Midji-Atbah Saling Tuding Soal Penanganan Covid-19

Gubernur Kalbar, Sutarmidji dan Bupati Sambas, Atbah

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji dan Bupati Sambas, Atbah  Romin Suhaili saling tuding dalam penanganan Covid-19, Selasa (4/5) kemarin. Alih-alih berkonsentrasi memulihkan ekonomi masyarakat yang kian merosot, kedua pejabat ini saling lempar argumen dan bantahan. Pernyataan keduanya pun banyak ditampilkan warganet di media sosial.

Semua bermula dari pernyataan Sutarmidji yang menuding Atbah tak serius menangani Covid-19 di Sambas. Pernyataan Midji  tersebut dilontarkan saat diwawancarai usai mengikuti vicon Rakor Penegakan Disiplin Prokes dan Penanganan Covid-19 yang dipimpin Mendagri RI Tito Karnavian. Saat itu Midji mengingatkan beberapa daerah yang dinilai belum optimal menangani Covid-19, salah satunya Sambas. Midji mengatakan sudah angkat tangan mengingatkan Bupati Sambas.

“Mungkin karena sudah tidak efektif pemerintahan di sana ya. Tinggal satu bulan lagi, mungkin bupatinya. Tapi kan tidak boleh begitu, kasihan masyarakatnya. Jangan bupati sudah habis (jabatan) Juni, lalu sekarang ogah-ogahan. Tidak bisa begitu, tanggung jawab dia itu sampai Juni. Udahlah besar hatilah melaksanakan tugas pemerintahan,” katanya, Senin (3/5).

Pernyataan Midji sontak memancing reaksi Bupati Sambas. Atbah Romin Suhaili membantah dirinya ogah-ogahan menangani pandemi Covid-19. Menurutnya, selama ini Pemkab Sambas sangat serius dalam upaya mengatasi wabah corona. Langkah nyata itu terbukti dengan keterlibatan TNI/ Polri yang hingga saat ini terus dilakukan dalam upaya pencegahan penyebaran covid 19 di Sambas, termasuk menjaga pintu perbatasan antarnegara.

“Sambas yang paling serius menangani Covid 19, apalagi di perbatasan antarnegara, terhadap PMI (pekerja migran Indonesia) yang melintas di PLBN Aruk. Sutarmidji sembarangan bicaranya tanpa data dan tanpa klarifikasi,” katanya.

Disampaikan Atbah, apa yang dilontarkan Sutarmidji sepertinya sudah menjadi kebiasaannya. Atbah menilai Midji senang menyalahkan orang, dan suka menyakiti hati orang lain. “Ngomongnya kasar dan congkak bahkan menggunakan kata buruk dan tidak pantas,” kata Atbah.

Seharusnya, lanjut Atbah, Sutarmidji bersabar untuk memberikan arahan dan petunjuk dengan cara yang  baik dan santun. “Sutarmidji itu, memang tidak bisa menjaga lidahnya, walaupun sedang puasa, ghibah orang. Saya usul agar dia menyibukkan diri dengan membaca Alquran saja,” katanya.

Masih disampaikan Atbah, Sutarmidji terbiasa mempermalukan orang lain di depan umum, menggunakan kata-kata kasar, sungguh suatu perilaku yang tidak perlu dibiasakan oleh siapapun. “Sutarmidji terbiasa menghina dan merendahkan orang di depan umum. Menurut saya, perilaku Sutarmidji seperti itu, cocoknya jadi penguasa, sangat tidak pantas jadi pemimpin,” katanya.

Menanggapi reaksi Atbah tersebut, Sutarmidji pun kembali memberikan pernyataan. Selaku Ketua Satgas Penanganan Covid-19 tingkat provinsi, Midji memastikan apa yang disampaikannya bahwa Sambas dinilai tak serius menangani Covid-19 benar adanya. Jika memang Pemkab Sambas serius melaksanakan tracing dan testing, ia lantas menantang Bupati Sambas menunjukkan data pengiriman sampel tes usap (swab) ke provinsi.

“Indikator tidak serius adalah kirim sampel swab (tes usap PCR) hampir tak pernah rutin. Biasanya yang sudah di rumah sakit (baru dikirim),” katanya kepada Pontianak Post, Selasa (4/5).

Midji sapaan akrabnya mengatakan ia hanya menjalankan tugas sesuai arahan Presiden dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Selaku gubernur yang mewakili pemerintah pusat di daerah, menurutnya, boleh saja ia menegur kepala daerah kabupaten/kota. Dan ia hanya menegur secara terbuka ketika sudah pernah diingatkan namun tetap lalai.

“Saya baru tegur terbuka jika sudah diingatkan tetap lalai. Pak Bupati (Sambas) tunjukkan bukti kalau kirim sampel swab (tes usap) yang memadai. Kalau mau bantah, saya minta datanya,” pungkasnya. (bar)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!