MICE Tak Dibuka, Hotel-hotel di Pontianak Masih Rugi Besar

MICE : Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalbar Yuliardi Qamal (tengah) mengatakan hotel di Pontianak sangat bergantung dengan kegiatan event.

PONTIANAK – Kendati sudah beroperasi normal dengan menerapkan protokol kesehatan, bisnis perhotelan di Pontianak masih jauh dari kata pulih. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalbar Yuliardi Qamal mengatakan hotel di Pontianak sangat bergantung dengan kegiatan event baik dari pemerintah maupun korporat, serta gelaran pernikahan.

“Sebagai kota jasa dan perdagangan dan pusat pemerintahan, hotel di kita memang bergantung dari adanya event-event. Makanya okupansi tertinggi terjadi di weekday (hari kerja),” ungkapnya, Rabu (24/6).

Namun, kata dia, Pemkot Pontianak belum mengizinkan adanya event dengan peserta ramai. Selain memang karena kondisi Covid-19 yang membuat iklim bisnis secara umum menjadi surut. “Pendapatan terbesar hotel salah satunya dari adanya event itu. Karena kalau hanya menjual kamar tidak akan mampu menutupi operasional. Bahkan andaikata kamar kami penuh 100 persen juga belum nutup,” ungkapnya.

Pihaknya pun mendorong agar pemerintah memberlakukan new normal untuk gelaran meeting, incentive, convention dan exhibition (MICE), dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan pencegahan covid-19. Apalagi banyak orang yang bergerak di bidang ini, seperti event organizer, penyelanggara pesta pernikahan dan tempat hiburan, katering, penyewaan tenda, soundsystem, dan dan lainnya.

Yuliardi juga berpendapat, sektor usaha lain yang belum dibuka seperti tempat hiburan, rekreasi keluarga, bioskop, karaoke, jasa kebugaran, spa dan lainnya dapat segera beroperasi. “Pada Senin lalu (22/6), Pemkot mengundang kami dan sektor usaha lainnya. Untuk membahas penerapan adaptasi kebiasaan baru atau new normal pada sektor hiburan. Semoga dapat segera diterapkan. Agar roda ekonomi dapat bergerak,” imbuhnya.

Soal protokol kesehatan, Yuliardi Qamal menyebut pihaknya selalu memantau kedisiplinan para anggotanya. Menurutnya saat ini seluruh hotel di Pontianak sudah menerapkan aturan protokol Covid-19 dari pemerintah dan panduan asosiasi. Apabila ada anggota yang melanggar maka harus siap menerima sanksi. “PHRI tidak akan membela. Saya siap pasang badan untuk dijalankannya aturan new normal. Kita menginginkan new normal, dan wajib menjalankan protokolnya,” ujarnya.

Masalah setting resepsionis, restoran, kamar, hall, hingga pantry dan lainnya pun disusun sesuai prinsip physical distancing. Semua karyawan wajib mengenakan masker selama berada di dalam hotel. PHRI juga mewajibkan para anggotanya untuk menyiapkan fasilitas sabun cuci tangan, hand sanitizer, alat penanda batas jarak, termometer tembak, dan rutin melakukan penyemprotan disinfektan pada area strategis di dalam hotel. (ars)