Midji Selalu Tegas, Harisson Tak Kenal Libur

Sutarmidji dan Harisson

Cerita Gubernur dan Kadis Kesehatan Kalbar Tangani Covid-19

Sejak Maret lalu, ketika kali pertama kasus positif Covid-19 diumumkan di Kalbar, fokus pemerintah daerah tertuju penanganan pandemi ini. Bagaimana cerita Gubernur Sutarmidji dan Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harisson berjibaku melawan Covid-19?

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Orang nomor satu di Kalbar itu memastikan tidak akan pernah kendur menjaga daerah khususnya Kalbar agar kasus Covid-19 yang terjadi tetap terkendali. Menurutnya tantangan terberat dalam penanganan adalah ketika ada sebagian orang yang tidak percaya adanya Covid-19.

Mereka yang tidak percaya otomatis akan bersikap acuh dan tidak hati-hati, dampak dari sikap tersebut kemudian justru merugikan orang lain yang bisa terular dari mereka yang tidak percaya dan terpapar Covid-19. “Nah boleh saja orang tidak percaya itu hak orang, tapi dia bisa mencelakakan orang lain,” ungkapnya kepada Pontianak Post belum lama ini.

Untuk itu perlu ketegasan dan ia sebagai pimpinan daerah tetap konsisten berjuang agar bagaimana pandemi Covid-19 bisa terkendali. Maka dari itu ketika ada yang marah kepadanya soal penanganan Covid-19, Midji sapaan akrabnya tidak peduli. Asal ia bisa menjaga kasus Covid-19 di Kalbar tetap rendah dan tidak kewalahan dalam penanganan.

“Ditegur pusat seperti misalnya kami melarang pesawat terbang ke sini, kemudian kami melarang PMI (Pekerja Migran Indonesia) bermasalah dikembalikan lewat Kalbar, itu semuanya kami berhadapan dengan pemerintah pusat tapi saya tidak peduli,” ujarnya.

Asal demi keselamatan masyarakat Kalbar, Midji berani menentang kebijakan pemerintah pusat. Alasannya menurut dia, kebijakan dari pemerintah pusat yang dipandang bisa merepotkan penanganan Covid-19 di daerah tidak perlu semuanya diikuti.

Ia mencontohkan soal pelarangan pesawat rute tertentu masuk ke Kalbar karena ditemukan membawa penumpang reaktif Rapid Test yang kemudian belakangan dinyatakan positif tes swab RT-PCR. Pelarangan itu diakuinya memang menjadi kewenangan Dirjen Perhubungan Udara, Kemenhub. Tapi ia juga mempertanyakan soal kewajiban Dirjen Perhubungan Udara yang tidak dijalankan dengan baik.

“Kan sudah jelas penumpang yang berpergian harus Rapid Test (syarat terbang), nah mengapa ada (penumpang) yang positif (Covid-19). Nah harusnya dia (Dirjen) koreksi bahwa KKP di bandara yang memberangkatkan tidak beres,” terangnya.

Kunci dari penanganan Covid-19 di provinsi ini menurutnya harus tegas. Dan ia bersyukur selalu didukung oleh unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah mulai dari Kapolda Kalbar, Pangdam XII Tanjungpura, selain TNI Polri juga banyak pihak lainnya. Midji berharap kepala daerah di masing-masing kabupaten/kota juga bisa melakukan hal yang sama.

Sejak awal perhatian gubernur terhadap pandemi Covid-19 memang sangat besar. Hampir 24 jam ia selalu siaga berkoordinasi bersama banyak pihak dalam penanganan. Jika ada kepala daerah yang marah kepadanya karena ditegur atau lain sebagainya, Midji merasa itu sudah menjadi risiko yang tak bisa dihindari. “Saya selalu pantau, saya tunggu hasil tes RT-PCR itu. Kemudian saya selalu tanya satu-satu kondisi pasien dengan Kepala Dinas Kesehatan (Kalbar),” ucapnya.

Terpisah Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson juga berbagi kisah suka duka selama penanganan Covid-19 yang berjalan sudah sekitar enam bulan di daerah ini. Dari awal sampai saat ini yang menurutnya berubah adalah soal jam kerja. Upaya penanganan Covid-19 sehari-hari terus dilakukan, bahkan waktunya bisa dari subuh hingga tengah malam. “Dan tidak mengenal hari libur kami harus terus melaksanakan tugas di kantor maupun di lapangan,” ceritanya.

Seperti turun langsung melihat kejadian di masyarakat, saat misalnya di awal-awal dulu ada warga yang meninggal akibat Covid-19. Serta ada kejadian-kejadian lain, seperti pasien di RS yang mungkin ada masalah dan harus ditangani secara langsung. Dari semua itu Harisson mengaku sangat terbantu dengan sosok gubernur yang juga konsen ikut menangani bersama.

Dari semua upaya yang dilakukan, satu hal yang membuatnya sedih adalah ketika ada pasien yang tidak jujur. Ada kasus ketika seseorang berobat tapi tidak menceritakan hal yang sebenarnya seperti riwayat perjalanan dan lain sebagainya, ternyata orang tersebut positif dan membuat petugas kesehatan yang menanganinya tertular.

Bahkan ada warga yang positif justru tidak mau ditangani dan marah-marah ke petugas kesehatan. “Dia tidak mau diisolasi, masih keluar rumah, kemudian dia menularkan ke orang lain, itu sedih. Sedihnya kok dia bisa menolak dan menularkan ke orang lain, artinya membahayakan orang lain,” terangnya.

Kemudian kejadain baru-baru ini, ketika ada penumpang pesawat yang positif Covid-19 dan kabur. Mau tidak  mau ia sendiri dibantu kepala dinas kesehatan kabupaten/kota serta pihak TNI Polri harus mengejarnya sampai ketemu. “Saya dengan Pak Handanu (Kadis Kesehatan Pontianak) itu sampai jam 01.00 malam, jam 02.00 malam baru pulang ke rumah mencari (pasien yang kabur) di Polsek Pontianak Timur,” ceritanya. (*)

error: Content is protected !!