya ritual Balala’, Maret lalu. Dokumen Pontianak Post 

Berharap Jubata Melindungi Manusia dari segala Penyakit dan Marabahaya

Balala’ di Landak usai digelar. Ritual itu bukan penanda usainya masa panen padi dan akan masuk ke masa tanam. Balala’ dimaksudkan untuk mengusir berbagai wabah penyakit seperti Covid-19. Masyarakat Kanayatn meyakini ritual yang sudah dilakukan secara turun-temurun ini ampuh.

Ramses L Tobing, Pontianak

TEMENGGONG Kota Ngabang, Badinarta menjelaskan Balala’ dilaksanakan setiap tahun antara Mei hingga Juli. Waktu tersebut bertepatan dengan puncaknya masa panen peladang dan akan memasuki masa tanam baru. Ada berbagai sesajen yang disiapkan untuk prosesi ini, sama seperti ritual adat Dayak lain.

Hal yang membedakan hanya cara pelaksanaannya. Pada Balala’ tahunan, sesajen diletakkan di atas perahu yang dibuat dari kulit sagu atau kayu lempung. Sesajiannya antara lain anak ayam, lilin dan bahan makanan lain. Kemudian ditambah ukiran manusia. Setelah itu baru dihanyutkan di sungai.

“Bebas di sungai mana saja. Catatannya tidak boleh pindah-pindah, jika di satu titik maka di situlah terus sesajian dihanyutkan,” tambah Badinarta. Begitu pun dengan doanya juga tak boleh berubah. Doa yang dipanjatkan yakni meminta perlindungan seluruh umat manusia tanpa sekat suku dan agama.

Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Landak Heri Saman mengatakan Balala’ adalah tradisi yang sudah dilakukan turun-temurun di masyarakat Dayak. Sebab dilaksanakan pun ada dua. Pertama sesudah panen padi atau Naik Dango. Masyarakat di desa menggelar ritual ini untuk menyucikan kembali desa pasca panen padi dan siap memasuki masa tanam baru.

Sebab kedua karena ada suatu peristiwa seperti wabah penyakit yang menjangkiti manusia maupun hewan peliharaan. Balala’ dimaksudkan meminta perlindungan kepada Tuhan.

Nilai yang terkandung di dalamnya adalah memohon ampunan agar terlindung dari wabah penyakit. “Dahulunya Puji Tuhan, begitu Balala’ usai digelar, situasi di kampung kembali kondusif,” sebut Heri.

Ia melanjutkan, hari dan tanggal pelaksanaan ditentukan berdasarkan kesepakatan  dan petuah tetua adat. Bisa satu hari penuh atau tiga hari penuh. Selama waktu itu, semua warga di satu daerah diminta tidak keluar rumah. Jika melanggar pantangan maka harus siap disanksi adat. Sanksi yang bersangkutan diminta membayar biaya ritual yang dilaksanakan. Dalam situasi tertentu terkadang Balala’ digelar ulang karena ada yang melanggar pantangan.

Heri melanjutkan ada petugas yang ditunjuk untuk mengawasi aktivitas masyarakat. Meski demikian, tetangga juga bisa melaporkan jika melihat ada masyarakat yang melanggar. Heri menambahkan, masyarakat Dayak percaya saat dimulainya Balala’, ada kekuatan dari Jubata (Tuhan) yang melindungi manusia.

Heri menambahkan, ada pengecualian yang juga diberikan saat Balala’. Untuk masyaraakt umum, aktivitas di luar rumah tak diperbolehkan tetapi untuk polisi dan tenaga medis diberi pengecualian. Begitu pula dengan masyarakat yang melintas. Mereka tetap boleh melintasi kampung atau kawasan yang menggelar Balala’ tapi tidak boleh singgah.

Jadi, selama di rumah masyarakat dianjurkan untuk rutin berdoa. Masyarakat Dayak meyakini, selama hari itu Tuhan membersihkan lingkungan tempat tinggal dari segala macam penyakit dan marabahaya. Perlindungan itu pun untuk seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Masyarakat Dayak di Landak menggelar Balala’ atau Bapantakng, pada Senin (23/3) lalu. Ketua DAD Kabupaten Landak Heri Saman mengatakan rencana menggelar ritual itu tidak hanya melibatkan pada tetua adat masyarakat Dayak di Landak.

Pihaknya juga menggelar rapat yang melibatkan kelompok  masyarakat lain, mulai dari Majelis Budaya Adat Melayu (MABM), Majelis Budaya Adat Tionghoa (MABT), Paguyuban Jawa hingga kelompok etnis lainnya. Rapat ini untuk menyampaikan bahwa ritual Balala’ akan digelar. “Jadi dikomunikasikan dulu sehingga tidak serta-merta dilaksanakan. Kami pun berharap kerja samanya untuk pelaksanaan Balala’,” terang Heri.

Heri menambahkan ia dan pengurus Dewan Adat Dayak Mempawah dan Kubu Raya sudah menggelar pertemuan Agustus 2020. Pertemuan itu juga dihadiri Dewan Adat Dayak Kalimantan Barat. Mereka membahas kemungkinan diagendakan Balala’ setelah Naik Dango tahun depan.

“Itu mulai tahun 2021. Kalau bisa dilakukan serentak sehingga bisa diketahui lebih awal,” terangnya.  Menurut Heri, Balala’ adalah bentuk kearifan lokal masyarakat Dayak yang harus terus dijaga untuk generasi selanjutnya.

 

Menjaga Adat Warisan Leluhur

 

Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Landak, Gusti Muhardi mengatakan ritual Balala’ adalah bentuk keberagaman adat istiadat. Setiap kelompok masyarakat memiliki adat istiadat yang satu dan lainnya saling menghargai dan menghormati.

Menurutnya, ritual itu merupakan warisan adat budaya yang harus terus dipelihara. Perkembangan zaman kian pesat tidak membuat adat istiadat itu terlupakan. “Untuk menjaga maka perlu melestarikan adat itu. Kami tentu sangat mendukung pelaksanaannya,” ungkap Gusti.

Ia menilai pembatasan aktivitas atau pantangan dalam Balala’ itu merupakan hal yang baik dilakukan. Apalagi dilakukan pada saat yang bersamaan tengah terjadinya wabah pandemi Covid-19.  “Pembatasan aktivitas selama satu hari itu cukup efektif. Apalagi dilakukan di masa pandemi sehingga menjadi bagian untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19,” jelasnya.

Sejatinya, kata Gusti, dalam tradisi Melayu juga ada ritual untuk meminta perlindungan kepada Tuhan dari wabah penyakit dan berbahaya. Ia menyebutnya tolak bala. Hanya saja, cara pelaksanaannya yang berbeda. “Prosesi di Melayu itu tolak bala agar menjauhkan wabah,”  tambah Gusti.

Ketua Paguyuban Jawa Kalimantan Barat-Kabupaten Landak (PJKB-KL) Purbono Hadi mengatakan, setiap daerah memiliki kebiasaan atau adat istiadat yang mesti dan harus dihormati karena merupakan sebuah kearifan lokal di satu daerah.

Menurutnya, pada tradisi Jawa ada juga dikenal dengan nama ruwatan. Prosesi untuk meminta perlindungan dari agar dijauhkan dari malapetaka serta musibah. “Nama yang berbeda namun punya tujuan yang sama, yaitu berdoa bersama meminta perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa,” terang Purbono.

Menurutnya, yang terpenting dalam sebuah tradisi adalah harus saling menghormati. “Karena pada intinya Indonesia merupakan negara besar dengan beragam etnis, dan budaya. Itulah sebenarnya kekayaan Indonesia yang tidak dimiliki negara lain,” imbuhnya. (selesai)

loading...