Merawat Ritual Balala’, Cara Orang Kanayatn Melawan Wabah Penyakit 

BALALA': Ritual adat balala' digelar di Kabupaten Landak, pada Maret lalu untuk meminta perlindungan Tuhan di masa pandemi Covid-19.

MULUT Sudianus terlihat komat-kamit merapal doa saat ritual adat Balala’, akhir Maret 2020 lalu. Padanan katanya disebut Bapantakng. Saat itu, Sudi, begitu ia disapa, memimpin Balala’, ritual adat masyarakat Kanayatn, untuk meminta perlindungan Tuhan di masa pandemi Covid-19. 

Sudi duduk bersila di atas alas putih. Ia mengenakan kaos kerah bermotif garis-garis. Baju itu dibalut rompi dengan corak khas Dayak. Tak lupa ikat kepala juga dengan corak yang sama. Celananya panjang dan berwarna hitam.

Di depannya sudah terhampar sesajian untuk ritual. Ada beras putih, beras kuning (beras putih biasa yang diolesi minyak dan kunyit), beras pulut, telur, ayam, jarum, minyak tengkawang, hingga uang senilai 50 rupiah, sirih, pinang, kapur, hingga rokok daun.

Disiapkan juga piring putih. Kemudian ada talam dan tempayan, dalam bahasa Dayak disebut Tajo. Kemudian ada Tumpakng. Ini merupakan tempat kecil berbentuk kotak. Ada sesajian di dalamnya. Tumpakng dibuat dari daun kelapa muda.

Tak hanya mulut yang komat-kamit. Tangannya pun turun naik menandakan doa itu dibacanya penuh khidmat. Ia dikelilingi orang-orang yang menyaksikannya memimpin Balala’.

Senin, 23 Maret 2020, Sudianus bertindak sebagai Panyangahatn dalam ritual tersebut. Panyangahatn adalah imam yang menghubungkan doa manusia kepada Tuhan, atau dalam bahasa Dayak disebut Jubata.

Hampir setengah jam Sudi memimpin doa. Puncak doanya seekor ayam di sembelih untuk dijadikan persembahan.

Sebelas tahun sudah Sudi dipercaya sebagai Panyangahatn. Tak semua orang bisa menjadi Panyangahatn. Sudi mendapatkannya secara turun dari nenek moyang. Dengan kemampuan itu Sudi juga dipercaya bisa mengobati orang sakit.

Sudi mengaku pernah kerasukan selama dua tahun. Ia juga pernah menginap di hutan. Ada Paseban di sana. Orang Kanayatn mengartikan itu tempat untuk persembahan mencari padi. “Saya menemukan petunjuk sejak kecil untuk dititipkan amanah dan itu mengalir ke saya,” kata bapak tiga anak itu.

Balala’ itu digelar satu tahun sekali. Bagi masyarakat Kanayatn, salah satu suku Dayak di Kalimantan Barat, ini adalah tradisi turun temurun dari nenek moyang yang mesti dilakukan setiap tahun. Tradisi ini dilakukan meski masyarakat Kanayatn sudah memeluk agama.

Balala’ digelar saat musim tanam berakhir artinya memasuki panen dan akan tanam kembali. Meski demikian tidak serta merta langsung dilakukan.

Sebelum diputuskan kapan akan dimulai Balala’ terlebih dahulu dilakukan musyawarah yang melibatkan tetua masyarakat dayak di satu wilayah. Dalam bahasa Kanayatn pertemuan itu disebut Bahaupm.

Pertemuan ini dimaksudkan untuk menyampaikan ke masyarakat bahwa akan digelar Balala’. Sehingga kemudian perlu diambil kesepakatan waktu. Persiapan itu minimal satu minggu. Kurun waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan peraga: dari alat hingga bahan-bahan yang dibutuhkan untuk ritual. Saat semua siap maka ritual Balala’ pun digelar.

 

Doa untuk Seluruh Umat

Temenggong Kota Ngabang, Badinarta mengatakan Panyangahatn dua kali membaca doa saat ritual berjalan. Pertama doa dibaca saat bahan-bahan untuk sesajian masih mentah.

Doa yang dipanjatkan itu untuk memberitahukan ada persembahan yang disajikan. Termasuk meminta perlindungan dari segala macam penyakit. Doa ini berakhir ketika seekor ayam hidup disembelih.

Ayam itu kemudian dibersihkan dan dimasak. Saat itulah mulai doa kedua. Tak hanya ayam bahan-bahan makanan lain yang masuk menjadi sesajian sudah dimasak. Bahan makanan itu dipersembahkan untuk para leluhur. “Dimaksudkan membawa pulang makanan ini dan agar kami diberi kesehatan dan keselamatan,” kata pria berusia 63 tahun itu.

Doa yang dipanjatkan itu pun tak hanya untuk masyarakat dayak saja. Justru untuk seluruh komponen masyarakat di satu wilayah. Doa dengan harapan Tuhan melindungi manusia dari marabahaya dan penyakit.

Begitu prosesi ritual berakhir maka Balala’ pun dimulai. Sejumlah pantangan pun mesti ditaati. Pantangan itu berupa tidak boleh keluar sehari semalam. Tidak boleh mengambil daun masih hidup. Tidak boleh mondar mandir di halaman rumah. Tidak boleh teriak di halaman rumah. Bagi yang melintas diperbolehkan tapi tak boleh singgah.

Ritual ini umumnya dilakukan di desa-desa. Namun dalam eskalasi yang lebih besar Balala’ pernah digelar di pusat kota kabupaten. Menjelang akhir Maret 2020, masyarakat Kanayatn di Ngabang (Kabupaten Landak) menggelar Balala’.

Seperti diketahui diawal-awal Maret pandemi Covid-19 mulai merambah ke Kalimantan Barat. Covid-19 tak ubahnya penyakit yang mewabah di masyarakat. Dewan Adat Dayak Kabupaten Landak pun memutuskan menggelar Balala’, dalam bahasa lainnya disebut Bapantakng.

Balala’ sendiri adalah bentuk kearifan lokal yang membatasi aktivitas masyarakat. Saat Balala’, masyarakat lebih dominan berdiam diri di rumah sembari berdoa. Hal ini sejalan dengan anjuran pemerintah agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah selama pandemi berlangsung.

Ritual yang dilakukan itu untuk melindungi dari penyakit sampar atau wabah. Ritual ini sifatnya spontan. Ritual yang digelar ketika ada penyakit sampar atau wabah yang menyerang satu daerah. Berbeda dengan Balala’ tahunan. Ritual yang memang wajib digelar.

Saat resmi dimulai aktivitas masyarakat di pusat kota terhenti. Jalan-jalan di pusat kota pun sepi dari lalu lintas masyarakat. begitu juga dengan pertokoan. Dan ini berlangsung selam sehari semalam.

Ritual Tahunan Kanayatn

Balala’ di Landak usai digelar. Meski demikian ritual itu bukan penanda usainya masa panen padi dan akan masuk ke masa tanam. Balala’ justru digelar untuk mengusir penyakit sampar. Masyarakat Dayak meyakini ritual ini ampuh untuk mengusir penyakit. Apalagi ritual ini sudah dilakukan secara turun temurun.

Badinarta menjelaskan beda halnya jika dilakukan Balala’ tahunan. Waktu pelaksanaannya antara bulan Mei hingga Juli. Itu merupakan puncaknya masa tanam  peladang dan akan bersiap-siap memasuki masa tanam baru.

Bagaimana dengan sesajiannya? Ia menyebutkan tidak ada yang berbeda. Bedanya hanya cara pelaksanaannya saja. Pada Balala’ tahunan ini sesajen diletakkan di perahu yang dibuat dari kulit sagu. Meski demikian ada juga yang membuat dari kayu lempung.

Sesajian diletakkan di atasnya. Ada anak ayam, lilin dan bahan makanan lainnya. Kemudian ditambah ukiran manusia. Setelah itu baru dihanyutkan di sungai.

“Bebas di sungai mana saja. Catatannya tidak boleh pindah-pindah, jika di satu titik maka disitulah terus sesajian dihanyutkan,” tambah Badinarta.

Begitu pun dengan doanya tak berubah. Doa yang dipanjatkan meminta perlindungan seluruh umat manusia tanpa sekat suku dan agama.

Tradisi Turun Menurun

Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Landak Heri Saman mengatakan Balala’ adalah tradisi yang sudah dilakukan turun temurun di masyarakat Dayak.

Sebab dilaksanakan pun ada dua. Pertama sesudah panen padi atau naik dango. Masyarakat di desa menggelar ritual ini untuk menyucikan kembali desa paskapanen padi dan siap memasuki masa tanam baru.

Sebab kedua karena ada suatu peristiwa. Seperti wabah penyakit yang menjangkiti manusia maupun hewan peliharaan. Balala’ digelar dimaksudkan meminta perlindungan kepada Tuhan.

Nilai yang terkandung adalah memohon ampunan agar terlindung dari wabah penyakit. “Dahulunya Puji Tuhan, begitu Balala’ usai digelar, situasi di kampung kembali kondusif,” sebut Heri.

Heri melanjutkan hari dan tanggal pelaksanaan berdasarkan kesepakatan  dan petuah tetua adat. Bisa satu hari penuh atau tiga hari penuh.

Selama waktu itu semua warga di satu daerah diminta menaati untuk tidak keluar rumah. Jika melanggar pantangan itu maka harus siap disanksi adat. Sanksi yang bersangkutan diminta biaya ritual yang dilaksanakan. Dalam situasi tertentu terkadang Balala’ digelar ulang.

Heri melanjutkan ada petugas yang ditunjuk untuk mengawasi aktivitas masyarakat. Meski demikian tetangga juga bisa melaporkan jika melihat ada masyarakat yang melanggar.

Heri menambahkan masyarakat Dayak percaya saat dimulainya Balala’, ada kekuatan dari Jubata (Tuhan) melindungi manusia. Sehingga selama di rumah masyarakat dianjurkan untuk rutin berdoa. Masyarakat Dayak meyakini selama hari itu Tuhan membersihkan lingkungan tempat tinggal dari segala macam penyakit dan mara bahaya. Perlindungan itupun untuk seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Rapat Bersama Etnis Lain

Masyarakat Dayak di Landak menggelar Balala’. Dalam bahasa lainnya disebut Bapantang, pada Senin (23/3). Ketua DAD Kabupaten Landak Heri Saman mengatakan rencana menggelar ritual itu tidak hanya melibatkan pada tetua adat masyarakat Dayak di Landak.

Pihaknya juga menggelar rapat yang melibatkan kelompok  masyarakat lain. Mulai dari Majelis Budaya Adat Melayu (MABM), Majelis Budaya Adat Tionghoa (MABT), Paguyuban Jawa hingga kelompok etnis lainnya.

Rapat ini untuk menyampaikan bahwa akan digelarnya ritual Balala’. “Jadi Dikomunikasikan dulu sehingga tidak serta merta dilaksanakan. Kami pun berharap kerjasamanya untuk pelaksanaan Balala’,” terang Heri.

Heri menambahkan ada pengecualian lain yang juga diberikan saat Balala’. Jika aktivitas di luar rumah itu tak diperbolehkan maka untuk polisi dan tenaga medis diberi pengecualian.

Begitupun dengan masyarakat yang melintas. Mereka tetap boleh melintasi kampung atau kawasan yang menggelar Balala’ tapi tidak boleh singgah.

Heri menambahkan ia dan pengurus Dewan Adat Dayak Mempawah dan Kubu raya sudah menggelar pertemuan Agustus 2020. Pertemuan itu juga dihadiri Dewan Adat Dayak Kalimantan Barat.

“Kami membahas kemungkinan diagendakan Balala’ setelah naik dango. Itu mulai tahun 2021, kalau bisa dilakukan serentak sehingga bisa diketahui lebih awal,” terangnya.

Menurut Heri, Balala’ adalah bentuk kearifan lokal masyarakat Dayak yang harus terus dijaga untuk generasi selanjutnya.

Menjaga Adat Warisan Leluhur

Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Landak Gusti Muhardi mengatakan ritual Balala’ adalah bentuk keberagaman adat istiadat. Setiap kelompok masyarakat memiliki adat istiadat yang satu dan lainnya saling menghargai dan menghormati.

Menurutnya ritual itu merupakan warisan adat budaya yang harus terus dipelihara. Perkembangan zaman kian pesat tidak membuat adat istiadat itu terlupakan.

“Untuk menjaga maka perlu melestarikan adat itu. Kami tentu sangat mendukung pelaksanaannya,” ungkap Gusti.

Gusti menilai pembatasan aktivitas itu merupakan hal yang baik dilakukan. Apalagi dilakukan pada saat yang bersamaan tengah terjadinya wabah pandemi Covid-19.  “Pembatasan aktivitas itu selama satu hari itu cukup efektif. Apalagi itu dilakukan di masa pandemi sehingga menjadi bagian untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19,” jelas Gusti.

Sejatinya kata Gusti dalam tradisi Melayu juga ada ritual untuk meminta perlindungan kepada Tuhan dari wabah penyakit dan berbahaya.

Ia menyebutnya tolak bala. Hanya saja cara melaksanakan yang berbeda. “Prosesi di Melayu itu tolak bala agar menjauhkan wabah,”  tambah Gusti.

Ketua Paguyuban Jawa Kalimantan Barat-Kabupaten Landak (PJKB-KL) Purbono Hadi mengatakan, setiap daerah memiliki kebiasaan atau adat istiadat yang mesti dan harus dihormati karena merupakan sebuah kearifan lokal di satu daerah.

Menurutnya pada tradisi Jawa ada juga dikenal dengan nama ruwatan. Prosesi untuk meminta perlindungan dari agar dijauhkan dari malapetaka serta musibah. “Nama yang berbeda namun punya tujuan yang sama, yaitu berdoa bersama meminta perlindungan dari Tuhan yang mahakuasa,” terang Purbono.

Menurutnya yang terpenting dalam sebuah tradisi harus saling menghormati. “Karena pada intinya Indonesia merupakan negara besar dengan beragam etnis, dan budaya. Itulah sebenarnya kekayaan Indonesia yang tidak dimiliki negara lain,” imbuhnya. (mse)

 

loading...