Midji Sampaikan Tiga Poin Pencegahan Karhutla

EVALUASI : Kepala BNPB RI Doni Monardo saat menghadiri rapat evaluasi penanganan Karhutla Provinsi Kalbar tahun 2019 di Balai Petitih Kantor Gubernur, Senin (2/12). HUMPRO KALBAR FOR PONTIANAK POST

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji menyampaikan tiga poin penting saat rapat evaluasi penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Kalbar tahun 2019, Senin (2/12).

Tiga hal tersebut yakni terkait kelembaban atau persediaan air di permukaan lahan pertanian dan perkebunan, desa mandiri, dan penertiban atau evaluasi lahan-lahan konsesi yang belum dimanfaatkan.

Mengenai kelembaban atau persedian air di permukaan lahan pertanian dan perkebunan, ia menilai perlu pengkajian yang lebih dalam. Hal ini bisa ditindaklanjuti oleh para akademisi.

Untuk lahan pertanian khususnya padi, kata dia, perlu sekitar 10-20 sentimeter permukaan air terendah. Sementara untuk perkebunan seperti sawit, diperlukan 75 sentimeter permukaan air terendah.

“Kalau 75 sentimeter, rawan kebakaran. Makanya tidak boleh dekat lahan pertanian dan perkebunan. Ini harus dikaji ahli,” sarannya di hadapan forum yang dihadiri Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI Doni Monardo itu.

Lalu yang kedua, penyelesaian masalah karhutla dinilai bisa dilakukan lewat program desa mandiri. Jika desa telah berhasil mencapai status desa mandiri maka kemungkinan terjadinya karhutla di desa tersebut sangat rendah. “Dari 52 indikator desa mandiri, lingkungan masuk di situ. Termasuk penanaman pohon dan penanggulangan bencana. Kalau desa mandiri, bencana akan kurang,” katanya.

Namun demikian, ia menyayangkan alokasi dana desa dari pemerintah pusat justru dikurangi jika status desa sudah mandiri. Seharusnya, kebijakan sebaliknya yang diberlakukan di mana desa mandiri mendapat alokasi yang lebih besar. Dengan demikian, para aparatur di desa bakal berlomba-lomba mewujudkan desanya agar mandiri.

Belum lagi alokasi dana desa juga dinilai tidak jelas pemanfaatannya. Jika hanya Rp1 miliar per tahun, diperkirakan butuh waktu puluhan tahun bagi suatu desa untuk menjadi desa mandiri. Sebab untuk memenuhi 52 indikator yang ada, kira-kira butuh dana sekitar Rp20-30 miliar.

“Dana desa hanya untuk 17 indikator, 15 indikator kabupaten, sisanya provinsi, sehingga bisa cepat. Ketika desa sudah berubah (mandiri) gampang (pencegahan karhutla),” paparnya.

Lalu poin yang ketiga menurutnya adalah harus dilakukan penertiban lahan konsesi. Terbukti banyak perusahaan yang menguasai konsesi namun tidak semua lahannya dimanfaatkan. Midji mencontohkan ada satu perusahaan yang menguasai satu juta hektare, tetapi hanya satu persen saja yang ditanami.

“Sisanya tidak digunakan, malah menunggu mau jual lahannya ke investor lain. Harus dievaluasi itu, bupati yang sudah mengeluarkan izin, lahan yang tidak digunakan bisa dicabut izinnya,” terang dia.

Dari tiga hal tersebut, jika dilaksanakan dengan baik, ia yakin masalah karhutla ke depan bisa teratasi. Sementara untuk tahun ini, ia menyebut sudah ada 157 perusahaan yang dapat peringatan dan 53 di antaranya disegel.

“Nanti (yang disegel) tidak boleh digunakan, kami juga mau siapkan perda, pemilik konsesi bertanggung jawab atas lahan yang terbakar. Biaya pemadaman harus ditanggung perusahaan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala BNPB RI Doni Monardo mengungkapkan, pihaknya selalu mendorong agar pemerintah daerah mengutamakan upaya pencegahan. Pencegahan dinilai akan lebih baik dari pada penanggulangan.

“Kebakaran sudah menjadi peristiwa rutin harusnya tidak boleh terjadi lagi,” ucapnya.

Mengingat penyebab karhutla 99 persen adalah ulah manusia maka upaya pencegahan dipandang penting dilakukan. Kerugian akibat karhutla sangat luar biasa. Bahkan untuk penanggulangan selama 2019, BNPB sudah menghabiskan anggaran sekitar Rp3 triliun. “Saya setuju langkah yang diambil gubernur, 157 perusahaan dapat peringatan,” katanya.(bar)

Read Previous

Alumni Santu Petrus Pontianak, Bawa Indonesia Raih Perak

Read Next

Sidang Gugatan dr Ismawan Melawan Pemkab Kapuas Hulu

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *