Mesin Dompeng Hidupi Keluarga

DOMPENG: Para penambang emas menggunakan mesin dompeng saat melakukan aktivitasnya di lahan bekas penambangan emas di Desa Mandor. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Kisah Penambang Emas Mandor

Tak dapat dipungkiri, pertambangan emas memiliki dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat, khususnya Mandor. Usaha ini menjadi salah satu penyangga perekonomian warga. Wartawan Pontianak Post, Arief Nugroho datang langsung ke lokasi untuk merekam keseharian para penambang emas tersebut.

—-

PERTAMBANGAN emas di Mandor memang sudah dikenal sejak zaman kolonial Belanda. Masyarakat lokal mendongkrak ekonomi keluarga dengan mendulang butiran emas. Di samping bernilai intrinsik dan ekonomis, emas juga menjunjung martabat seseorang. Emas mencerminkan simbol status sosial yang terpandang.

Teknik pendulangan emas kemudian berubah sejak kedatangan para penambang emas dari Cina Selatan. Mula-mula mereka menggunakan sejumlah sarana sederhana berupa mesin-mesin kecil.

Sekarang, sejarah dua setengah abad yang lampau terulang kembali. Hanya saja, keadaan penambangan sudah berbeda. Penambang lokal sudah menggunakan mesin dompeng. Proses pencarian bijih emas pun lebih mudah dan mencakup Kawasan yang lebih luas. Satu di antaranya adalah Usu, warga Dusun Mandor, Desa Mandor.

Pontianak Post berkesempatan mengunjungi lahan lokasi penambangan emas miliknya. Di lahan seluas setengah hektar itu, Usu mengoperasikan mesin dompengnya. Ia dibantu oleh lima orang anak buah.

“Lahan ini milik pribadi. Dulunya bekas tambang juga,” ujar Usu kepada Pontianak Post.

Dilihat dari kondisinya, lokasi yang sedang digarapnya itu memang bekas lahan pertambangan emas yang sudah lama ditinggalkan. Hamparan pasir putih dan kubangan kolam bekas galian terlihat jelas di sana. Menganga. Sebagian sudah tertutup semak belukar.

Sementara mesin dompeng milik Usu berada di balik semak belukar itu.

Tidak gampang untuk mencapainya. Dari luar seperti tidak ada aktivitas apa-apa. Hanya suara mesin diesel menderu di balik rimbunan belukar dan perkebunan karet milik masyarakat. Bersahutan satu sama lain.

“Hari ini kami baru memindahkan mesin. Sebelumnya di sana,” kata Usu, sambil menunjuk arah.

Sebagai pemilik mesin dompeng, Usu bertugas memantau anak buahnya. Sesekali ia membantu mengoprasikan mesin. Sedangkan lima orang anak buahnya terlihat sibuk melakukan tugas masing-masing. Kebetulan, hari itu mereka sedang melakukan pengeboran untuk memasukan paralon ke dalam tanah.

Paralon itu berfungsi untuk mengalirkan material dari dalam tanah yang kemudian ditampung ke bak penampungan. Bak penampungan terdiri dari dua susun. Susunan pertama untuk menampung material yang tersedot oleh mesin, sedangkan susunan kedua untuk pembuangan.

Hari pun mulai gelap. Usu dan anak buahnya mulai berkemas. Bijih-bijih emas yang terkumpul kemudian disatukan melalui proses pembekuan. Tentunya menggunakan proses pemanasan dan air raksa.

Hari itu adalah hari yang sedikit menggembirakan bagi mereka. Seberat 1,7 gram emas bisa dibawanya pulang. Satu gram emas dihargai Rp650.000. Artinya, hari itu mereka bisa membawa pulang uang lebih dari satu juta rupiah.

Malamnya, mereka berkumpul di rumah Usu. Siap merima pembagian hasil penambangan hari itu. Masing-masing orang mendapat jatah Rp135.000. Sementara sisanya dipegang oleh pemilik dompeng.

“Ini hasilnya. Tidak banyak. Setidaknya ini yang terbesar selama sebulan terakhir,” kata Usu.

“Biasnya mereka hanya mendapat bagian antara Rp.60.000-Rp70.000,” sambungnya.

Usu memang baru sebulan ini menggarap lokasinya itu, setelah “diusir” oleh petugas kehutanan dalam operasi gabungan di Kawasan Konservasi Cagar Alam Mandor.

Sebelumnya, ia merupakan penambang emas di kawasan terlarang itu. Semenjak adanya operasi, ia bersama penambang lain memutuskan untuk pindah ke lokasi lain. Beberapa rekan sejawatnya mencari lokasi baru di wilayah atau kabupaten lain, sebagian lagi memilih menetap di Mandor.

Diakui Usu, emas yang diperoleh di lokasi barunya memang tidak sebesar saat menambang di kawasan cagar alam. Dalam sehari, penambang bisa membawa pulang antara tiga sampai lima gram. Bahkan lebih.

“Kalau di lokasi lama (Cagar Alam), minimal 3-5 gram bisa kami dapat. Tapi setelah pindah lokasi, agak susah,” terangnya.

Yang terpenting baginya, menambang emas bukan sekadar untuk pemenuhan kebutuhan hidup keluarga sendirinya. Tetapi membantu keluarga orang lain. Menurutnya, dengan satu mesin dompeng yang ia miliki, setidaknya ada lima keluarga yang bisa dihidupinya.

“Satu dompeng ini ada lima keluarga yang bisa dihidupi. Mereka semuanya sudah berkeluarga. Kalau mereka tidak bekerja, kasian anak istrinya,” katanya.

Usu dan lima anak buahnya bukan lah satu-satunya penambang emas yang hingga kini masih aktif. Di dusunya, hampir 100 persen masyarakat mengantungkan hidup dari pertambangan emas.

“Di kampung ini ada 92 KK dengan jumlah populasi lebih dari 300 jiwa. Hampir semuanya adalah penambang,” katanya.

Sejak pertambangan emas di Kawasan Cagar Alam ditutup, tidak sedikit dari mereka yang terpaksa harus menganggur. Bahkan, mereka harus mengutang di koperasi untuk keperluan hidup sehari-hari.

“Mereka banyak yang mengganggur. Bahkan sudah ada yang pinjam di koperasi. Pekerjaan tidak ada, sementara hidup harus terus berjalan,” paparnya.

Ia berharap, ada solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. Selain menambang emas, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh masyarakat.

“Kami di sini rata-rata tidak memiliki lahan atau kebun yang bisa digarap. Kalau pun ada, karet. Itupun harganya sedang anjlok. Apa lagi musim pandemic seperti ini,” terangnya.

Kepala Desa Mandor Robertus Haryanto mengakui, tidak sedikit warganya yang hingga kini masih mengantungkan hidupnya dari penambangan emas itu. Menurutnya, penambangan emas tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi juga sebagai salah satu penopang perekonomian masyarakatnya. Terlebih di saat harga komoditas perkebunan rendah.

“Hampir 80 persen masyarakat di sini masih bergantung dengan tambang emas,” kata Robertus kepada Pontianak Post.

Keberadaan pertambangan emas di Mandor, kata Robertus, sudah ada sejak dulu kala. Menurutnya, masyarakat sekarang sebenarnya hanya mencari sisa-sisanya saja. Karena dari awal Mandor sudah ada pertambangan emas.

Seperti halnya lokasi penambangan emas di Kawasan Cagar Alam. Di lokasi itu, penambang emas hanya mencari sisa-sisa peninggalan penambang sebelumnya. Menurutnya, aktivitas penambangan emas di kawasan konservasi itu sudah ada sejak tahun 1990 an. Mulai dari pertambangan skala kecil hingga besar.

Menurut Robertus, penambangan emas di mandor secara tidak langsung dapat memerangi kemiskinan dan mendongkrak kesejahteraan sosial. Setiap penambang emas memperoleh penghasilan harian. Kebutuhan hidup harian terpenuhi.

“Secara otomatis ini menghidupkan pasar. Menghidupkan roda ekonomi di Mandor,” katanya.

Kendati demikian, kata Robertus, dampak lingkungan yang timbulkan akibat pertambangan emas tak terelakkan. Banyak kawasan yang akhirnya rusak.

“Seperti di Kawasan CA itu misalnya, sekitar 700 hektare lahannya telah rusak. Sekarang kawasan itu ditutup. Tidak ada aktivitas penambangan lagi,” jelasnya.

Sebelumnya, tim gabungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), bersama Brimob dan Muspida Kabupaten Landak menertibakan aktivitas pertambangan emas di kawasan Cagar Alam Mandor. Dalam operasi itu, petugas berhasil mengeluarkan sekitar 157 mesin dompeng dan 400 orang penambang. (*/selesai)

 

error: Content is protected !!